A password will be e-mailed to you.

Sudah genap setahun saya menjalani jenis pekerjaan setengah gaib. Ada kesibukan tapi tidak punya kantor ataupun tempat kerja tetap. Milenial menyebutnya freelance. Untuk menjalani tipe pekerjaan ini, saya tidak punya alasan ideologis, bukan pula gagasan ala generasi Y untuk meraih kebebasan. Tidak. Tidak ada alasan bagi saya menjadi freelancer selain kepepet belaka.

Menjadi pegawai kantoran adalah keingingan Ibu saya, maka demi bakti pada beliau saya berusaha mencapainya. Puluhan lamaran kerja terlampir kopi ijazah strata satu yang saya kantongi telah terkirim ke bagian penerimaan pegawai pada banyak perusahaan. Pun setiap acara bursa kerja yang ada di Jogja tak luput saya masuki satu demi satu sambil terus berharap ada panggilan.

 

Konsultasi

Tiga bulan berlalu setelah wisuda, cuma ada beberapa panggilan psikotes. Dari semua seleksi hanya satu kesempatan sampai tahap wawancara, dan ya, gagal. Hingga pada akhirnya saya hampir putus asa untuk mendapatkan pekerjaan kantoran. Kemudian pacar saya menyarankan agar menemui seniornya yang mantan pegawai pada perusahaan konsultan HRD ternama.

Senior pacar saya ini namanya Winata, panggilannya Win. Setelah kontak-kontakan, kami janjian untuk ketemu di sebuah cafe nge-hits di daerah Nologaten. Sebelum itu, saya diminta untuk mengirim curriculum vitae lewat email.

Pertemuan sore itu diwarnai ngobrol tentang banyak hal meskipun pembahasannya biasa saja. Sampai ketika saya tersinggung oleh kalimatnya.

“Perlunya kita bikin lamaran itu agar dapat diterima kerja, bukan untuk show-off.”

Disodorkan pada saya contoh curriculum vitae yang dieditnya itu sambil memutar obrolan ke topik lain karena mungkin merasakan raut muka saya berubah masam.

“Lain kali, saranku, bikin yang tipenya seperti ini,” katanya sembari nyeruput minuman cokelat panas dan mengelus perut gendutnya.

Sungguh pemandangan yang menyebalkan.

Curriculum vitae bikinan saya dirombak habis-habisan olehnya. Rasa tersinggung di dada mereda, sebab dia begitu membantu dengan serius di tengah kesibukan bisnisnya. Semua itu dilakukannya cuma-cuma sebagai konsultan, padahal kami kenal belum lama. Baru kemudian saya sadari, banyak pengalaman yang saya cantumkan tidak sejalan dengan peran pada lowongan pekerjaan. Ternyata itu yang dimaksudnya sebagai show-off.

Sebelum pamit karena ada panggilan dari istrinya, mas Win berpesan.

“Kalo kamu belum dapet panggilan sampai sebelas bulan ke depan, kita bikin mainan aja, bisnis kecil-kecilan. Tapi sementara sambil ndaftar lowongan, coba sambil freelance. Saya juga seperti itu kok dulu, cuma gak selama itu.”

“Oke Mas.”

Saya berpikir apa sebenarnya yang dimaksud freelance. Jangan-jangan itu nama keren untuk pengangguran.

Rutinitas mengirim lamaran kembali saya jalani. Tapi lain hal dengan mas Win, sebagaimana namanya yang selalu menang, nasib menggiring klien gratisannya ini pada gerbang kekalahan. Bahkan semangat yang lebih tinggi tidak menolong dari penolakan. Padahal curiculum vitae yang baru lebih baik, lha wong sudah dikonsultasikan.

Alih-alih mendapat panggilan dari perusahaan bonafit, bahkan sebuah perusahaan kecil di Jalan Kaliurang yang bergerak pada distribusi rangka baja menolak lamaran yang saya bikin.

Rutinitas semacam itu saya hentikan setelah Ibu mulai sumeleh. Mungkin Ibu kasihan juga melihat anaknya tak kunjung dapat pekerjaan seperti orang berpendidikan pada umumnya. Apalagi ditambah kabar anaknya gagal lolos tes pendaftaran PNS sebuah kementrian. Pada momen itu Ibu menjadi lebih rela anaknya terlihat menganggur.

Bulan demi bulan berlalu dan saya telah melupakan harapan mendapat pekerjaan formal. Waktu saya isi dengan tetap berkegiatan seperti mencari proyek, merapikan dokumentasi komunitas belajar yang saya ikuti, dan tentu saja, nongkrong. Sementara untuk menyambung hidup, terkadang saya menjadi driver ojek online.

 

Memulai Lagi

Dua bulan belakangan saya mulai resah karena proyek atau bahkan pekerjaan ringan tak kunjung datang. Pada situasi semacam itu saya berpikir untuk mendaftar lagi ke perusahaan formal. Sebab, kiranya tak cukup hanya bersandar pada ketidakpastian pendapatan untuk memenuhi pengeluaran yang juga tak pasti.

Dengan sigap saya kirimkan lamaran ke banyak lowongan yang sejalan dengan latar belakang pendidikan. Sekira sebulan setelahnya, ada panggilan wawancara dari sebuah perusahaan penjual kendaraan yang cukup bonafit. Posisi yang saya lamar adalah management trainee pengembangan organisasional.

Sore di sebuah hotel bintang tiga daerah Malioboro, wawancara dilangsungkan. Perasaan saya biasa saja sampai kemudian menyadari kebanyakan pelamar perusahaan ini selisih tiga atau empat angkatan di bawah saya. Saya memang cukup telat lulus kuliah, dan fakta itu membuat tingkat kepercayaan diri untuk diterima semakin rendah.

Waktu wawancara tiba dan saya mendapat kesempatan terakhir sebab diurutkan abjad. Saya memasuki ruangan yang hanya berisi meja serta dua kursi yang posisinya saling berhadapan. AC-nya begitu dingin.

 

Memperbandingkan Diri

Wawancara berlangsung lancar sampai pada pertanyaan yang membuat grogi.

“Tolong ceritakan pada kami apa yang anda capai belakangan, karena pada resume anda ini tidak tercantum pengalaman apa-apa selama setahun,” ibu-ibu pewawancara sinis.

Dengan satu tarikan nafas berat pertanyaan itu kujawab.

“Jika ibu berkenan, saya dapat menceritakan secara mendetail apa saja yang saya lakukan. Namun secara umum orang-orang menyebut apa yang saya kerjakan sebagai freelance. Memang, Bu, sengaja tidak ditampilkan. Karena menurut saya itu bukan pengalaman kerja yang menarik minat perusahaan seperti ini.”

“Lho anda ini bagaimana? Kok malah nglokro. Memangnya ada pekerjaan yang lebih menarik dari yang lain? Memangnya ada, pekerjaan kantoran lebih mulia dari petani yang menggarap sawah?” sahut ibu itu dengan logat Jawa dengan penekanan ke-Jakarta-Jakarta-an.

“Memang menurut saya seperti itu Bu,” saya mulai tidak berminat melanjutkan wawancara.

“Oke, saya sebagai interviewer mungkin tidak akan meloloskan anda ke tahap selanjutnya. Tapi, begini, saya pingin mengulik pernyataan anda tadi. Kebetulan ini interview terakhir hari ini, jadi agak santai lah ya. Bagaimana?”

“Baik Bu, jika itu tidak merepotkan. Jadi saya tidak diterima kan ini Bu?”

“Mohon maaf. Untuk kali ini belum. Tidak apa-apa kan?”

“Iya Bu, sudah biasa kok ditolak perusahaan.”

Sial betul. Meskipun jawaban itu berangkat dari hati kecewa yang dicerminkan oleh wajah kecut, tapi ibu-ibu ini tidak goyah. Belau tetap tenang dan cuek saja. Dalam hati saya berharap bahwa ada sedikit empati dengan sikap basa-basi laiknya yang biasa dilakukan orang.

“Silahkan sambil diminum, ini seadanya ya.”

“Ah, malah merepotkan, Ibu,” terlontar respon khas agraris.

“Saya ini simpati sama anda. Kemarin ada anak freshgrade yang omongnya besar. Usianya selisih empat tahun dari anda kalo dilihat dari tahun lahir. Memang secara pribadi saya tidak suka dengan pembawaanya, tapi profesionalisme membuat saya harus berlaku proporsional. Saya lihat-lihat, kok omongannya tak sesuai dengan resume-nya yang gitu-gitu saja.”

“Apa hubunganya dengan saya Bu?” saya potong kalimatnya.

“Anda tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain, kan?”

“Benar Bu. Kan tidak ada orang yang suka kalo dibanding-bandingkan.”

“Nah, ini dia. Anda tidak suka dibanding-bandingkan, tapi suka membandingkan diri dengan orang lain. Sikap manusia memang ironi.”

“Bagaimana maksud ibu?”

“Kan sudah jelas, kan. Kita ini suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Tapi giliran ada yang membandingkan diri kita dengan orang lain, biasanya kita tidak suka. Apalagi yang dibandingkan lebih unggul dari kita, makin lah kita sebal.”

“Benar sih, Bu.”

“Apa iya kita hanya terus menyemangati diri dengan melihat orang yang lebih hebat, lebih unggul, lebih berhasil? Kan itu namanya motivasi yang rapuh.”

“Lalu apakah kecenderungan kita yang suka memperbandingkan itu bisa hilang, Bu?”

“Sepertinya tidak, Mas. Mungkin dikurangi bisa. Soalnya dari kecil kita diajari untuk bercita-cita setinggi langit tapi tidak diajarkan untuk melihat diri sendiri, potensi diri, dan posisi diri. Jadinya semua orang ingin menjadi seperti orang lain sejak kanak-kanak.”

Saya tidak sempat merespon karena mencerna setiap kalimat beliau.

“Ajaran religi juga mengajarkan untuk melihat yang lebih sengsara agar senantiasa bersyukur. Pemahaman atas ajaran ini memicu orang untuk membanding-mbandingkan diri.”

“Bukannya itu baik Bu. Mengajarkan orang untuk bersyukur.”

“Betul Mas. Saya tidak katakan ajaran tersebut salah. Semua ajaran religi baik. Tapi coba diteliti lagi, bisakah kita hanya membandingkan diri dengan yang lebih rendah? Kan tidak. Hampir pasti kita akan mencari pembanding yang lebih tinggi meskipun berangkat dari ajaran mulia itu.”

“Saya mulai menangkap maksudnya, Bu.”

“Dunia ini penuh dualitas, Mas. Sebaiknya kita tidak terjebak pada salah satunya. Kapan akan menjaga motivasi tetap ada jika sumbernya dari orang lain? Kapan kita dapat selalu bersyukur jika terus memperbandingkan diri dengan orang? Kapan kita bisa melihat sesuatu apa adanya jika pandangan kita melulu tentang benar-salah, baik-buruk, tinggi-rendah, dan seterusnya?”

 

Hidup di Saat Ini

Saya makin terdiam dengan hati menggerutu sebab AC ruangan ini terlalu dingin dan kering untuk kulit saya yang terbiasa bersentuhan dengan hawa panas dan lembabnya daerah persawahan.

“Cukuplah kita untuk menghidupi hari demi hari, momen demi momen, serta menjadi semakin hidup sebagaimana adanya. Memang mudah dikatakan, tapi tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Kuncinya adalah menjadi diri sendiri. Mas, saya lihat anda sudah bosan. Kebetulan masih banyak berkas yang harus saya rapikan. Ini kartu nama saya, lain kali kalau ada kesempatan kita dapat berbincang-bincang.”

“Baik Bu. Terimakasih sekali. Saya pamit dulu.”

“Iya, Mas. Sama-sama. Itu badannya dikecilin dikit. Banyak-banyak olah raga.” Senyuman manis lumer di wajahnya.

Di luar ruangan, lorong hotel gelap karena pegawainya mungkin lupa menyalakan lampu. Karena tak sempat minum sebelum wawancara ini, saya sangat kehausan.

Pintu yang berada di ujung lorong hotel ini tersembul cahaya terang. Saya bergegas keluar untuk mencari air minum kemasan di toko seberang. Sambil berjalan keluar melalui lorong, saya ambil kartu nama tadi dari kantong baju. Tertulis sebuah nama tanpa gelar, Ariana Kartika.

Sontak saya terbangun. Itu nama adik saya yang meninggal saat masih kecil. Keringat membasahi kening. Ternyata saya ketiduran di ruang istirahat kantornya teman. Pantas saja. Dalam hati saya mengeluh.

“Huh! mana ada pegawai HRD perusahaan yang memahami manusia sebagai manusia.”

***

Facebook Comments