A password will be e-mailed to you.

“Bayiku tidak akan pernah berpikir bahwa Harimau itu jahat. Bayiku menarik-narik kumis dan memukul-mukul mulut Harimau. Harimau malah membelikan bayiku mainan. Bayiku menjadi bayi Harimau: Bayi Harimau Anak Petani. Seperti Sanca melilit Kerbau dia ada di gorong-gorong kota. Lantas, apa agamanya?”

Cikal

Annisa Cikal Rambu Basae lahir bulan Januari, sama dengan kakak dan adiknya, Galang dan Raya. Ia adalah putri dari Virgiawan Listanto, atau yang lebih kita kenal sebagaia “Iwan Fals”. Waktu kecil, Mbak Cikal menggambar kehidupan petani di buku tulis Om Iwan. Berawal dari dialog Om Iwan dan putrinya tentang petani yang ia gambar, terciptalah ide untuk menulis Cikal, lagu kedua untuk putrinya setelah Annisa.

Ketika pertama kali mendengar kisah Mbak Cikal dalam lagu Om Iwan, saya protes karena bingung. “Lagu apa sih ini? Nggak jelas, kerbau, ular, tikus haha!” Maklum, saya masih kecil dan “karya sastra” yang pernah dibaca hanya komik Darah Satria atau majalah Bobo.

Ayah saya yang OI sejak masih menjadi basis di band kampus menentang, “Itu filosofi. ‘Kerbau di kepalaku suci, kerbau di kepalamu senang bekerja,’ Iwan Fals lagi menjelaskan bahwa isi pikiran kanak-kanak lebih indah dari orang dewasa”.

Saya, lulusan SD umur 12 tahun, hanya mengerti bahwa keindahan adalah lukisan pemandangan yang diwarnai dengan rapi. Keindahan adalah ibu guru saya yang cantik dan gedung Gereja yang baru selesai dibangun. Apa indahnya isi pikiran? Jadi, Cikal tetap terdengar aneh bagi saya, apalagi ditambah dengan kata “filosofi” yang membuat saya makin bingung.

Mendengarkan Cikal dan Cendil

Semakin dewasa, saya mulai mengerti perkataan ayah saya. Entah karena terus mendengarkan Cikal sebagai lagu favorit saya, atau karena semakin banyak bertapa bersama ularnya Mbak Cikal, saya perlahan paham bahwa pikiran kanak-kanak memang “murni dan kosong” seperti kata Om Iwan dalam lagunya.

Sepupu saya, Cendil, adalah contoh kemurnian dan kekosongan yang paling dekat dengan saya. Ia adalah tempat saya belajar mengenai kekanak-kanakan dan apa yang diperlukan untuk momong dan ngudang anak.

Setiap datang ke Jogja, ia sangat nempel dengan saya kemanapun saya pergi. Ketika hampir pulang, ia akan makin sering meminta saya mengudangnya atau menemani jalan-jalan. Kalau saya menolak karena lelah, ia akan terus merengek. Padahal mungkin ia juga lelah karena berlarian menghindari tangkapan saya. Dalam perjalanan ke stasiun, ia terlihat sangat gembira, tetapi setelah kereta berangkat, Bulik saya langsung menelepon saya: “Raisa nangis, Tong Ci juga haha”.

Saya selalu gagal menafsirkan isi pikiran dan perasaan adik saya itu. Apakah benar ia sengaja pura-pura girang supaya saya tidak ikut sedih atas kepulangannya? Dan apa pula yang membuat ia menangis ketika pulang meninggalkan saya? Apapun jawabannya, saya merasa tersentuh, seperti ketika ia pertama kali tidur dalam kudangan saya.

Om Iwan dalam lagunya juga tidak berusaha menjelaskan keluguan Mbak Cikal. Ia hanya menggunakan kalimat-kalimat Mbak Cikal ketika menceritakan kehidupan petani itu. Maka dari itu, liriknya memang sedikit lucu dan menggelikan. Tetapi tetap indah.

“Walau kerbauku bukan harimau, tetapi ia bisa seperti harimau. Kerbauku tetap kerbau: kerbau petani yang senang bekerja. Sancaku melilitnya, kerbauku tidak terganggu karena sancaku dan kerbau temannya Petani.”

Kita, orang dewasa, sering kebingungan ketika harus memahami perkataan dan tingkah anak kecil. Seperti Om Iwan yang menyanyikan cerita lucu putri kecilnya tanpa menambah komentar/interpretasi apapun, yang bisa kita lakukan hanya memahami bahwa di dalam pikiran kanak-kanak, apa yang ia katakan/lakukan memang perlu dikatakan dan dilakukan. Dan memang barangkali, arti murni dan kosong adalah tidak memiliki maksud sama sekali, baik ataupun buruk.

Ayah saya mungkin mengalami hal yang sama ketika menemani saya tumbuh. Ketika saya naik ke altar Gereja untuk duduk di pangkuan Romo, apakah perlu menanyakan alasan saya melakukan hal itu? Bagi ayah saya, lebih penting menyepakati dan tidak menentang keluguan saya, kemudian kalau memang tidak boleh, ya, diajak turun dari altar.

Pikiran Matang yang Penuh Pertimbangan

Hal inilah yang hilang ketika manusia beranjak dewasa: suatu pikiran dan perasaan tidak hadir sendiri, tetapi ada banyak hal lain yang membuat kita mempertimbangkan suatu keputusan. “Aduh, dia tidak suka perokok, bagaimana ya.” “Kalau sekarang saya santai begini, besok saya bisa makan apa?” “Jangan-jangan bapak menyusul, saya harus segera memberi kabar atau pulang!”

Kemampuan menimbang baik dan buruk suatu keputusan, di samping memungkinkan kita mengambil keputusan terbaik, juga membuat resah dan tidak tenang. Alasan untuk memimpikan sesuatu menjadi sangat terhambat dengan alasan untuk menuruti norma-norma, ekspektasi orang, birokrasi, SOP di tempat kerja, dan sebagainya. Tanpa adanya tingkah petakilan dan ngawur untuk mengimbangi kerumitan pikiran dan perasaan kita sekarang, yang lebih sering dilakukan ketika kesulitan mengikuti aturan-aturan tadi adalah sambat.

Mungkin inilah akibat yang disebutkan Tuhan dalam Injil ketika melarang laki-laki dan perempuan pertama untuk makan Buah Pengetahuan yang Baik dan Buruk. “Mati” yang disebutkan Tuhan sebagai akibat itu, adalah setidaknya mengerti bahwa manusia akan mati dan dapat dibenci, sengsara, dan gagal dalam berbagai hal. Apalagi kalau kata Mbah Emha Ainun Najib, lelaki dan perempuan itu, Adam dan Hawa, belum siap secara spiritual.

Suwung, titik puncak perjalanan rohani manusia dalam filosofi Jawa, tidak lagi relevan dengan kehidupan dewasa yang penuh persaingan, kesibukan mencari kenikmatan, dan pencapaian-pencapaian yang ditakutkan gagal karena kecakapan mempertimbangkan sesuatu, termasuk aturan yang ada. Suwung, justru, menurut saya adalah awal keberangkatan hati manusia, yaitu kekanak-kanakan yang murni dan kosong seperti kehidupan kerbau dan sanca dalam cerita Mbak Cikal.

Merindukan Cikal dan Cendil

Andai saja Cendil tahu, saya merindukannya di tengah hidup perkuliahan. Dan semisal Cendil menangis karena takut kehilangan saya, justru saya yang takut kehilangannya! Kelak ia tumbuh menjadi seorang remaja: permintaan untuk dikudang, tawa tanpa alasan, dan pertanyaan-pertanyaan konyol tentang hewan dan tumbuhan juga hilang. Bahkan,permainan kesukaannya, “Sembunyikan Batu,” kelak akan terasa aneh baginya.

Om Iwan juga barangkali merindukan cerita-cerita lucu Mbak Cikal, yang sekarang sudah bekerja menjadi managernya. Terakhir, ayah saya, yang mungkin di usianya kini sudah semakin bijak dan penuh pertimbangan. Ia merindukan saya, putranya, yang dengan lugu menanyakan hal-hal tidak krusial atau pun kritis, tetapi memenuhi obrolan kami. Obrolan yang sekarang mulai hilang karena saya juga semakin bijak dan penuh pertimbangan.

Facebook Comments