A password will be e-mailed to you.

Sebuah pulau. Serentetan angin berhembus. Matahari terbit di pagi hari. Ombak bergemuruh dengan oktaf sedikit lebih tinggi dari suara komposer Amerika Tim Storms. Orang-orang berambut gondrong senewen meminum berbotol-botol Mansion House Whiskey di pinggir pantai.

Ketika suara sumbang paman menyeruak keluar dari ToA masjid untuk memanggil orang-orang buat salat magrib, nun jauh di sana, pesta harian itu sudah dimulai. Saya, karena alasan-alasan tertentu, jarang melangkahkan kaki ke masjid.

Kekasih saya sedang berada di tempat yang jauh, dan tidak ada satu pun masjid di sana. Setiap hari, kegelisahannya terhadap masa depan dan tubuh yang ideal terlampau dimanjakan oleh ombak dan pasir yang membuat kakinya basah dan matahari keemasan yang memberinya pemandangan surreal. Lantaran lanskap dan kemurnian alam semacam itu, pandangannya terhadap hidup menjadi begitu ramping dan atletis, dan ia jadi dewasa sebelum waktunya.

Suatu malam, sewaktu saya mengajaknya minum di sebuah kedai yang hanya berjarak beberapa puluh langkah kaki dari indekosnya, di hadapan saya ia memaguti bibirnya sendiri. Gelembung-gelembung air berwarna cokelat membasahi bagian atas bibirnya yang tidak terlalu merah. Menatap sorot matanya yang tajam dan gestur tubuhnya yang tetap bisa efektif dalam keadaan-keadaan genting, saya mengira, tak ada hal lain yang lebih patut dirayakan dalam hidup kecuali cinta.

Meskipun bukan wartawan senior dan kritikus musik terhormat, saya merasa mirip dengan tokoh utama Memories of My Melancholy Whores karya Gabriel García Márquez: gila karena cinta. Sementara kekasih saya, dalam beberapa titik juga sama dengan Delgadina, kekasih sang tokoh utama yang bekerja di bisnis bersejarah milik Rosa Cabarcas: dengan kecenderungan sifat kanak-kanak yang tak punya malu, saya terpaksa mengakui kalau ia memanglah “Sagitarius yang Sempurna”.

Profesor Camacho, nama tokoh utama itu, adalah seorang lelaki dengan usia berkepala sembilan yang hidupnya begitu kosong. Sehari-hari, ia hanya menimbun diri dengan buku-buku klasik, menyeduh kopinya sendiri di pagi hari, dan rutin mengisi kolom mingguan di harian El Diario de La Paz dengan honorarium tak seberapa. Ia menjalani hari-harinya yang gelap dan penuh kebosanan. Dan sejak melajang selama hampir sembilan puluh tahun, Delgadina adalah cinta pertamanya.

Delgadina adalah perempuan belia yang dipekerjakan Rosa di rumah bordil Black Eufemia-nya yang legendaris. Setelah Camacho meniduri ratusan pelacur dari tempat bordil itu, Delgadina menjadi satu-satunya pelacur (dan wanita) yang berhasil membikin Camacho berniat menggunakan penisnya atas nama cinta. Padahal, tulis Gabo dalam novel menjelaskan perangai si laki-laki, “…ia miskin dan tanpa cinta, walau cinta bukan obsesinya”.

Alur novel berjalan dengan lambat, menyibukkan diri dengan nasihat tipikal bahwa cinta selalu menempatkan seseorang pada kesadaran spiritual tertentu, dan—dalam beberapa titik—agak membosankan. Gabo bercerita dengan banyak kalimat yang harus selesai dibaca dalam satu helaan napas yang panjang. Dan saya merasa beruntung karena masih bisa menikmatinya.

Di novel itu, dalam satu kalimat panjang Gabo menulis “…bahwa kekuatan tak terkalahkan yang telah menggerakkan dunia ini adalah cinta yang tak terbalas, bukan cinta yang bahagia.”

“Cinta yang tak terbalas”, adalah gambaran tujuan hidup yang seringkali terlampau imajinatif dan jauh dari angan-angan kita: dalam novel, ia, tak lain dan tak bukan, adalah Delgadina. Gambaran itu muncul setelah dalam beberapa subbab sebelumnya, secara berulang-ulang dalam metafora yang variatif, Gabo mengungkapkan betapa Delgadina adalah wanita (dan pelacur) yang sempurna belaka.

Delgadina punya ketajaman mata seekor kucing dan ketenangan personal yang membuatnya tampak sulit digapai. Sampai kalimat terakhir novel selesai, Camacho terlalu lembek untuk menghadapi ketajaman dan ketenangan itu: ia gagal menyetubuhi Delgadina. Cintanya dibiarkan terlantar bersama tubuhnya yang semakin digerogoti hidup. Sementara Delgadina, selalu seperti sebelum-sebelumnya, hanya “telanjang di atas kasur dan tidur memunggungi profesor kesepian itu dengan ketenteraman yang luar biasa”.

Gagalnya Camacho menyetubuhi wanita dengan cinta untuk pertama kali, ataupun “cinta yang tak terbalas”, adalah alegori hidup ciptaan Gabo yang akrab dengan kehidupan sehari-hari kita. Alegori itu memang tak mengharuskan wanita supaya selalu bisa disetubuhi, atau cinta untuk mesti dibalas, tapi cukup berani mengklaim bahwa dunia ini tak akan bergerak tanpa keberadaan para-pesakitan-karena-cinta, dan sepasang kekasih yang berdansa sambil menyalakan piringan hitam di kamar pengantin, tidaklah memberi sumbangsih terhadap bergeraknya dunia—dan hidup!—yang padahal tetap akan bergulir dari waktu ke waktu. Dan saya, sepenuhnya setuju dengan Gabo.

Berapa banyak dari kita yang tetap bisa merasa sehat dan baik-baik saja mengurung diri di kamar dengan kekasih, menyetel Frank Sinatra atau Kath Bloom karena sedang tidak berada dalam krisis selera musik, dan bercinta seharian tanpa keluar melihat pohon bergerak dan burung gereja beterbangan dan hidup yang terus berlangsung sama sekali?

Padahal, kita perlu mencari uang untuk menyewa losmen jika suatu waktu bosan dengan keadaan kamar yang selalu penuh bir dingin dan aroma noda orgasme. Padahal, badai mungkin datang tiba-tiba, dan pohon itu bisa merobohkan rumah kita setiap saat. Padahal, kita selalu membutuhkan pengalaman spiritual yang berhumor dan spesifik, dan andai hari itu kita diam-diam mendatangi gereja, bisa saja kita temui seorang pastor sedang bersetubuh dengan biarawatinya di balik altar.

Padahal…kebahagiaan adalah peristirahatan yang melenakan. Dan kemurungan, disadari maupun tidak, membuat hidup terasa patut dijalani.

Kemurungan adalah kegagalan-kegagalan yang beruntun, atau rasa sendu yang tertimbun pada dinding dan atap rumah kita yang berwarna cerah, atau kegetiran yang dibawa oleh angin sepoi di hari-hari yang berlangsung secara semampai. Kemurungan, adalah “cinta yang tak terbalas”, adalah surmise hidup Gabo dalam Memories of My Melancholy Whores, adalah kerinduan kekasih saya—jika pun benar begitu—di tengah keributan pesta pinggir pantai yang dipermak oleh tumpahan Mansion House Whiskey dan banyak rambut yang rontok.

Kemurungan, dengan dermawan dan rendah hati, menyodorkan epiphany seperti yang dikatakan Camacho dalam novel, bahwa “Tak peduli apapun yang kau lakukan, tahun ini atau seratus tahun lagi, kau tetap akan mati selama-lamanya.” Hidup hanya terlihat seperti kesempatan unik untuk terus memutar panggangan. Dan cinta, sebagai keindahan yang paling personal dan tajam, punya sumbangsih terbesar dalam membentuk kemurungan orang-orang ketika menjalani hidup.

Oleh karena itu, dalam menjelaskan cinta, Gabo bermain di kolam yang sama dengan Sartre yang memandang cinta dengan sentimen dan penuh prasangka. Bagi Sartre, cinta adalah penindasan halus terhadap manusia, dan dalam penindasan, orang harus tetap bertahan hingga suatu saat bisa menemui kebebasan. Itulah alasan mengapa seseorang yang jatuh cinta (atau sedang ditindas oleh cinta) harus terus melanjutkan hidup.

Seorang teman dekat berkata pada saya, kau lelaki cerewet yang pemurung. Saya membalasnya dengan cerita bahwa hubungan asmara saya tak memberi ruang sama sekali bagi kalimat kurang berselera humor sejenis “Aku mencintaimu. Apakah kau juga?” dan berpelukan setelahnya. Hal semacam itu, jika disebut sebagai pengungkapan cinta, rasanya terlampau berlebihan. Saya meyakini yang ditulis Yasunari Kawabata dalam The House of Sleeping Beauties¸ bahwa “cinta tak membolehkanmu meletakkan telunjuk di bibir gadis yang tertidur dan melakukan segala hal yang berselera rendah.”

Jika hidup tetap bermurah hati memberi saya waktu, tanpa membicarakan Delgadina sama sekali, saya ingin membacakan kalimat penutup Memories of My Melancholy Whores dalam satu helaan napas di hadapan kekasih saya, bahwa “Dunia tempat kita hidup memang bergerak ke depan, tapi ia hanya mengelilingi matahari…” Sambil menyeka bibirnya yang basah, kalimat itu masih akan berlanjut, “…dan aku mencintaimu dengan kegilaan yang terus bergulir…”

Facebook Comments