A password will be e-mailed to you.

Kau menyukai istilah, dan kau dan kekasihmu, keranjingan membuatkan penjara bagi idiom-idiom dan frasa yang membikin mereka kesulitan bertahan hidup. Dalam setiap obrolan tentang kesetaraan gender atau referensi kuliner, orang-orang bakal mengira kalau kalian telah sinting atau terlalu pandai. Ilmu pengetahuan, atau sikap ilmiah, atau kecenderungan menganalisis segala hal secara obsesif, membuat kalian merasa sedang berada di sebuah mercusuar yang tinggi.

Dari atas mercusuar itu, kau bisa melihat nelayan mengikatkan sampannya pada kayu dermaga, dan bulu babi yang terombang-ambing di pinggir pantai, terlihat seperti bola kriket yang dipukul-pukul ombak. Kekasihmu kebingungan merangkum peristiwa surreal itu dengan kalimat akademis yang cukup diucapkan dalam satu durasi pelukan yang wajar. Sementara hari semakin sore. Ibumu telah selesai membersihkan rumah dan menyiapkanmu sayur lodeh, makanan favoritmu sejak kecil. Dan kau dan kekasihmu, mungkin saja telah lupa jalan pulang yang harus ditempuh dari mercusuar itu. Lagipula, apakah kalian yakin sedang benar-benar berada di atas sana?

Hidup tampak begitu rumit. Sebuah jalan aspal yang jauh dan panjang. Fatamorgana di ujung jalan itu selalu berpindah tempat setiap kali kau berkedip dan melangkah ke depan. Kemampuan navigasimu sedang berada dalam kondisi kritis, dan dari kabar burung orang-orang, kau mengira kekasihmu bukanlah teman perjalanan yang menyenangkan.

Angan-anganmu berjalan terlalu cepat. Kegembiraan hidupmu yang kompleks karena berasal dari banyak macam ketenangan batin yang tak disengaja dan detail, membuatmu berada terlalu jauh dari masa lalu. Padahal sejak dulu, pantai memang pelipur paling mujarab bagi keluargamu. Ayahmu yang komikal gemar mengajak kalian—kau dan ibumu—datang ke sana menjelang magrib. Dan karena ibumu tak terlalu agamis, ia tak pernah ambil pusing untuk menolak ajakan itu. Tapi sekarang, kau sibuk dengan momentum, dengan kegembiraan yang hanya kau rasakan pada saat itu juga.

Hidupmu telah terlalu lama berlangsung untuk membuatmu ingat kenangan sewaktu kecil, ketika kau selalu mengekspresikan kebahagiaan dengan berteriak atau menangis. Setelah berkuliah (di mana pertama kali kau juga menemukan kekasihmu di sana), kebahagiaan mesti bisa kau rasakan secara empiris. Kau harus menyadari kalau seseorang telah menciumi bibirmu, atau mengajakmu bertapa di pinggir sawah yang hijau dan lapang, atau membelikanmu es krim setelah melalui satu antrean yang panjang. Sayangnya, kau punya ingatan jangka pendek yang cukup mengenaskan.

Kau terombang-ambing. Kehidupan yang rumit hanya kau gunakan untuk memburu kebahagiaan yang sulit kamu temui. Angin pagi berhembus, matahari terbenam berkali-kali, orang tuamu menua, dan kau arogan menjalani hidup ke depan dengan ketidakmampuan mengingat dan memahami masa lalu.

Kau, disadari atau tidak, kehilangan kreativitas kanak-kanak untuk menikmati hidup. Bagimu, peradaban begitu kejam. Berjalannya waktu tak kau sadari sama sekali sebagai gilasan kereta yang memuat ingatanmu tentang berbagai hal yang pernah terjadi. Dengan rendah hati, kau mempersilakan kesedihan terus mendidih. Dan untuk menghentikan pemuaian, kau akan kerepotan memunguti kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang tercecer dan keluar dari jalur. Kau, tak tahu apa-apa soal ide berjalan di atas peron dan bantalan rel yang semakin koyak dari waktu ke waktu.

Untuk menemanimu menghadapi semua itu, kau mengandalkan kekasihmu, atau orang yang kau cintai, atau orang yang sibuk mengingat jalur pulang dari tempat yang seharusnya tak perlu kalian datangi. Kau merasai hari-harimu berlalu secara sempit. Sebuah perjalanan antah-berantah yang kurang manusiawi. Sementara kau dan kekasihmu adalah maniak dalam menjunjung tinggi kebanalan dan memposisikan segala sesuatu sesuai tempatnya.

Kehidupan akan semakin asing dan sulit. Setiap malam, kau akan ditiduri oleh laki-laki yang tak membersamai payudaramu tumbuh menjadi ranum. Kau berkaca dan melihat bibirmu menghitam, dan kerut matamu bertambah, dan lesung pipi di wajahmu mirip dengan ceruk yang ditumbuhi sarang laba-laba. Tapi kau punya optimisme terhadap masa depan yang terlalu muluk, walaupun penjaga mercusuar itu tak mau menunjukkanmu jalan pulang ke rumah, atau ke masa lalumu yang sederhana, yang lagipula, kau juga tak yakin kalau ia benar-benar berada di sana.

Facebook Comments