A password will be e-mailed to you.

Biarlah kaca-kaca saling memandang. Menatap luasnya kesempitan. Engkau tahu, dunia kita tidak sekecil itu. Hanya terurai dalam bayang-bayang.

Dunia tidak selebar daun kelor. Begitu bunyi peribahasa (peri yang ahli bahasa). Kenapa istilahnya menggunakan daun kelor. Saya tidak tahu (jangan sebut temennya tempe). Barangkali karena daun kelor kecil dan jika dimasak jadi lebih kecil lagi. Kayak barang kamu. Hehehe.

Garing ya? Emang. Tapi tunggu dulu. Anu. Saya mau ngomong serius nih. Tentang ungkapan di atas dan kegaringan saya memaknainya. Tentu itu bukan sebuah kebetulan. Sebab buah kebetulan memang tidak ada. Adanya ya buah manggis, buah mangga, dan buah dada yang rasanya kadang nano-nano. Uups.

Buahaha. Eh, maaf. Keceplosan. Saya malah jadi bercanda lagi. Duh, khilaf kok berulang-ulang. Tuman!

Baiklah. Ngomong-ngomong tentang peribahasa “dunia tidak selebar daun kelor”, saya kok jadi terngiang dengan amenangi jaman edan (boleh dibaca: mengalami zaman gila/kacau). Dan jaman edan adalah kondisi di mana orang-orang kebingungan dalam menentukan sikap. Seperti yang digambarkan oleh sang pujangga fenomenal, Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam Serat Kalatidha.

Alkisah.. konon.. syahdan.. dunia dalam arti sempit sekarang sedang terasa sangat sempit. Boleh dikira-kira betapa sempitnya. Mungkin lebih sempit dari jalan bayi. Eh, maksudnya daun kelor. Hiiks.

Sinuwun Paku Buwono V dalam Serat Centhini bahkan mewanti-wanti, zaman gila serba sulit dan merepotkan. Mau ikut arus tidak sampai hati. Ikut arus tidak tahan. Dan jika tidak ikut arus akan jadi iri. Begitu terjemahan serampangan saya. Harap dimaklumi. Seperti kebanyakan orang Jawa zaman now, saya sendiri merasa asing dengan bahasa Jawa.

Persisnya, serupa dunia hanya selebar daun kelor. Zaman gila membuat setiap orang mengkerdilkan dirinya. Supaya mereka tetap bisa hidup di daun kelor.

Gimana bisa hidup di daun kelor? Membayangkannya saja saya kesusahan. Pasti sesak. Apalagi jika mengingat badan saya yang ukurannya jumbo ini (curcol). Jelaslah itu bukan dunia saya.

Namun siapa saya ini, hanya asal bicara. Nyatanya daun kelor tetap mempesona. Orang-orang dengan gigih (tanpa rahutomo, nama orang) masih memburunya. Apalagi, sekarang daun kelor tidak sekadar berwujud mentah. Daun kelor telah bertransformasi. Dimasak dengan kuah santan, yang menggugah selera. Aroma dan penampilannya memukau mata. Membuat orang-orang lapar saling berebut melahapnya. Lezat.

Transformasi baru daun kelor membuat dunia yang hanya selebar daun kelor, berubah jadi dunia baru yang memikat. Saya yakin ini terjadi bukan karena ulah kepala chef salah satu restoran papan atas di Manhattan, Tel Afiv, Shanghai, atau Bavaria. Bukan juga ulah agen rahasia CIA, Mossad, MSS, atau BND. Maupun penyihir jahat sekaliber Voldemort. Saya justru curiga, ini ulah suami Inem, penjual jamu tua yang masih bahenol itu. Dia masih dendam dengan kehidupan masa lalunya. Saat dihukum Nabi Musa, gara-gara meracuni masyarakat Bani Israil dengan daun kelor.

Sekarang dendam itu dituntaskan oleh suami Inem. Inem yang baik dimanfaatkan oleh suaminya sendiri. Jamu-jamunya yang disukai semua orang diberi ramuan khusus. Sehingga dengan meminumnya orang jadi suka segala hal tentang daun kelor. Termasuk hidup di dalamnya.

Lebih lanjut lagi, ketika saya sedang minum kopi bersama Sir Arthur Conan Doyle di kantin kampus Edinburgh, beliau juga cerita begitu. Jangan-jangan memang benar cerita itu. Benar-benar fiksi.

Ah, ternyata daun kelor membuat saya lupa, kalau sedang melamun. Untung saya kembali ingat kata Eyang Ronggowarsito, ”beja-bejane kang lali, luwih beja kang eling lawan waspada”. Meski hanya sebentar. Lalu lupa lagi.

Gimana tidak lupa? Kapling-kapling tanah di atas daun kelor, sudah terlanjur dibangun. Saya jadi panik tidak kebagian. Kontraktor-kontraktor memiliki banyak dana dari hasil utang. Sedang saya mau utang saja tidak dipercaya bank. Boro-boro dipercaya. Jaminan tidak punya, selain diri saya sendiri. Masak satu-satunya harta saya itu mau digadaikan juga?

Di pinggir kegalauan itu. Pikiran pendek saya berbisik, ”Kamu akan menderita kalau tidak mau menggadaikan dirimu. Jangan sok gengsi! Harga diri sekarang sudah tidak ada harganya.” Sontak saya kaget dan misuh, “Asu!”

*

Facebook Comments