A password will be e-mailed to you.

Pada tahun 1993, muncullah Dazed and Confused yang menjadi cult hit di layar lebar Hollywood. Film yang dibintangi Matthew McConaughey dan Ben Affleck muda itu mengisahkan aktivitas muda-mudi Texas pada hari terakhir sekolah di tahun 1974, dimana mereka mempersiapkan pesta penyambutan untuk freshman sebelum liburan panjang musim panas.

Seperti karya Richard Linklater yang lain, Dazed and Confused adalah film realis yang baru disadari kehebatannya setelah bertahun-tahun dari rilisnya. Memberi corak budaya pop pada tahun 1970-an, Linklater memunculkan referensi musik dan gaya pakaian di masa itu dengan riil. Lagu-lagu Bob Dylan mengiringi kegilaan dan tawa yang tiada habisnya dari film dimulai sampai akhir.

Selang 23 tahun dari perilisan film ketiga Richard Linklater tersebut, novel Para Bajingan yang Menyenangkan dirilis. Novel karya Puthut Ea ini mengisahkan pengalamannya selama kuliah di Jogja pada akhir tahun 1990-an. Bersama kawan-kawannya; Bagor, Kunthet, Proton, Babe, dan Jadek, tokoh “saya” yang tak lain adalah Puthut sendiri menikmati masa mahasiswa mereka dengan melakukan banyak hal tak berfaedah bersama. Mereka mabuk-mabukan, berjudi, gelut, dan menikmati masa muda yang terlihat terlalu sempurna.

Alih-alih memberikan inspirasi cara menikmati kesedihan dengan syahdu khas karya Puthut Ea yang lain, Para Bajingan yang Menyenangkan (selanjutnya kita sebut PBM) menghadirkan kebrengsekan, ketololan, dan nostalgia masa muda sang penulis dengan setting Yogyakarta dan UGM.

Tercecer pula referensi-referensi “budaya pop” mahasiswa UGM seperti halnya Dazed and Confused, yakni Bonbin (Kantin Fakultas Ilmu Budaya), Kos-kosan Pogung, angkringan, Wasgitel Jokteng, demonstrasi menjelang reformasi, dan lain-lain. Layaknya karya-karya realis Richard Linklater, PBM menggambarkan keseharian dan aktivitas Puthut serta sahabatnya di kala itu secara apa adanya tanpa modifikasi dan dramatisasi. Frasa-frasa “asu”, “goblok”, “bajingan”, dan “jembut” muncul dengan sangat alami, terasa sangat familiar dengan masa mahasiswa kita yang juga akrab dengan istilah-istilah tersebut. Peristiwa-peristiwa konyol juga dihadirkan beruntun sehingga jikapun mencari pesan moral, pembaca baru akan menemukannya setelah kisah ini habis dibaca; itupun harus dengan merasa related dengan perjalanan hidup masa muda penulis dan teman-temannya yang dihabiskan di Jogja dengan bebas, nyleneh, dan penuh dengan kegelisahan-kegelisahan khas quarter life crisis.

Tentu karya seni film berbeda dengan novel. Linklater bisa bermain-main dengan musik, fashion, gaya rambut, dan spektrum warna zaman itu untuk menunjukkan setting tahun 1970an. Di PBM, untuk menguatkan setting akhir tahun 1990-an, Puthut menggunakan suasana panas menjelang runtuhnya rezim orde baru dan potongan kisah mengenai beberapa aktivis mahasiswa yang bermasalah dengan aparat karena terlibat dalam aktivitas pergerakan. Puthut juga sampai membandingkan harga rokok kretek Djarum di jaman itu dengan sekarang.

Karya sastra realisme memiliki karakteristik yakni menunjukkan realitas secara utuh di masyarakat tanpa embel-embel dramatisasi berlebihan. Sisi melankolis serta romantis akan diminimalisir dengan tujuan untuk menekankan bahwa kehidupan sehari-hari memang begitu akrab dengan keburukan, ketidaksempurnaan, dan jauh dari persepsi ideal menurut konstruksi sosial yang sudah diciptakan oleh masyarakat kelas upper. Menurut para realis, mereka harus menunjukkan ketidaksempurnaan dunia melalui seni. Inilah benang merah yang mempertemukan Dazed and Confused dan Para Bajingan yang Menyenangkan.

Seperti realisme Linklater di Dazed and Confused yang menggambarkan mayoritas kesenangan masa muda biasanya didapatkan melalui tindakan pem-bully-an, kejahilan, dan alienisasi di sekolah, Para Bajingan yang Menyenangkan juga berusaha menunjukkan bahwa masa muda sebagai mahasiswa Jogja tidak melulu diisi dengan kuliah, belajar, ikut organisasi​, dan liqo’ di Masjid Kampus. Masa muda yang baik tidak harus diisi dengan hal-hal yang terlampau sempurna dan jauh dari kebandelan serta ketololan agar kita bisa menjadi orang sukses ketika dewasa. Puthut dan kawannya sekarang bisa sukses sebagai penulis dan pejabat walaupun masa muda mereka hancur. Kawannya yang jadi pejabat tersebut bahkan tak cuma bandel, tapi juga diceritakan begitu goblok dan tak tahu aturan sehingga kata bajingan pun sangat identik dengannya.

Beberapa orang mungkin akan menganggap Puthut telah menulis sebuah karya yang nista dan tidak bermaslahat sama sekali dalam novel ini. Kisah-kisah brengsek nan tak berfaedah yang tidak memotivasi seperti biografi orang-orang sukses ataupun chicken soup for soul ala barat yang menuntut kita untuk menjadi orang produktif sepanjang waktu. Tapi Richard Linklater pun pasti juga akan mengamini bahwa rasa syukur dan kepekaan kita akan keindahan hidup kadang justru ditentukan oleh seberapa banyak kesalahan dan kebodohan yang sudah kita lakukan di masa lalu. Banyaknya trial and error kita atas kehidupan berarti kita akan memiliki banyak momen-momen kecil dimana kita tersenyum mengenang kenaifan di masa muda kita dengan penuh rasa syukur.

Facebook Comments