A password will be e-mailed to you.

“Be a man of wisdom. Perfection, for human, has no existence in this era of blurred complexity between truth and artificiality.”

Ketika menciptakan karakter Donald Duck –kita lebih mengenalnya sebagai Donal Bebek– pada tahun 1934, Disney lebih dulu memiliki Mickey Mouse sebagai karakter utama. Sang kreator, Walt Disney, pada waktu itu mengungkapkan bahwa dia menginginkan seorang karakter yang lebih “negatif” sebagai tandem Miki sang tikus yang terlampau ideal. Sejak itulah, karakter Donal Bebek yang teledor, temperamental, dan nakal lahir.

Sampai saat ini, Miki Tikus dengan dua kuping besarnya tetaplah simbol dan ikon utama Walt Disney sebagai sebuah raksasa dunia hiburan. Wajahnya memang lebih familiar ditemui dalam bentuk merchandise dan mainan, karena kepribadiannya yang ideal juga lebih populer di kalangan anak usia dini (3-8 tahun) dibanding tokoh Disney manapun, termasuk Donal si bebek yang sering sial itu.

 

Album Donal Bebek

Adik saya yang masih duduk di kelas enam sekolah dasar, Awang, akhir-akhir ini mulai suka membaca Album Donal Bebek, sebuah majalah komik yang terbit di Indonesia sejak tahun 1976 (dan masih eksis sampai sekarang). Kepada Awang pula, saya juga memberikan segepok koleksi yang saya kumpulkan sedari dulu.

Suatu hari ketika Awang sedang membaca majalah tersebut dan menaruh belasan edisi lain di hadapannya, Rendra –anak saya yang belum genap berusia setengah tahun– merengek ingin memegang bacaan om kecilnya.

“Pinjam satu saja buat Rendra om, yang sudah selesai kamu baca,” ujar saya kewalahan karena Rendra memberontak di gendongan saya, “Paling nanti disobek dikit, gakpapa lah.”

“Belum ada yang selesai tak baca yo Mas,” tukasnya.

Dia lalu berhenti membaca, kemudian terlihat melihat-lihat beberapa majalah — memilah salah satu yang dia kurang suka, agaknya.

“Nih, yang ini saja. Disobek gakpapa kalau yang ini.”

 

Mickey Mouse yang Tidak Lucu

Usut punya usut, ternyata Awang tidak membaca kisah yang menceritakan Miki Tikus di Album Donal Bebek miliknya. Kisah-kisah lain, bahkan kisah pelengkap yang berisi tokoh-tokoh Disney yang relatif asing: Agus Angsa, Bambi si rusa, dan Madam Mikmak si penyihir ia baca semua.

Setelah saya tanyai, ia beralasan bahwa komik yang mengisahkan tentang Miki menurutnya kurang menarik. Miki enggak lucu, dalihnya.

Di semesta Disney, Miki digambarkan sebagai seekor tikus yang pemberani, solutif, dan cerdas. Ia berkepribadian lurus, tidak pernah jahil, dan terlampau rajin. Kisah-kisahnya di Album Donal bebek (dan Poket Paman Gober) kebanyakan berlatarbelakang crime. Ia biasanya berperan sebagai detektif yang membantu menumpas penjahat di Kota Tikus. Dan, seperti umumnya cerita anak; di akhir cerita ia selalu berhasil membongkar semua kasus dan menumpas musuh-musuhnya dengan terlampau mudah.

 

Dunia Ideal dan Miki Tikus yang Too Hard to Grasp

Nilai-nilai yang Miki Tikus tawarkan adalah sederhana, sebenarnya. Tokohnya menjadi too hard to grasp (sulit dipahami) justru ketika kita beranjak dewasa. Seiring meluasnya dunia sekitar saat kita menua, lingkungan kanan-kiri kita juga semakin sulit dipahami. Dari yang tadinya hanya mengenal kebahagiaan dan kesedihan sebagai sebuah dualitas, kita dipaksa untuk menerima bahwa hidup adalah campuran antara keduanya, dan semua ketidakidealan itu harus kita terima begitu saja.

Saya sendiri sebagai orang dewasa, –setidaknya secara umur fisik– sudah lama tidak percaya lagi dengan yang namanya dunia ideal (dan tokoh ideal) di dunia yang kita huni saat ini. Setiap kita yang hidup di bawah langit dan berpijak pada bumi yang tua ini, menerima segala yang diwariskan pendahulu kita, dan mengklaim diri kita sendiri sebagai ideal.

Dunia ideal, menurut saya, adalah hipotesis yang amatlah ringkih. Ia adalah jargon yang sangat rentan dijadikan tumpangan benalu yang mengatasnamakan diri pejuang kebenaran penuh kepentingan. Benalu itu adalah siapa saja: bisa jadi dia adalah pejuang khilafah, motivator entrepreneur berbasis agama, aktivis kesetaraan gender, penganut teori bumi datar, dan yang paling menyebalkan: politisi.

Mereka semua datang, masuk ke hidup kita secara langsung maupun tak langsung, dan menawarkan solusi kaku nan saklek atas segala permasalahan hidup. Mereka mempersenjatai diri dengan perangkat ideal: hukum, filsafat, teori-teori sosial, dan bahkan agama hanya untuk memenuhi hasrat mereka akan kebenaran paripurna yang fatalistik.

Dengan segala kerumitan, realitas, dan ketakseimbangan hidup yang semakin kaya akan spektrum warna yang kompleks, kebutuhan kita akan teladan dan sosok yang manusiawi menjadi mendesak. Donal, saya kira, memenuhi syarat itu. Sosoknya yang tidak sempurna dan apa adanya mengajari kita untuk mampu menertawakan hidup.

 

Menjadi Manusiawi

Di tengah lingkungan sosial yang kelewat tegang, humor adalah obat mujarab sekaligus penawar dahaga akan permenungan diri yang semakin langka. Kisah Donal Bebek yang tak ideal menjadi lebih menarik bagi kita bukan karena kita tak ingin jadi ideal seperti Miki Tikus; kita hanya lebih suka dengan nilai-nilai yang manusiawi, dan di hati kecil pun sesungguhnya kita tak mendambakan kebenaran yang fatalistik.

Donal Bebek, bagi saya dan adik saya, lebih menarik bukan melulu karena kejenakaannya. Dengan tingkah lakunya yang jahil, nasibnya yang seringkali sial, dan keisengannya terhadap orang-orang di sekitarnya, kisahnya menjadi lebih manusiawi dan sesuai untuk konsumsi orang yang beranjak dewasa.

Sifat-sifatnya bertolak belakang dengan Miki si tikus, yang berperan sebagai tokoh bijak, penuh perhitungan, dan selalu menjadi kompas moral di kisah-kisahnya. Menjadi Miki dan mengidolakannya bukanlah hal yang buruk, namun kesempurnaan dan sifat tanpa cacatnya saya rasa lebih cocok dijadikan simbol public relation bagi konsorsium Walt Disney. Singkatnya, Miki Tikus adalah tokoh utopis bagi anak-anak di bawah umur.

Bagi kita yang beranjak dewasa, jika memang ada yang namanya kesempurnaan, ia tak selayaknya jadi tujuan hidup. Kesempurnaan, seperti juga halnya dunia ideal, hanyalah sebuah kabut tebal yang semakin gelap dan ambigu ketika kita mendekatinya; dan ketidakjelasan itu cuma menghambat kita menuju keindahan dan penerimaan hidup. Mungkin itulah alasan kenapa adik saya bilang bahwa Miki Tikus enggak lucu.

 

***

Facebook Comments