A password will be e-mailed to you.

Jujur saja, menulis judul ini sungguh menggelikan karena banyak orang mengatakan bahwa pemahaman lahir dari pengalaman. Pasalnya, konsep ekshibisionisme adalah kelainan psikologis pada seseorang yang punya kecenderungan untuk memperlihatkan alat kelamin atau bagian tubuh pribadi kepada orang lain.

Para ekshibisionis mencapai kenikmatan dengan memperlihatkan ‘’barangnya’’. Sementara dengan segenap kegetiran berahi sekaligus nilai hidup yang saya pegang, saya menganggap Siska Sang Pemersatu Bangsa (seorang wanita ekshibisionis tak terlalu cantik yang sedang eksis di twitter), yang hobi memepetkan dadanya ke punggung setiap driver ojek online yang ia tumpangi tanpa menggunakan beha sebagai orang gila.

Untuk meniru Dea Anugrah menulis sebuah memoar yang di dalamnya terdapat kata “penis” dan “memek” guna menceritakan berlangsungnya pelecehan seksual secara kronologis, saya takut kalau-kalau malah menggubahnya menjadi cerita dewasa.

Maka dari itu, selain terlalu imajinatif, tulisan ini akan menempatkan saya pada tanggung jawab sosial yang terlalu besar, namun bukan berarti juga tak terjangkau. Atas nama objektivitas keilmuan dan kedaulatan seksual, lewat tulisan ini, saya harus bisa memperkenalkan ekshibisionisme tak hanya sampai soal pamer alat kelamin.

Untuk itu, alih-alih dapat mengeksplorasi ekshibisionisme dan ketersambungannya dengan budaya kontemporer, imajinasi saya justru terhambat untuk menangkap nuansa “pamer” pada konteks ekshibisionisme sebagai kelainan seksual belaka. Padahal, jika mau menarik benang merah, kita dapat menghubungkannya dengan perilaku manusia sehari-hari yang penuh dengan budaya “pameran”.

Lebih jauh, terma ekshibisionis berakar pada kata exhibit yang dalam Thesaurus Roget’s II bermakna “an act of showing or displaying”. Dari definisi tersebut, jika bicara soal ekshibisionisme dan hal-hal yang melingkupinya, minimal kita bisa menemui empat komponen penting: pamer (showing-off), sesuatu yang dipamerkan, pihak yang dipameri, dan kenikmatan yang diperoleh karena pamer.

Tamagotchi Milik Tetangga

Ketika kanak-kanak dulu, saya sering merengek meminta mainan yang sama dengan teman sepergaulan. Ketika ayah saya lupa berhitung dan malah membelikan saya tamagotchi yang lebih bagus daripada milik tetangga, saya menyombongkan mainan itu. Saat ibu saya mengingatkan suaminya bahwa ia sudah tua dan tak lagi mahir soal hitung-hitungan sehingga hanya mampu membelikan anaknya tamagotchi yang lebih jelek, saya berusaha mencari kelebihan tamagotchi itu. Jika gagal menemui kelebihannya, saya akan susah-payah mencari kekurangan tamagotchi milik teman saya yang bagaimanapun juga tetap lebih bagus.

Kejadian itu akan berulang terus, sampai suatu ketika seorang teman baru datang dari kota. Ayah-ibunya kaya raya, gemar membuat anaknya kalap, dan bisa membelikan anaknya mainan sebagus apapun. Sampai di situ, karena tak bisa lagi saling pamer mainan, kami pamer kemampuan dan kepintaran.

Namun, saling pamer semacam itu tak selalu terjadi. Ada kalanya kami saling memuji dan berkolaborasi, terutama saat berkompetisi dengan anak-anak kampung sebelah, sambil tetap berbisik dalam hati bahwa teman saya memang punya tamagotchi yang bagus tapi ayah dan ibunya kaya raya yang bodoh dan kemungkinan ia juga bodoh dan tak punya cukup kemampuan memahami tulisan semacam ini di masa depan.

Nuansa Kolaboratif

Merunut lagi ke belakang, budaya pamer ternyata juga sudah terjadi pada level binatang. Ketika cukup bernafsu buat mengawini betinanya, seekor merak jantan akan memamerkan keindahan bulu-bulunya. Ayam jantan juga akan memamerkan dominasi kelompoknya untuk alasan serupa.

Hanya saja, kegiatan pamer yang dilakukan binatang cenderung lebih suci daripada yang dilakukan manusia. Pameran keindahan bulu merak jantan dan oligarki kelompok ayam semata-mata merupakan wujud syariat alam dalam mekanisme spesifik untuk melestarikan keturunan. Sementara, saling pamer tamagotchi dan kepintaran adalah sikap kekanak-kanakan yang berpotensi memunculkan tindakan eksploitatif di berbagai ranah dan bidang hidup, yang lagipula juga kurang berselera humor.

Karena melakukan tindakan eksploitatif dan tak berhumor, manusia akan kehilangan karunia dan kesadaran yang lebih tinggi dari hewan untuk menikmati hidupnya, dan inilah yang membuat kita terpeleset dari sunatullah.

Bagaimanapun, kita memang terlanjur hidup di bumi yang tampak tak memberi ruang bagi kesenangan selain dengan saling pamer dan berkompetisi. Budaya pamer dan kompetisi itu tak hanya berada di tingkat individu, namun juga pada tingkat pemerintah-pemerintah negara. Menurut Chomsky, kompetisi antarpenguasa negara hanya akan membawa dunia ke arena konflik dan konfrontasi. Di era modern seperti sekarang, konfrontasi tersebut bisa kita temui dalam bentuk saling pamer kekuatan militer. Sementara konflik akan terus terjadi selama iklim kompetitif itu masih ada.

Dalam dunia yang segala hal di dalamnya hanya melahirkan keinginan untuk saling mengungguli, kompetisi memang dianggap sebagai kunci pertumbuhan hidup. Kehidupan asmara, tata-cara berpolitik, ruang berkesenian, kesempatan berbisnis, dan semua jejak-jejak sejarah dan peradaban adalah sawah subur bagi tumbuhnya pertumbuhan hidup dan—pada saat yang sama—kompetisi.  Hanya saja dalam hal ini, kita kurang menyadari bahwa Tuhan masih bermurah hati memberi kedaulatan kita untuk menikmati segala hal dengan kepekaan dan selera humor spesifik yang kita miliki.

Namun bagaimanapun juga, tak sepatutnya saya bersedih. Di beberapa belahan bumi, lagipula, banyak pemuda-pemudi duduk dan berkumpul selama tujuh jam setiap bulan. Mereka merindui suasana kolaboratif yang guyub-rukun, terlampau dewasa untuk saling pamer tamagotchi, serta tak ada niat untuk berkompetisi dengan pemuda-pemudi kampung manapun. Situasi tersebut barangkali pernah terjadi pada jaman para leluhur, namun terdistorsi sekian ratus tahun dalam perkembangan peradaban yang terus berjalan, sehingga kita merasa kehilangan dan saat ini berusaha kita temukan kembali.

 

Kentungan, 2 Mei 2017

Facebook Comments