A password will be e-mailed to you.

“Bendung dan tanggul ini sungguh indah. Seperti susunan balok warna biru dan kuning selang-seling yang di sela-selanya air mengalir dari bendungan di atasnya.”

Jokowi datang dari pedesaan. Sewaktu kecil, saya kira, ia tak punya akses terhadap bacaan-bacaan yang bagus. Rumahnya di Solo berada di pinggiran dusun di mana setiap malam, sekelompok pemuda menutupi kepala dan telinga mereka dengan sarung sambil memunguti jimpitan. Sebagai Presiden Republik Indonesia, ia tak punya kesanggupan menyusun kalimat-kalimat sastrawi, bahkan efektif sekalipun.

Seperti susunan balok warna biru dan kuning selang-seling yang di sela-selanya air mengalir dari bendungan di atasnya.

Novel yang paling mungkin dibaca Jokowi sewaktu mahasiswa, jika dilihat dari masanya, adalah Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Jika Jokowi muda adalah tipe orang yang antusias saban menemui terbitan karya sastra baru, tidak merokok, dan tidak keranjingan membeli ketan hitam beralkohol di “Istana Boneka”, Ronggeng Dukuh Paruk telah selesai ia baca di umur dua puluh satu, atau maksimal—kalau ternyata saat itu ia telah berpacaran dengan Iriana—dua puluh dua tahun. Lagipula, Ahmad Tohari yang getol berkarya semasa Orde Baru saat itu mendapat cap dari pemerintah sebagai “penulis yang kekiri-kirian”. Sekalipun kemungkinan terbaiknya adalah Jokowi kutubuku, aksesnya terhadap karya-karya Tohari tentu tak semudah membuat agar-agar.

Namun itu baru Ronggeng Dukuh Paruk, yang notabene adalah bagian dari trilogi novel dengan judul yang sama. Semasa jadi mahasiswa, kesibukan praktikum di Fakultas Kehutanan UGM, saya yakin, tanpa ampun mencekik waktunya untuk membaca dua judul lain: Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala. Jokowi tentu manusia biasa. Untuk membentuk kegembiraan harian yang seharusnya selang-seling di tengah sela-sela kepusingan kuliah, ia butuh berpacaran dan pergi ke Malioboro. Keputusan menyelesaikan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, bagi Jokowi, bisa jadi adalah obsesi sesat belaka.

Seperti susunan balok warna biru dan kuning selang-seling yang di sela-selanya air mengalir dari bendungan di atasnya.

Seno Gumira Ajidarma, dalam kesempatan pamer yang tidak terlalu perlu, bercerita telah mengenal Shakespeare sejak meletakkan bokongnya di bangku sekolah dasar. Dea Anugrah, yang disebut banyak orang sebagai “sastrawan lokal masa depan yang mumpuni”, mulai membaca Majalah Horison dan The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway sejak SMP.

Perbandingan antara Jokowi dan Seno dan Dea tentu bukan lelucon yang menarik, walau cukup membuat kita tertawa. Dari situ, frasa “seperti susunan balok warna biru dan kuning selang-seling yang di sela-selanya air mengalir dari bendungan di atasnya” di unggahan akun Instagram @jokowi, di hari ketika lima ribu orang berbondong-bondong ke Gejayan untuk menyebut pemerintahannya sebagai lelucon yang buruk, yang pada saat yang sama, Jokowi mungkin sedang menimang-nimang Jan Ethes sambil mengajaknya bermain mobil-mobilan atau membuatkannya agar-agar, tentu tak mesti membuat kita geger.

Tiga belas bulan lalu, saya punya keinginan menulis sebuah novel homoseksual-romantis. Di sela-sela kesibukan kuliah, tanpa melakukan hal buruk apapun untuk kepentingan riset, draft pertama sepanjang sepuluh halaman telah berhasil saya tulis.

Di novel itu, saya berencana menjadikan Orde Baru dan Yogyakarta sebagai setting. Dalam draft yang saya tulis, ada bayang-bayang jejeran baliho demonstrasi mahasiswa dengan tulisan tangan atau pilox yang agak jelek, pasangan homoseksual yang berakhir saling bunuh, dan sebuah warung sederhana tempat mahasiswa biasa meminum arak dan mabuk-mabukan.

Pada seputar halaman lima saya menulis: “Di hari-hari biasa setelah demonstrasi, mahasiswa sering merayakan perjuangan mereka dengan minum bir dan merokok di warung milik Mas Antok.” Gairah saya terhadap sastra sewaktu pertama kali memulai petualangan menulis memang cukup memprihatinkan. Kalimat-kalimat yang baik, bagi saya, tak bakal berada jauh dari deskripsi tentang kejadian yang kurang bermoral, dan—seringkali—mengandung rima. Saya kecanduan menyisipkan kata-kata yang sekawanan dengan “bir”, “alkohol”, “persetubuhan”, dan yang paling tipikal sekaligus membosankan, “rokok”. Kesemuanya itu, boleh jadi karena kesetanan atau apa, saya anggap sebagai idiom puitik yang bernilai seni.

Di titik ketika tulisan ini hendak saya selesaikan, saya buka kembali draft novel itu, juga tulisan-tulisan lama. Rasa jengah terhadap diri sendiri jadi hal yang tak tertangguhkan. Saya kecewa terhadap akal-akalan saya membikin asumsi terhadap berbagai hal, terhadap banyak kejadian-kejadian mendesak yang tak membuat saya ingin terlibat, dan—khususnya—terhadap sastra.

Di titik itu pula, saya tak lagi berniat menyelesaikan novel itu. Tamasya saya di kampus adalah menongkrong dengan banyak teman sambil merokok berjam-jam tanpa menghasilkan apapun. Mahasiswa cuma istilah beken bagi pengangguran dengan hak istimewa mengomentari banyak hal. Sementara menulis sebuah novel romantis tentang pasangan homoseksual yang ketagihan berdemo (meskipun boleh jadi menarik), sebagaimana tekad Jokowi menyelesaikan Ronggeng Dukuh Paruk, adalah ambisi yang tak hanya sesat, tapi juga kelewat mengada-ada.

Senin lalu, banyak teman kuliah saya meninggalkan kampus, dan saya jadi seperti penjelajah asing yang meloloskan puluhan batang rokok sendirian. Mereka berbondong-bondong melakukan longmars menuju Gejayan, dan seperti tak merasakan kegentingan sama sekali, saya menunggui kepulangan mereka sambil tak melakukan apapun. Saat itu, satu-satunya yang tersisa bagi saya tinggal kemurungan.

Jokowi tentu bukan seorang pemurung, lebih-lebih memahami kemurungan saya. Ia punya banyak sarana untuk tertawa terbahak-bahak, atau—minimal—tersenyum melihat segala hal bekerja. Tak ada kegawatan sama sekali baginya selain tanggungjawab menyelesaikan Ronggeng Dukuh Paruk dan atau—barangkali—memupuk minatnya terhadap bacaan-bacaan yang bagus. Perihal itu, bagi Jokowi yang secara selang-seling kebetulan menjadi Presiden Indonesia di sela-sela kerepotannya mengasuh Ethes, sudah barang tentu penting.

Penyair Amerika Kenneth Burke, pada banyak kesempatan, menyebut sastra sebagai “perkakas untuk menjalani hidup”. Agak sejalan dengan aforisme itu, Dea Anugrah (ia memang pujaan saya!) dalam artikelnya di Tirto, menimbrung dengan mengatakan bahwa ketika seseorang kurang punya empati pada orang lain, sepatutnya ia “bergeser sedikit ke pojok (perpustakaan) dan mulai membaca cerita yang bagus.”

Komunike itu memang pantas belaka dihasilkan oleh kutubuku yang mengurung diri di perpustakaan selama berjam-jam. Jokowi, sebagai yang-belum-pasti-selesai-membaca-Ronggeng Dukuh Paruk, positif kewalahan mengemban tanggung jawab itu.

Hanya saja, ia perlu tahu bahwa pascaaksi yang diawali #GEJAYANMEMANGGIL Senin lalu, setidaknya tercatat 3 mahasiswa kritis di Sumatra Selatan, 88 orang terluka di Jakarta, 92 di Bandung, Immawan Randy dan Yusuf Kardawi meninggal, dan banyak kepayahan lain.

Dengan begitu, adalah fardhu ‘ain bagi Jokowi membikin klub baca dengan—boleh jadi—Wiranto, atau polisi-polisi. Sementara kita, sambil secara selang-seling melihat Jokowi dan teman-temannya membaca di sela-sela pekerjaan mereka, bolehlah menikmati hidup sambil memelesetkan Subterranean Homesick Blues milik Bob Dylan; Jokowi’s in the basement mixing up the medicine, we’re on the pavement thinking about the government.

Dan saya, juga tak perlu ragu untuk ogah-ogahan melanjutkan draft novel itu, yang lagipula, baru mencapai sepuluh halaman. Ada hal genting lain yang harus dirawat dengan kemelempeman saya.

Nb: https://id.wikipedia.org/wiki/Ronggeng_Dukuh_Paruk

Facebook Comments