A password will be e-mailed to you.

Ini bukan cerita tentang sundel bolong, pocong, wewe gombel, kuntilanak, genderuwo, atau memedi-memedi lainnya yang belum saya sebutkan. Salah jika kalian membayangkan wujud hantu yang akan saya ceritakan seperti itu. Tetapi kebenarannya, hantu ini tidak kalah seram dengan semua jenis hantu tadi.

Hantu kemapanan, demikian nama bekennya. Dia merupakan hantu yang sangat terkenal baik di kalangan manusia maupun jin. Soal prestasi yang dimiliki. Tak perlu diragukan lagi. Sederet lencana penyesatan sudah semua disabetnya. Karena itu dia tidak hanya ditakuti oleh bangsa manusia, tetapi juga bangsa jin.

Hantu ini sudah sangat lama eksis bergentayangan. Ada dugaan dia ikut terlibat membantu iblis saat menyusup ke surga dalam misi menyesatkan Nabi Adam. Bahkan, sebelum itu dia disinyalir juga ikut terlibat dalam peristiwa penolakan iblis saat Tuhan menyuruh semua makhluk bersujud kepada Nabi Adam. Bisa dibayangkan betapa sepuh dan mengerikan hantu ini.

Dengan kesepuhannya itu, hantu kemapanan tentu sarat pengalaman. Dia paham betul bagaimana melancarkan aksi. Pernah dia kepergok menggunakan retorika yang sangat lembut dan menunjukkan intelektualitas yang menawan. Layaknya seorang pakar. Di lain waktu, dia kedapatan menawarkan janji-janji kosong. Mirip para politisi. Atau seringnya, dia hanya cukup menampilkan wajah sederhana yang lazim dan biasa saja. Seperti kita, wong cilik. Pemilihan cara menggentayangi itu tergantung bagaimana kondisi targetnya.

Korban hantu kemapanan sudah sangat banyak. Tak terhitung jumlahnya dan tak pandang bulu. Mulai dari rakyat jelata yang tidur di kolong jembatan, rakyat kelas menengah, hingga rakyat berlabel pejabat papan atas. Baik yang belum mapan ataupun sudah mapan. Semua masuk dalam daftar korbannya.

Saya pun tak menampik pernah jadi korban hantu kemapapan. Sekian lama saya cukup intens digentayangi. Sedikit banyak saya jadi akrab dan mengenalinya. Itu juga kenapa sekarang saya bisa bercerita tentangnya.

Namun ada baiknya sebelum melanjutkan cerita ini. Kita sama-sama menghirup nafas dalam-dalam. Sejenak mengambil jarak dari apa yang kita pikirkan. Dan hadir di sini. Sekali lagi, hadir di sini. Supaya hantu kemapapan tidak datang tiba-tiba menggentayangi. Baiklah kelas meditasi kita mulai hehehe. Jreeeng..

Kembali ke cerita. Tadi saya belum menyebutkan detail kenapa dia seram. Sejujurnya ini bukan karena bentuk rupanya. Sama sekali bukan. Hantu kemapanan jelas memiliki paras elok. Dia tidak kalah ganteng dibandingkan Rio Dewanto, Vino G. Bastian, Richard Kyle, atau Keanu Reeves. Juga tidak kalah cantik dibandingkan Pevita Pearce, Wulan Guritno, Maudy Ayunda, Gal Gadot, atau Emily Ratajkowski.

Saya menyebutkan lelaki dan perempuan sekaligus bukan karena dia berkelamin ganda. Hanya saja wujud rupa hantu ini memang berubah-ubah. Layaknya kemampuan mimikri ala bunglon.

Tetapi tidak usah kejauhan menyebut nama-nama artis tadi. Yang dekat-dekat saja. Hantu kemapanan malah lebih sering menggentayangi seseorang dengan wujud rupa dirinya. Versinya pun beragam sesuai wujud rupa yang diinginkan seseorang. Jika seseorang ingin uang berlimpah, karier cemerlang, rumah mewah, dan kemegahan hidup. Maka hantu kemapapan akan menggentayangi seseorang, dengan tampilan dirinya beserta atribut rupa itu. Sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Satu pola kesamaan yang bisa kita tangkap. Hantu kemapanan selalu menampilkan wujud rupa yang terlihat lebih baik dari wujud rupa yang sudah dimiliki seseorang. Sehingga dia merasa terus kurang dan tidak puas.

Nah, inilah letak keseraman hantu kemapapan. Kalau orang tidak pandai bersyukur dan menerima dirinya. Hantu kemapanan bisa saja menggentayangi terus menerus. Membuat orang menganggap keinginan adalah keharusan. Menerornya dengan sesuatu yang terlihat menyenangkan. Namun sebenarnya tidak kalah sadis, dibandingkan teror diburu penagih utang atau pembunuh bayaran.

Menyeramkan sekali. Hantu kemapanan menghantui pikiran dan dampaknya sangat mungkin mempengaruhi kejiwaan seseorang. Serem kan? Hehehe

“Lakonana kalawan sabaring kalbu,
yen den owah neniwasi,
kasusupan setan gundhul,
ambebedhung nggawa kandhi,
isine rupiyah keton.”

—Serat Sabdajati pupuh 4, R. Ng. Ronggowarsito (Megatruh)

Facebook Comments