A password will be e-mailed to you.

“Ikhlas itu tidak ada! Kalau masih ada ikhlas, berarti masih ada tidak ikhlas. Kita perlu lepas dari dualitas. Mulai saat ini, hilangkan kata ikhlas dari kamus kalian.”

Pakdhe memulai pembicaraan dengan nada serius. Dua orang yang menjamu obrolan Pakdhe, Mas Didik dan Mas Sutar melongo kebingungan. Terlalu pagi untuk memulai topik semacam ini, kopi tubruk yang saya seduh juga belum jadi. Tapi mendengarnya, saya diam menahan geli di hati.

Dini hari sekira pukul 02.00, saya sudah siap di depan pintu keluar stasiun Tugu. Menunggu seorang sahabat bernama Pakdhe Joko, yang berangkat dari kediamannya di Bandung untuk menghadiri acara Maulid di Klaten. Sambil menyalakan kretek untuk mengusir kantuk, saya berbasa-basi dengan tukang ojek.

“Pak, kalau hari Rabu seperti ini biasanya bawa pulang berapa?”

“Wah ndak mesti Mas, kadang ya kalau rejeki dapet seratus ribu.”

“Seharian Pak?”

“Iya Mas.”

“Apa ndak capek Pak?”

“Kalo capek ya istirahat Mas, sampeyan ini gimana.”

Ditengah obrolan kami yang berujung cekikikan, para penumpang kereta sudah berjubel di pintu keluar. Saya kagum dengan para tukang ojek yang rata-rata usianya sudah paruh baya, termasuk bapak yang saya ajak ngobrol. Bagaimana tidak, mereka masih bertahan sebagai ojek konvensional ditengah deru lokomotif industri transportasi online yang kian menggilas moda transprotasi darat lain.

Bagi sebagian orang, cara mereka menawarkan jasa ojek di stasiun membuat risih. Pasalnya, tawaran mereka cenderung memepet laiknya sales hp di Jogjatronik. Sebagian calon pelanggan buru-buru berkata tidak seperti yang biasa saya lakukan. Sebagian lainnnya yang kemudian mau untuk diantar barangkali iba atau tidak enak menolak. Selain itu, harga yang dipatok juga tidak pasti. Tergantung tawar-menawar hingga harganya jadi. Hal ini makin membuat ojek stasiun tidak cukup diminati.

Kondisi semacam itu memunculkan perasaan lain. Mereka punya keluarga yang butuh dinafkahi. Mungkin mereka juga punya hobi yang perlu mengeluarkan uang. Sama seperti kita yang butuh ragam jeda dari rutinitas yang menjemukan. Tapi kita buru-buru risih hanya dengan satu sikap mereka dalam merayu pelanggan.

Barangkali selama ini saya terlalu judgmental terhadap mereka hanya karena cara mereka dalam menawarkan jasa. Sementara faktanya, mereka memang tidak tahu cara lain. Mungkin bagi mereka, kenyamanan pelanggan bukanlah prioritas, uanglah yang utama. Tapi, bukannya kenyamanan pelanggan ujung-ujungnya uang juga?

Rombongan penumpang kereta sudah keluar semua dari setasiun. Saya khawatir dengan tugas utama untuk menjemput Pakdhe. Batang hidungnya tak kunjung terlihat. Lantas para tukang ojek saya tanyai sembari menunjukan ciri-ciri orang yang saya tunggui. Tak ada satupun yang merasa melihatnya. Karena lelah mencari Pakdhe di sepanjang luar stasiun, saya duduk kembali di depan pintu keluar.

“Mas, kalau capek ya istirahat.”

Pakdhe Joko muncul tiba-tiba dari pintu keluar dan berkata seperti itu dengan biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Saya agak dongkol juga karena sudah pukul setengah empat. Satu jam setengah saya habiskan untuk mengunggunya. Di perasaan lain, saya curiga kalau Pakdhe mencuri dengar obrolan saya dengan tukang ojek tadi. Tapi buru-buru saya tepis, karena obrolan itu terjadi dua jam yang lalu. Sementara Pakdhe baru saja muncul dari pintu.

Pakdhe memang semaunya sendiri. Bahkan agar tidak sering dihubungi Budhe, istrinya, ia sengaja meninggalkan hp di rumah. Pantas saja nomor hp-nya tidak dapat saya hubungi. Sangat merepotkan.

“Pas turun dari kereta tadi, Pakdhe lihat salah satu anak buah berjalan di sebrang rel. Pakdhe hampiri dan kasih makan sisa bekal dari Budhe. Maaf ya Mas, itu yang bikin lama.”

Pakdhe yang pensiunan tentara ini mengklaim dirinya panglima gelandangan, orang gila, dan anak-anak terlantar. Klaim yang semaunya sendiri. Jadi semua jenis orang-orang tadi dianggap Pakdhe sebagai anak buahnya, dan ia berlaku sebagai komandannya.

Awalnya, saya acuh dengan klaim itu. Tapi beberapa kejadian membuat saya agak percaya bahwa Pakdhe, kalau tidak panglima, setidaknnya ia komandan gelandangan, orang gila, dan anak-anak terlantar.

Misalnya kejadian waktu makan di sebuah warung ramesan. Orang gila kumal mendatangi Pakdhe dan saya. Ia bertanya kabar, berpelukan, dan ngobrol dengan Pakdhe. Sementara saya diacuhkan.

Sialnya, yang mereka bicarakan itu urusan orang yang kita anggap normal. Kalau tidak salah topiknya soal kredit macet dan pengolahan sampah. Yang lebih fak lagi, cara orang itu berpamitan juga dengan hormat militer. Waktu itu saya bertanya-tanya siapa yang sebenarnya gila, mereka atau kita yang memburu dunia?

Motor bebek saya geber menuju rumah Mas Didik di Prambanan. Pakdhe di belakang memeluk saya karena kedinginan tidak membawa jaket. Benar-benar semaunya sendiri. Meski begitu, fisik Pakdhe masih kuat dengan usianya yang sudah kepala enam.

Di atas motor, kami masih sempat ngobrol.

“Mas, Pakdhe tadi dikasih wejangan sama anak buah.”

“Apa wejangannya Pakdhe?”

“Ikhlas itu tidak ada.”

Facebook Comments