A password will be e-mailed to you.

Berbicara mengenai buku gunungkidulan (ya, awalan ‘g’ ditulis tanpa kapital) adalah sebuah hal yang mahasulit. Tidak bisa disimpulkan dengan mudah genre buku apakah ini, walaupun dengan pongah dan klise hasil top search di mesin pencari akan memberikan hasil “buku tebal 800-an halaman mengenai segala hal tentang Gunungkidul, sebuah kabupaten di Yogya, yang dikupas secara filosofis”. Penjelasan tersebut, saya kira, terlalu normatif dan terkesan malas.

Pengalaman saya mendapatkan buku ini pun gampang-gampang susah, susah karena perlu pre-order selama dua bulan sebelum bisa memegang buku ini di tangan- namun juga mudah karena kocek yang perlu dirogoh untuk buku seserius dan sekaliber ini bisa dibilang relatif  murah.

Buku gunungkidulan terdiri dari ratusan esai mengenai Gunungkidul secara khusus dan Jawa pada umumnya, yang didahului oleh kata pengantar yang secara subtil mengutarakan bahwa pengarang buku ini adalah orang yang sangat hati-hati, pemalu, dan memilih jalan sunyi dalam berkarya. Ditulis dalam 823 halaman yang kelu dengan spasi yang rengket, gunungkidulan berisi ratusan esai yang beberapa ditulis dalam bahasa jawa ngoko dengan alasan bahwa menurut penulisnya, “beberapa realitas kejawaan akan kurang greget dan kurang nges jika dibahasakan dalam bahasa indonesia”.

Saya berandai-andai bila buku ini bisa didapatkan melalui jalur penerbit mayor; gunungkidulan kemungkinan besar tak akan laku di industri karena beratnya konten yang ditawarkan dan target pasar yang sangat niche. Namun, dengan pemasaran yang sedikit gencar saja, buku ini paling tidak pasti akan mampu menjadi buah bibir di dunia literasi Indonesia. Minimal, akan lebih banyak orang yang mengetahui keberadaan gunungkidulan dan hal itu akan merangsang terbitnya buku-buku semacam ‘sundanan’, ‘betawinan’, ‘batak-an’, ‘sasak-an’, atau yang lainnya.

Berkonten dwibahasa dengan 20%-nya adalah bahasa jawa tidak membuat gunungkidulan menjadi rangkuman budaya lokal yang dikhusukan untuk masyarakat lokal Gunungkidul atau Yogyakarta saja, karena penulis juga cukup cakap memamerkan pengetahuan epistemologi baratnya, yang membuat relevansi gunungkidulan sebenarnya sangatlah global. Penulis buku ini, wonggunung (nama samaran), juga dengan halus berhasil “menundukkan” filsafat barat karena tidak menggunakannya sebagai pendekatan utama dalam pembacaan realitas dan narasi kegunungkidulanan maupun kejawaan, melainkan cukup menggunakannya sebagai pendukung relevansi pembaca.

Saya kira, membagi gunungkidulan dalam ratusan esai acak adalah sebuah pengertian tak terkira dari penulis terhadap pembacanya. Pembaca awam seperti saya bisa bebas memilih membaca esai manapun tanpa keterikatan waktu dan keterkaitan antara esai satu dengan yang lainnya, karena setiap esai bisa dibaca dan dinikmati secara terpisah.

Pilihan penulis buku ini, ‘wonggunung’, untuk membesarkan (baca: menerbitkan) buku ini secara independen menurut saya sangatlah sulit dipahami di era industrialisasi seperti saat ini. Buku ini ibarat seperti seorang anak yang dibesarkan oleh orang tua yang berpendirian sangat kuat, yang tak rela anaknya dirusak oleh sistem yang akan membuat sang buah hati menjadi mesin yang kehilangan keistimewaan dan keotentikannya.

Idealisme ‘wonggunung’ sedikit banyak mengingatkan saya kepada film Captain Fantastic (2016) karya sutradara Matt Ross. Dalam film ini, tokoh Ben Cash yang diperankan oleh Viggo Mortensen tidak menyekolahkan anaknya secara formal namun mengajari anaknya filsafat, critical thinking, anti kapitalisme, bahkan skill bertahan hidup tanpa modernisasi, yang menurut Ben hanya ilusi. Ben membesarkan anaknya di tengah hutan, merayakan hari lahir Noam Chomsky sebagai hari raya alih-alih hari raya Natal.

Tidak seperti ending dalam Captain Fantastic, dimana Ben Cash dan anak-anaknya harus menyerah pada modernisasi dan arus budaya mainstream, buku ‘gunungkidulan’ tidak berakhir antiklimaks seperti ini. Mungkin buku ini tidak akan pernah merebut perhatian literasi nasional dan dibaca atau dikomentari profesor ataupun kritikus sastra kelas wahid. Jangankan seperti itu, menjadi bahan pembicaraan di media sosial dan suatu hari berada di trending topic pun sepertinya tak akan terjadi untuk buku ini.

Tapi ‘toh tidak masalah, buku ini memang tidak bertujuan untuk seperti itu. Keberadaan ‘gunungkidulan’ menurut saya menampar kita dengan sangat keras; bahwa kalau ingin menempuh jalan sunyi, ya sudah, jalan sunyi saja. Kalau niat dari awal ingin menjadi pekerja sosial, ya jangan mengeluh dan membandingkan kesejahteraan hidup kita dengan orang-orang sipil. Bahwa sepi itu suwung, senyata-nyatanya berkarya itu adalah bercumbu dengan yang nihil, yang maha suwung. Sepi ing pamrih, rame ing gawe.

***

Facebook Comments