A password will be e-mailed to you.

Suatu sore yang mendung sambil menyeruput segelas teh hangat, seorang teman mengeluh kepada saya tentang tetangga kompleknya yang kepalang saklek dalam praktik beragama. Konon, dalam sebuah acara mingguan rukun tetangga, ketika teman saya tersebut mengucapkan kalimat syukur: alhamdulillah, tetangganya tersebut menyalahkan panjang pendek dan harakat pengucapannya.

Terlepas dari pengucapan kalimat tahmid yang benar secara semantik dan bahasa, dia bercerita dengan bersemangat bahwa para fukaha dadakan ini hanya akan mengurangi kemesraan kita dalam beragama. Saya pun mengamini pendapatnya. Tanpa mengesampingkan pentingnya memahami ilmu nahwu, tafsir, sharaf, dan sejenisnya, orang-orang jenis ini hanya akan memberi efek destruktif terhadap proses pencarian alamiah dan jalan sunyi masing-masing pribadi terhadap Yang Kuasa.

 

Sastra dan Fiksi sebagai Media Aspirasi

Belasan tahun yang lalu, seorang tante yang waktu itu menempuh bangku kuliah di salah satu universitas negeri di Yogyakarta selalu membawakan saya kopi majalah Annida setiap berkunjung ke rumah. Di situlah perkenalan awal saya terhadap sastra dan kata-kata sebagai medium aspirasi dimulai.

Annida, melalui penulis-penulis yang malang melintang di tiap edisinya; Gola Gong, Helvi Tiana Rosa, dan Asma Nadia, mengenalkan saya akan kekuatan fiksi untuk menunjukkan diri dan mengubah suatu tatanan masyarakat. Saya tidak akan membahas Partai itu yang merupakan induk dari gerakan tarbiyah. Namun saya pikir, metode ini, pada zamannya, adalah pendekatan yang luar biasa.

Melalui Annida juga, saya memulai hubungan misterius yang sulit dijelaskan terhadap kota Jogja yang bertahan hingga saat ini. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, beberapa minggu sekali saya pergi bersama ayah mengantar almarhum kakek ke dokter spesialis penyakit dalam di bilangan Jalan Kaliurang. Mata dan indra anak kecil saya selalu tergetar setiap melewati Bulaksumur dan melihat mahasiwi-mahasiswi berjilbab yang lalu-lalang dari kaca mobil tua milik Bapak.

Apa yang terjadi di batin saya sulit dijelaskan dengan dialektika. Apakah alam bawah sadar saya mengaitkan mbak-mbak berjilbab yang saya lihat waktu itu dengan cerpen-cerpen Annida mengenai seorang akhwat yang sedang berjuang bertahan hidup di tengah kesempitan ekonomi; tentang seorang mahasiswi yang dilanda kegalauan cinta menyangkut idealisme; atau tentang mahasiswi semester akhir yang diputus mendadak oleh tunangannya, saya tak benar-benar tahu.

Kegetiran dan getaran itu benar-benar mampu saya rasakan secara langsung saat menempuh kuliah dan menjalani hari-hari di Bulaksmur. Melihat dan mendengar sahabat-sahabat wanita saya di suatu lembaga dakwah yang umumnya merasakan konflik mirip-mirip dengan cerpen-cerpen yang sering saya baca sedekade lalu, saya menyadari bahwa posisi fiksi dan sastra memang sedemikian kuat dalam menjelaskan realisme keseharian manusia.

 

Ikhtiar Saat Ini

Konteks dan perjuangan kita saat ini tentu berbeda dengan saat tante saya menjadi pelanggan tetap Annida. Perjuangan saat itu adalah bertahan dan keluar dari oligarki. Polarisasi sosial saat itu juga terlampau sederhana, kekuasaan orde baru yang terlampau kuat dan mengakar menjadikan masyarakat kompak dalam melakukan satu hal; memberontak kepada musuh bersama.

Oligarki itu, menurut saya, masih ada hingga saat ini. Dia hanya mewujud dalam bentuk yang lebih subtil melalui pola konsumsi komunikasi kita sehari-hari. Tumbuhnya media digital tidak hanya menyebabkan media mainstream seperti Annida gulung tikar, namun juga memberikan lahan basah tumbuhnya fukaha-fukaha baru secara instan.

Dengan merajalelanya pertumbuhan internet beserta segala turunannya, sangat mudah bagi kita untuk mencari referensi mengenai permasalahan fikih sehari-hari di layar smartphone masing-masing. Di satu sisi, hal ini bagus karena membuka pintu pembelajaran seluas-luasnya. Di sisi lain, menurut saya pribadi, seorang fukaha saja, tanpa sensitifitas kemanusiaan dan empati, hanya akan membuat fikih menjadi sebuah kumpulan kitab tebal dos and don’ts yang membuat keindahan beragama semakin terpupus sedikit demi sedikit.

 

Reaksi Milenial terhadap Dakwah Modern 

Di tengah gempuran fukaha-fukaha dadakan dan banyaknya media online yang destruktif terhadap penghayatan agama, secara alamiah kita justru akan memberikan reaksi yang destruktif pula ke arah yang berlawanan. Dalam sekejab, orang-orang (termasuk saya), akan menjelma menjadi seorang yang mengaku nyufi, yang mendaku memilih berfokus kepada penyucian rohani dan jiwa, dan menjauhkan diri dari ihwal dan nasihat mengenai hukum madhoh dengan dalih agama adalah urusan pribadi.

Sufi, dan ilmu yang mereka amalkan, tasawuf, tentulah bukan perkara remeh. Hanya orang yang sudah mencapai kematangan spiritual tertentu saja yang mampu menempuh jalan ini. Mereka tidak pernah terlihat meleburkan diri terhadap diskusi-diskusi fikih karena mereka sudah selesai dengan hal tersebut, bukan sebagai reaksi perlawanan atas fukaha-fukaha yang menempatkan diri sebagai polisi syariah atas kehidupan kita seperti yang saya lakukan.

Saya memerhatikan, generasi kita pada umumnya terbagi kepada dua kutub tersebut. Ada yang baru memelajari sunnah, lalu dengan semangat berkobar percaya bahwa semua permasalahan hidup bisa diselesaikan dengan memelihara jenggot, menentang riba, dan tidak memilih pemimpin non-muslim. Di sisi berlawanan, tak sedikit pula kawan yang tiap membicarakan masalah agama, langsung bersikap antipati dengan alasan; agama urusan pribadi. Jalan sunyi masing-masing.

 

Jalan Tengah

Saya teringat Rendra, anak sulung saya yang masih berusia lima bulan ketika tulisan ini dibuat. Ketika dia beranjak dewasa nanti, bagaimana agar saya dapat mengarahkannya untuk mengambil jalan tengah dan memahami Tuhan dan hukum-hukumNya sebagai sebuah keindahan? Apakah nanti saya harus menyekolahkan dia di TKIT dan SDIT mahal seperti yang teman-teman saya lakukan? “Mumpung masih kecil, pikirannya masih bersih. Anak-anak harus diajarin hukum islam, rukun iman, dan ngehafal Al-Qur’an sejak dini,” begitu umumnya alasan mereka.

Kelak, saat Rendra dan teman-teman seusianya tampil mengurai permasalahan dunia dengan jari-jari polos mereka, tantangan tentu sudah berbeda lagi. Jejaring sosial dan media-media tentu sudah berbeda dengan sekarang. Media sosial mungkin sudah akan menjadi semacam tanda pengenal, dan semakin banyak fukaha serta sufi milenial yang bertebaran.

Melalui sastra dan fiksi, serta Jeda sebagai cangkir kecil penampungnya, saya berharap Rendra dan anak-anak seumurannya kelak mampu melihat kompleksitas hidup dan menempatkan diri mereka di sepatu orang lain; berempati. Menjadi manusia adalah mengerti dan mampu menempatkan diri di posisi orang lain, lalu menyadari bahwa perangkat akal dan hukum agama ada untuk mempermudah, memperindah, dan menyelesaikan masalah hidup manusia. Bukan menjadi buku acuan benar salah yang hanya mendorong kita menjadi manusia penilai. Ketika saya tak mampu selalu mendampingi dan menjawab berbagai pertanyaan Rendra mengenai dunia, saya berharap Jeda akan menjadi salah satu penolong saya dalam menjelaskan kerumitan hidup padanya.

Harapan dan mimpi ini mungkin berlebihan. Saya dan Rendra akan tumbuh besar di masa yang benar-benar berbeda dengan tantangan yang berbeda pula. Seperti ketidakmampuan saya menjelaskan segala hal tentang hidup padanya, saya juga tidak akan tega untuk mengajarinya benar salah tanpa memberi alasan mengapa ini dianggap benar dan itu dianggap salah. Di tengah gempuran fukaha dan sufi milenial yang akan menjejalinya dengan ketidakseimbangan berpikir, saya berharap melalui sastra dan Jeda, kelak dia tetap dapat memahami indahnya sore hari gerimis yang sederhana di Bulaksumur, melihat perjuangan mahasiswi-mahasiswi berjilbab lebar untuk menuntaskan apa yang telah mereka mulai, tanpa harus membaca majalah Annida yang sudah lenyap tak berbekas ditelan kemajuan zaman.

Facebook Comments