A password will be e-mailed to you.

Cinta adalah satu-satunya alasan mengapa Si Kucing tetap mau hidup sampai sekarang. Rasa itu selalu membuatnya bersemangat ketika ia tiba-tiba tergopoh memikirkan hidup yang begitu muram dan gelap dan penuh kosongan. Hatinya dipenuhi oleh buih-buih kerinduan yang seringkali menguap dan menyatu bersama dengan angin sehingga membuat hidup semakin terasa menyesakkan. Lagipula, untuk apa merindu kalau yang ia rindukan tak berada jauh darinya? Ia bisa selalu mendengarkan suaranya, memandang tubuhnya, dan berandai-andai suatu saat bisa membangun keluarga dan mempunyai anak. Mengapa terlalu serius meratapi cinta dan kerinduan yang memang dari awal sudah menyedihkan ini? Pikir Kucing.

Si Anjing menyalak dengan keras dan garang ke teman-teman di sekelilingnya yang sedang berdiri memandang dengan sebal. Kegelapan malam sudah terlalu didesak oleh matahari pagi yang sebentar lagi muncul dari timur—waktu yang terlalu terlambat untuk memulai perkelahian. Beberapa lampu jalanan di 36th Street Gerber Ave Alley mulai terlihat dimatikan oleh pemerintah kota. Ketika matahari sudah mulai mengeluarkan semburatnya, ia harus pulang ke kandangnya di ujung utara Gerber Ave dan membawa sesuatu yang bisa dimakan berdua dengan Kucing. Sesekali ia memandangi asap kendaraan bermotor beradu dengan cahaya lampu neon jalanan yang membuat dunia tampak begitu silau dan temaram pada saat yang sama. Diingatnya wajah Kucing yang menunggunya dengan sabar, tersenyum, dan dengan bola mata yang kadang terlihat berisikan harapan-harapan. Ia sering melihat gelagat tubuh Kucing yang menunjukkan keinginannya untuk bercinta. Apa yang bisa ia lakukan? Dunia memisahkan keinginannya, meskipun bukan berarti ia harus pula memutuskan untuk berhenti mencintai Kucing. Hubungan kasih sayang tak harus selalu diakhiri dengan bercinta, Pikir Anjing.

Mencintaimu butuh waktu yang lama, Cing, kata Anjing sepulang dari mencari sesuatu untuk dimakan malam itu.

“Aku butuh memperkenalkanmu pada keluargaku, Cing,—dan aku masih kurang yakin mereka akan menerima hal itu. Keluarga kami cukup konservatif, sangat peduli dengan nilai-nilai spiritual, dan menjunjung tinggi kewajaran hidup. Aku takut mereka tak menerimamu sebagaimana yang aku inginkan selama ini.”

“Bukankah kamu begitu mencintaiku? Untuk apa selama ini kita bercumbu di dalam kandangmu, di samping tempat sampah restoran hamburger di Stockton Boulevard itu, orang-orang melihat kita sambil mendengarkan musik melalui Walkman dan meminum wiski, dan kita juga tidak punya malu melakukannya?! Untuk apa?!”

“Cinta tidak harus diakhiri dengan bercinta, Cing…” Kata Anjing membesarkan hati kekasihnya itu dengan sok dewasa.

Tidak ada pilihan lain bagi hubungan mereka selain dengan cara backstreet—diksi di dunia percintaan yang mereka gunakan untuk menggambarkan hubungan yang tak diketahui kedua orang tua mereka. Keluarga Si Anjing memang dikenal oleh seluruh tetangganya di Gerber Ave sebagai keluarga yang paling menentang liberalisasi. Konon, mereka adalah imigran yang datang dari salah satu negara di Asia Tenggara. Sacramento adalah tempat yang nyaman sekaligus aneh bagi mereka: kota yang hangat, dengan beberapa ekor anjing sering terlihat menunggangi kucing yang menungging di bawahnya—mereka kawin tanpa rasa malu. Kadang-kadang di ujung Downey Way dekat Stamp Natalie A, terlihat pula orang-orang menyangking buku di tangan kanan dan tangan kirinya memegang pipi kekasihnya sambil berciuman. Semua terlihat aneh. Bagi keluarga Si Anjing, semua hal di Sacramento begitu berbeda dengan yang mereka temui di kampung halaman.

***

Oalah, Njing…Njing. Kalau kamu tetap mau egois menikah dengan Si Kucing kekasihmu itu, apa bedanya kamu dengan manusia? Mereka hidup tanpa batasan-batasan. Cinta membuat mereka gila. Mereka kawin dengan babi peliharaan mereka, dengan tiang listrik, pernah juga aku dengar ada lelaki yang menyetubuhi mayat istrinya yang sudah mati. Apa bedanya kita dengan Sacramento yang selama ini tampak begitu aneh? Kamu mau menjadi bagian dari keanehan mereka?” Tanya kakak Si Anjing suatu malam.

“Kak, bukankah cinta kadang harus dipaksakan? Aku memang tak mau disamakan dengan manusia, tapi bukankah kita tak pernah bisa berencana hendak jatuh cinta dengan siapa? Kalau untuk cinta pun aku tidak berjuang, apa yang membuatku disebut sebagai binatang seutuhnya?” Diskusi dan perdebatan mereka berjalan serius. Keluarga Si Anjing memang dikenal sebagai keluarga binatang yang cukup diplomatis.

“Ayah tak membesarkanmu untuk menjadi anjing jantan yang diperbudak cinta, Nak…”

“Dengar kata ayahmu, Njing. Karena rasa sayang kami yang besarlah semua larangan ini tertuju padamu…” Kata ibunya.

Perdebatan semakin membuat keluarga mereka runyam. Mereka berubah menjadi keluarga binatang yang jarang bersama dan hanya berhubungan secara transaksional. Si Anjing hanya sempat bertemu dengan kakak, ayah, dan ibunya sewaktu makan malam keluarga. Setelah itu, didorong oleh berahinya yang tak mampu lagi terbendung, ia sering menghampiri Si Kucing, bercumbu sampai pagi di dalam kandangnya di ujung utara Gerber Ave. Orang-orang tak akan mengganggu percintaan backstreet itu, karena mereka akan sibuk sendiri minum wiski, berpesta di Arthur Henry’s Supper Club and Ruby Room sampai subuh, atau bercinta dengan selingkuhan mereka memakai kondom di rumah mereka masing-masing.

***

“Ini terakhir kalinya kita bercumbu. Setelah aku renungkan lagi, aku sungguh tak mau sama dengan manusia. Cinta tak boleh membuatku kehilangan batasan, Cing”.

“Apa yang salah dengan menyamai manusia? Apa yang salah dengan mencintaiku?”

“Maukah kamu sama dengan mereka yang memenuhi toko-toko dan membeli hamburger di Subway Restaurant, di Sunshine Café, dan di restoran sepanjang Stockton Boulevard itu sampai kenyang, tapi hanya memberimu secuil tulang ikan mackerel sisa makanan pembantu mereka yang dibuang ke tempat sampah? Kamu tahu, tulang itu bisa saja suatu saat membunuhmu, atau ayahmu, atau ibumu karena tersedak ketika memakannya. Dengan mencintaimu, haruskah aku sama dengan mereka yang bisa saja setiap saat membunuhmu, Cing?”

Mendengar jawaban kekasihnya, Si Kucing hanya menangis. Ia pergi melenggang dan membuang sisa tulang yang belum selesai ia makan.

***

Seorang ayah terdengar membacakan cerita fabel yang tak masuk akal kepada anaknya yang masih di bawah umur. Aku mendengarnya sambil menahan kencing karena toilet pria Chan’s Restaurant di Stockton Boulevard penuh dengan orang-orang yang sedang onani. Sambil menahan kencing, aku berlari keluar restoran mencari toilet umum dan menangis. Meninggalkan kekasihku dan anaknya memakan hamburger, aku hanyalah kucing gila yang menjalani hidup karena cinta.

Facebook Comments