A password will be e-mailed to you.

Lewat tengah malam di Januari yang hujannya turun saban hari adalah waktu mustajab untuk berdoa. Aku di teras rumah: merokok tanpa minum kopi, sambil memikirkan baik-baik pesan mertuaku tersebut. Kutengok jam dinding yang membelakangiku di ruang tamu. Jarum pendek menunjuk di jarak kecil antara angka dua dan tiga. Jarum panjang tak begitu terlihat karena lampu memang kumatikan untuk mencegah istriku bangun dan memergokiku di luar.

Kuhisap rokok dalam-dalam. Tengah malam begini memang waktu yang tepat untuk mengenal diri. Setiap terbangun jam segini, aku jadi merasa lebih tahu apa yang benar-benar kuinginkan. Kadang petunjuk kegelisahan itu datang lewat kelebat hal-hal pertama yang kupikirkan ketika mataku tiba-tiba terbuka, nglilir.

Yang kupikirkan pertama kali adalah nama Barbara, nama samaran seorang wanita yang siang tadi masuk di ponselku. Nama yang dewasa dan kosmopolit, pikirku. Mungkin dengan Barbara, aku bisa mengoceh tentang segala hal: dari kegemaranku menonton film-film eropa sampai geliat fintech yang membuat istriku semakin konsumtif saja. Mungkin aku akan mengobrol semalam suntuk, merokok, melihat tawa Barbara yang simpul, sampai kemudian pertemuan itu akan diakhiri dengan ucapan selamat tinggal yang sarat akan nada kepuasan.

***

 

Malam sabtu yang gerimis itu adalah jadwal pertemuanku dengan Barbara. Aku mengendarai mobil menuju hotel menengah yang ada di pinggiran kota. Macet seperti biasa, namun kupikir layak karena akhir pekan begini pasti orang-orang sialan sepertiku membutuhkan rehat sejenak dari kesepian dan kesibukan khas ibukota. Lagipula, ‘kan aku akan segera bertemu dengan Barbara.

Di lobi, resepsionis memberitahuku bahwa dia sudah ada di kamar 402, yang langsung menghadap danau dan dilengkapi balkon untuk merokok. Resepsionis bilang kalau Barbara sudah tiba dua jam lalu, dan ya, menurutnya, wanita itu terlihat sangat mengagumkan dari caranya berjalan dan berbicara. Hebat sekali, mereka mengatur pertemuan ini dengan sangat rapi. Kuucapkan terima kasih sebagai tanpa apresiasi sekaligus kekagumanku.

Setelah memesan minuman, aku menaiki lift dan menuju kamar itu dengan hati yang berdebar-debar. Meskipun aku punya kunci, kuputuskan untuk mengetuk pintu. Demi impresi pertama yang baik, tentu saja.

“Iya, sebentar…” terdengar suara dari dalam, “one minute.”

Agaknya wanita di dalam ini benar-benar dewasa dan kosmopolit seperti perkiraanku. Kurapikan sedikit mantel beludru yang kupakai, dan aku pura-pura mengeluarkan ponsel agar terlihat sebagai pria kantoran yang cukup sibuk ketika Barbara membukakan pintu dan melihatku untuk kali pertama.

“Halo mas Yudha, so sorry. Sudah nunggu lama ya?”

It’s oke. Baru beberapa menit. Aku yang minta maaf baru tiba,” tukasku agak grogi karena sejauh ini Barbara yang ada di depanku ini jauh melampaui ekspektasiku.

“Gapapa mas. Kalau jumat begini, memang biasa pulang cepat asal semua kerjaan sudah diedit. Biasa, editor partikelir.” katanya merendah.

“Mau mandi atau istirahat dulu mas? Atau mau langsung ngopi? Aku bawa kopi Brasil ini, dibawakan temenku. Senior photographer yang habis meliput langsung demonstrasi besar-besaran di sana minggu lalu. Kebetulan aku juga dibawakan kacang almond dan coklat, nanti dibawa pulang saja untuk istri dan anak mas Yudha.”

Aku mengangkat alis dan tersenyum agak lebar. Kukira Barbara, dengan pembawaanya yang seperti ini, sedikit banyak menghapus rasa canggungku. Namun ada perasaan ganjil yang aku sendiri bahkan tak bisa mengungkap ketika melihat tulang pipi dan senyum kenes miliknya. Kubilang aku mau ke kamar mandi sebentar, dia sopan mengiyakan dan menuju balkon. Merokok, agaknya.

***

 

“Gimana ceritanya Yud, kok bisa sudah tak berhubungan badan selama dua setengah tahun dengan istrimu?” wanita yang mengaku bernama lengkap Kundera Saphira itu tertawa lebar sambil menghirup rokoknya. Sepertinya ia hampir tersedak karena menertawakanku.

“Mertuaku tinggal di rumah. Karena anakku sedang lucu-lucunya, istriku juga lebih sering mengurus anak bersama ibunya. Aku tak keberatan soal itu, sebenarnya. Yang kupusingkan adalah, aku tak pernah punya kesempatan untuk duduk berdua membicarakan isi hatiku dengan istriku. Kupikir dia terlalu mencintai anak kami sehingga melupakanku.”

Kami berdua menatap bintang-bintang. Temaram lampu neon di balkon kamar 402 menunjukkan hidung mancung Kundera. Dengan wajah tegas dan kepribadian menyenangkan seperti ini, dalam lubuk hati aku heran kenapa dia mengikuti komunitas yang iseng-iseng kuikuti ini. Tak terlihat sedikitpun luka ataupun dingin sepi yang menderanya. Ia juga terlihat sangat mampu mengendalikan diri dan kata-kata yang keluar dari mulutnya, sehingga pikiran konyolku bahwa Barbara ini adalah seorang maniak juga sudah aku buang sedari tadi.

“Kamu sendiri, Kun, mengapa ikut pertemuan ini? Kalau aku, aku jelas membutuhkan teman mengobrol. Seorang yang mau mendengarkanku. Lebih dari itu, mengerti aku. Kau tahu, ‘kan? Kupikir kamu sama sekali tidak merasakan kesepian di kota yang ramainya palsu ini.”

Aku memberanikan diri bertanya. Jujur, aku merasa sangat nyaman dengan wanita ini sejak dia membukakan pintu kamar hotel untukku tadi. Sikapnya yang lembut, sedikit banyak, membuatku berani terbuka dan blak-blakan kepadanya.

“Justru itu, Yud. Aku terlalu menikmati kepalsuan ini. Pekerjaanku terlampau cocok dengan hobiku, sehingga aku tak menemukan sedikitpun stres seperti yang diidap orang-orang. Mungkin kamu pikir hal itu baik dan perlu disyukuri. Kau tau, lah. Manusia. Kadang aku justru takut bilamana aku ini terlampau bodoh dan tak bisa melihat dunia sebagaimana mestinya.”

“Tak ada motivasi lain? Bertemu dengan orang asing, mendengar cerita-cerita mereka?” Aku bertanya menyelidik, dan sedikit menjurus.

What do you expect? Hahaha. Aku memang sudah berkali-kali ikut pertemuan konyol yang dibahasakan teman kantorku dengan anti loneliness loneliness club ini. Aku juga paham apa motivasi utama para laki-laki beristri mengikuti komunitas semacam ini. Kebanyakan pria yang kutemui memang brengsek, tapi aku suka kejujuran mereka. Cerita-cerita mereka.. kurasa membuatku lebih kaya.”

Dia menyeruput kopi brasil yang dia seduh sendiri, dan melanjutkan sambil menyalakan batang rokok yang baru, “Setelah belasan kali mengikuti pertemuan acak ini, aku menyimpulkan bahwa yang lelaki butuhkan sebenarnya bukan persetubuhan. Mereka cuma butuh didengarkan. Kebanyakan lelaki yang kutemui, setelah bercerita panjang lebar tentang rasa sepi dan penderitaan mereka, memelukku sambil menangis tersedu-sedan. Memang aku beberapa kali bercinta dengan mereka, tapi intinya bukan itu.”

“Jadi, bila aku mengajakmu bercinta kamu tak akan menolak?” tanyaku dengan nada berdesir. Aku sudah tak memikirkan soal itu sejak berbicara panjang lebar dengannya. Penjelasannya barusan mau tak mau membuatku memikirkan itu kembali.

“Tentu saja tidak. Empat lima kali lenguhan mungkin tak sanggup menggantikan semua kemuakanmu tentang hidup. Juga tidak akan membuatmu bahagia dan menghapuskan segala kesepianmu. Tapi, kurasa kamu Yud, dibandingkan dengan semua lelaki yang kutemui di pertemuan ini, paling layak mendapatkannya.”

Dia tersenyum. Bukan senyum godaan, bukan pula senyum yang terdengar menertawakan. Lekuk bibir itu, lebih terlihat sebagai sebuah bentuk pengertian dan welas asih. Jika dia tertawa seperti ini, kurasa wajah Barbara, atau Kundera, sangat mirip dengan wajah istriku.

***

 

Aku mengendarai mobil pulang dengan kantong mata yang berat. Aku tak tidur sama sekali. Kutinggalkan Kundera setelah kami sarapan bersama di pinggir danau buatan yang penuh dengan kicauan burung gereja. Setelah bertukar nomor ponsel, aku bergegas pamit undur diri karena hari ini anakku berulang tahun. Kundera bilang, dia tak keberatan untuk bertemu denganku lain kali. Hak istimewa yang, menurutnya, hanya diberikannya padaku dari belasan pria lain di klub yang sudah pernah bertemu dengannya.

Menuju garasi dan memarkirkan mobilku, aku teringat akan kacang almond dan coklat dari Kundera untuk anakku yang lupa kubawa. Biarlah, kupikir. Anakku yang berulangtahun tentu saja lebih membutuhkan aku yang menunda percintaan dengan orang asing daripada sebuah coklat dan almond Brasil. Barbara, atau Kundera, bisa menunggu minggu depan atau bulan depan.

****

 

“You can’t measure the mutual affection of two human beings by the number of words they exchange.” 
― Milan Kundera

****

Facebook Comments