A password will be e-mailed to you.

Tempo hari, saya bertemu dan mengobrol agak panjang dengan seorang teman lama. Hampir sepuluh tahun lamanya kami tak berjumpa. Meski dia adalah tetangga kecamatan, jalan hidup yang berbeda dan fatamorgana interaksi yang disebabkan oleh adanya media sosial membuat niatan bertatap muka tak lagi menjadi prioritas bagi kami masing-masing. Kami sama-sama berasal dari desa, akar kami adalah keluarga Jawa yang struktur sosial antar anggota keluarga tidak selentur masyarakat urban. Tiap pulang kampung, kami tidak terbiasa untuk memeluk bapak ibu kami dan merajuk, “Aku kangen bangeet sama Ibu Bapak. Di Jakarta nggak ada orang tua, hidup rasanya sepi sekali.”

Kontras dengan saya yang penampilan fisiknya berubah jauh dibandingkan satu dekade lalu, teman saya ini relatif tak berubah banyak. Badannya masih kurus seperti dulu, dan sikap malu-malu nan sopan yang subtil tercermin dari senyumnya masih sama persis seperti dahulu kala. Dia anak yang cerdas dan pekerja keras. Semenjak ayahnya jatuh sakit beberapa tahun lalu, dia praktis menjadi tulang punggung keluarga. Dua adiknya sekolah dari hasil jerih payahnya bekerja, bahkan pengobatan sang ayah juga ditanggung olehnya. Saya tentu tak cukup kuat sehingga Tuhan tidak memberi saya cobaan seberat itu.

Teman saya ini bercerita bahwa ayahnya meninggal setahun yang lalu. Entah kesibukan apa yang saya punyai waktu itu sehingga tidak menyempatkan diri melayat ke rumahnya, padahal kabar tersebut juga sampai ke telinga saya dari ibu maupun dari teman-teman yang lain. Sampai saat ini dia masih merasa begitu hampa. Kesedihan yang berlarut-larut tersebut tidak hanya disebabkan oleh kepergian orang tua untuk selama-lamanya, namun juga ditambahi oleh penyesalan karena dia jarang pulang kampung di bulan-bulan terakhir umur ayahnya. Dia merasa ada perubahan drastis di kepribadian sang ayah, yang dia sebut semakin sensitif dan pemarah sejak dia bekerja di Jakarta.

Sebagai orang Jawa, kami terbiasa ngampet (menahan diri) apabila ada rasa tidak “sreg” terhadap sikap orang tua. Bukan hanya karena tak ingin menyakiti hati mereka, kami anggap itu adalah salah satu perwujudan nyata dari birrul walidain kami sebagai seorang anak. Dalam kasus ini, respons yang bisa dia tunjukkan adalah “jarang pulang”. Hal itu didukung oleh semakin langkanya teman-teman seangkatannya yang masih menetap dan mencari nafkah di desa, sehingga dia menjadi seperti orang asing di tanah kelahiran sendiri.

Ayahnya adalah seorang yang kalem dan bersahaja. Sejak dulu dia selalu bercerita bahwa beliau adalah sosok bijak nan penuh perhitungan, yang dengan telaten mengajarinya ilmu agama maupun menyuruhnya untuk les ini itu yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Namun, di hari tuanya, sang ayah menjadi pribadi yang sensitif dan tegang. Beliau sering sekali menggerutu soal orientasi hidup dan ibadah anaknya. Selain itu, sang ayah yang dahulu mendorongnya untuk mengembangkan diri semaksimal mungkin justru menyebut teman saya saat ini sudah mulai ngutha (terlalu kekota-kotaan), lupa akarnya, dan terlalu melangit untuk ukuran seorang anak desa. Menurut teman saya ini, menyebut pergi liburan ke luar negeri sesekali dan les bahasa asing selain bahasa inggris di era yang menuntut persaingan global seperti saat ini sebagai perbuatan ngutha dan terlalu melangit sangatlah berlebihan.

Bongkar Pasang dan Konsistensi Pemikiran

Kita sering mengagung-agungkan konsistensi pemikiran, keteguhan pendirian, dan keruntutan proses berpikir dalam menilai pilihan hidup seseorang. Bagi masyarakat penilai seperti ini, sangatlah sulit menemukan sosok yang dapat dijadikan teladan maupun panutan. Sosok garang seperti Iwan Fals misalnya, diledek kehilangan idealisme masa muda yang tercermin melalui lagu-lagu berlirik tajam yang mengritik pemerintah hanya karena dia menjadi brand ambassador suatu produk kopi instan. Contoh lain, maestro sastra yang dulu menjadi musuh utama orde baru, Goenawan Mohamad, juga dianggap beraliran sesat dan bertujuan mengerdilkan ruang gerak umat Islam karena beberapa kali menunjukkan sikap dukungan terhadap langkah politik petahana.

John Allen Paulos, seorang profesor ilmu matematika yang notabene merupakan ilmu eksakta, menyatakan, “Uncertainty is the only certainty there is, and knowing how to live with insecurity is the only security.” Melihat banyaknya kegilaan di sekitar kita, saya kadang berpikir bahwa standar nilai-nilai yang kita anut sangatlah tidak mencukupi sebagai pegangan dalam menghadapi keruwetan hidup dan kompleksitas masalah-masalah sosial maupun ekonomi di zaman ini. Begitu banyak peristiwa yang tetangga kanan-kiri kita alami — yang tidak kita mengerti dan pahami sama sekali, namun kita justru dengan pongah dan mantap memberi penilaian a, b, c, sampai z atas peristiwa-peristiwa di televisi yang notabene hanya kita lihat sampulnya saja.

Dengan dinamika kehidupan yang terus berkembang dan berubahnya tatanan sosial, hal yang positif di masa lalu belum tentu masih memiliki identitas tersebut saat ini, begitupun juga sebaliknya. Penggunaan jilbab secara massal dan mendadak di zaman digital seperti sekarang dengan merebaknya tren industri syariah tentu memiliki konsekuensi dan motivasi berbeda dibandingkan dengan penggunaan jilbab pada rentang waktu akhir masa orde baru, dimana budayawan Emha Ainun Nadjib dan mahasiswa-mahasiswi Universitas Gadjah Mada melakukan kritik terhadap rezim saat itu melalui seni dengan syair “Lautan Jilbab”-nya.

Masyarakat kita seakan gagap dalam memaknai perubahan-penyesuaian dalam konteks sosial politik dan sejarah, yang tentunya memberi implikasi pada perubahan motivasi dan orientasi dalam bertingkah laku manusia kita. Kita lebih suka pada wadah, karena untuk melihatnya praktis dan tidak dibutuhkan upaya, ketelitian, dan ijtihad. Padahal itu bukan isi yang sesungguhnya merupakan esensi. Kadang saya merasa getir dan kelu melihat sosok yang begitu berjasa di masa lalu dianggap menjadi pesakitan oleh sebagian kita. Itu bisa jadi adalah siapa saja; Ayah teman saya, Goenawan Mohamad, Amien Rais, Iwan Fals, bahkan Soekarno.

Menjadi Reaktif

Suatu petang di hari Jumat, sepulang bermacet-macet ria di Mampang menuju rumah kontrakan saya di Jagakarsa, sambil menyeruput kolak pisang saya iseng membuka Facebook. Seorang teman daring yang sekarang menjadi staf pengajar di salah satu sekolah menengah atas di Klaten menulis status update seperti ini, “Anies Baswedan, Ketua Tim Pemenangan Jokowi di 2014 sekarang merapat ke Prabowo karena sadar dan bertaubat. Mahfud MD, Ketua Tim Pemenangan Prabowo di 2014 sekarang merapat ke Jokowi karena ongkang-ongkang tapi mendapat uang seratus juta. Hmm, sebuah perbedaan. Menggambarkan dinamika politik. Esuk dele sore tempe.”

Membaca itu, saya manggut-manggut saja. Setelah menutup aplikasi Facebook pada saat itu juga, saya bertekad untuk mengurangi penggunaan media sosial, paling tidak selama musim pemilu ini. Bukanlah Jokowi, Prabowo, maupun Anies dan Mahfud MD masalahnya, tapi sebegitu reaktifnya-kah masyarakat kita dalam menentukan penghakiman kepada seseorang?

Berdamai dengan Hidup dan Segala yang Melingkupinya

Sejak menikah dan mencari nafkah di Jakarta, hubungan saya dengan bapak saya justru bisa dibilang semakin dekat. Dari yang tadinya begitu kaku secara struktural khas orang Jawa pedesaan, kini saya selalu bergetar sentimental setiap mendapat wejangan dari beliau. Saya mungkin tidak memeluknya setiap beliau mengantarkan saya ke stasiun Lempuyangan dan berbisik betapa saya akan merindukannya sampai kepulangan yang berikut. Paling tidak, kini beberapa hari sekali kami selalu bertukar kabar lewat telepon maupun pesan pendek WhatsApp.

Dari bapak, saya belakangan tahu bahwa ayah teman saya yang meninggal setahun lalu itu hidup sebatang kara sejak berumur belasan tahun. Ayahnya (berarti kakek teman saya) hilang ditelan bumi dalam peristiwa gelap tahun 1965, dan istrinya menyusul beberapa tahun kemudian. Ayah teman saya tersebut bekerja serabutan sejak remaja sampai akhirnya memiliki beberapa petak sawah sendiri saat usianya sudah lumayan tua. Sepanjang hidupnya ia tinggal bersahaja di desa, menikah dengan gadis desa sebelah, dan beranak-pinak disana. Bisa dibilang sepanjang hidupnya dia tak mengenal kemudahan, kemewahan, maupun kesenangan yang timbul dari modernisasi. Maka ketika dia mempermasalahkan teman saya yang dianggapnya terlalu ngutha gara-gara suatu hari memberinya gantungan kunci Merlion saat pulang kampung, saya mengerti sedalam-dalamnya.

Sepintas saya ingin mengajak teman ini bertemu lagi, dan mencoba menghiburnya dengan berkata-kata betapa hebat ayahandanya di mata saya. Lalu saya sadar bahwa itu bukan ranah saya; dia berhak menemukan kedamaian dengan caranya sendiri dan dengan prosesnya sendiri. Mungkin besok atau lusa teman saya tersebut pada akhirnya tidaklah kecewa-kecewa amat dengan perubahan sikap yang dialami ayahandanya. Mungkin Kesedihan dan kehancuran hatinya akan lebih dipengaruhi pada fakta bahwa dia gagal paham dalam memahami konstelasi berpikir sang ayah, dan karena dia cenderung mensimplifikasi bentuk kasih sayang orang tua haruslah konsisten terhadapnya. Atau mungkin juga tidak.

Hati saya runyam, seperti kelegaan yang menggantung, ketika mengambil kesimpulan untuk semua ini. Saya memutuskan untuk maklum dengan semuanya; terhadap segala ketidakdewasaan kita dalam menilai seseorang, terhadap segala kompleksitas hidup yang membuat tetangga-tetangga kita menjadi pesakitan-pujaan dalam hitungan hari, dan juga terhadap semua kekecewaan saya terhadap hidup saya sendiri. Bongkar pasang pemikiran dan dialektika idealisme kita masih terus berjalan, begitu juga penderitaan dan kesejahteraan yang tidak abadi. Saya, teman saya, dan kenalan saya sang guru sekolah menengah atas di Klaten itu suatu saat pasti akan memahami, atau dipahami, bahwa memang tak semua hal di pikiran kami; entah yang kami benci atau yang kami sukai, tak semuanya dapat dimengerti. Berdamai dengan ketidaktahuan mungkin bukan satu-satunya jalan untuk menjadi tidak reaktif, tapi mungkin itu adalah salah satu cara yang paling efektif di zaman seperti sekarang ini.

Facebook Comments