A password will be e-mailed to you.

Dalam hidup, saya adalah orang yang sangat menghargai kesunyian. Penghargaan ini begitu terasa ketika tiba-tiba saya tersenyum sendiri melihat orang-orang yang kewalahan menjalani hidup, gedhandhapan menjalankan pekerjaan keseharian mereka, sampai—mungkin—tergesa-gesa pergi ke gereja, masjid, atau kuil untuk beribadah. Pemandangan semacam itu otomatis selalu saya bandingkan dengan kehidupan saya sendiri yang cenderung berantakan, tidak terstruktur, dan tanpa perencanaan-perencaan. Kebahagiaan justru saya dapatkan setelah melakukan perbandingan itu: Tuhan ternyata bermurah hati menganugerahi saya kesempatan untuk lebih menikmati kesunyian dibanding orang lain.

Berkaitan dengan sunyi dan kerinduan, saya pernah mendengar nasihat dari seorang guru spiritual yang tidak perlu saya sebutkan namanya. Pada suatu saat, beliau pernah berkata bahwa kehidupan ini dipenuhi lubang-lubang sunyi dan kerinduan yang begitu ghaib: kita sendiri bahkan tidak pernah tau apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup—atau kalau mau sedikit romantis, manusia selalu punya kerinduan terhadap hal-hal yang bersifat acak. Lubang dan rindu itu akan selalu ada dan membesar sendiri seiring dengan berjalannya waktu dan semakin banyaknya pengalaman yang ditemui manusia. Hal itulah yang mungkin menjadikan orang-orang dengan kehidupan yang terstruktur dan berpandangan futuristis karena banyaknya keinginan dan cita-cita, justru seringkali terlihat memiliki wajah yang murung dan cenderung nggapleki.

Setelah mendengar nasihat itu, saya kemudian menjadi mafhum ketika tiba-tiba hati terasa sesak, sakit, atau minimal mak clekit ketika saya tergopoh memikirkan hidup yang sebenarnya sudah terlalu rumit dan menyita waktu saja untuk dipikirkan ini. Bisa dibilang, perasaan itu muncul akibat ketidakmampuan saya mengisi lubang sunyi itu—kerinduan saya terhadap sesuatu tidak dapat terpenuhi. Tapi, ketidakmampuan itu tak lantas membuat saya kecewa dan marah pada diri sendiri.

Cara Manusia Menutup Lubang dan Menggenapi Kerinduan
Dalam kehidupan yang begitu singkat namun menyesakkan hati karena membuat kita selalu gelisah ini, orientasi pribadi akan menentukan bagaimana cara seseorang menjalani hidup dan menutup lubang sunyi itu. Beliau—guru spiritual itu—membahasakan hal ini dengan memperbesar ke”aku”an. Pembesaran ke”aku”an ini—sayangnya—dapat ditempuh melalui berbagai hal, sehingga membuat kita maklum ketika melihat manusia hanya saling sikut dan meniadakan yang lain dalam berbagai lini dan bidang hidup dalam rangka menutupi lubang sunyi itu. Cara paling gampang sekaligus yang paling materialis, orang akan memperbesar ke”akuan” dan melengkapi kerinduannya dengan lebih banyak makan dan mengisi perut.

Orang dengan cara hidup semacam itu, selain karena pasti memang suka mbadhog, bisa saja justru karena ia sudah selesai dalam memandang hidup, sehingga tidak ada lagi hal yang lebih nikmat ketimbang makan makanan enak dan membuncitkan perut. Di samping itu, mungkin saja orang akan lebih memilih menempuh cara lain dengan memiliki kekasih, mengejar kekuasaan, memperkaya diri, atau—justru yang paling parah—sok zuhud terhadap dunia justru dengan membuat Tuhan repot-repot turun tangan menutup lubang dan melengkapi kerinduan mereka sendiri. Orang dengan kategori terakhir semacam itu telah sah diwakilkan oleh ustaz-ustaz yang mematok tarif untuk mengisi pengajian, politisi pemberi ceramah keagaaman sambil kampanye di masjid, atau haji-haji yang rela meminjam uang ke tetangganya untuk berangkat ke tanah suci.

Kenyataan hidup dan ambisi-ambisi semacam itu, meskipun sering membuat kita sakit perut karena ingin tertawa sambil mengernyitkan dahi, justru menumbuhkan suatu kesadaran sufistik yang asing namun penting: bahwa hidup ini memang embuh, dan dalam keembuhan itu, orang akan bahagia dengan menikmati kesunyian.

Tuhan dan Kesunyian
Dalam kenyataan sosial yang kemudian saya sadari begitu sempit ini, manusia selalu menghabiskan waktu untuk melengkapi lubang dan mengobati rindu mereka masing-masing. Sayangnya, usaha ini seringkali ditempuh dengan—sengaja atau tidak—merugikan dan menghilangkan rasa nyaman orang lain dalam menjalani hidup. Untuk menutup lubang dan mengisi rindunya, seseorang akan selalu berusaha menghalangi orang lain untuk memenuhi keinginan dan tujuan yang sama. Hal itulah yang kemudian membuat hidup ini lantas terlihat seperti perlombaan tanpa akhir sekaligus tak pernah terlihat siapa pemenangnya: lubang dan rindu itu akan selalu membesar dan semakin menyesakkan hati seiring berjalannya waktu.

Menutup tulisan ini dengan cara yang agak agamis, saya merasa bersalah sudah mengabaikan Tuhan untuk terlibat dalam pembahasan tulisan ini sejak awal. Kalau boleh sedikit kurang sopan, saya selalu berpikir bahwa pada awalnya Tuhan adalah “bujang” yang kesepian. Dilatarbelakangi oleh kesepian itu, secara iseng Dia menciptakan sebuah opera sabun dengan manusia-manusia berahi sebagai aktornya dan dunia sebagai tempat pertunjukannya. Penciptaan ini tak lantas Dia gunakan sebagai hiburan dan pengisi kesunyian—toh kita tahu Tuhan adalah Dzat yang tak memerlukan apapun. Dia hanya ingin bermain-main saja dan menguji kemampuan makhluk-Nya dalam menikmati sunyi dan sepi yang sudah Dia rasakan sendiri sejak awal. Hanya karena Tuhan menjalani hari-hari-Nya dalam lubang kesunyian, bukan berarti Dia membutuhkan sesuatu untuk menutupi lubang itu.

Kalau saja saat ini kita sedang berhadap-hadapan dalam sebuah pertemuan dengan Tuhan, dibarengi pula oleh ketelitian dalam membaca tulisan ini sejak awal sebelum kita hadir dalam pertemuan itu, kita tentu hendak bertanya: “Lantas, apa yang sejatinya Engkau rindukan, wahai Tuhan?” Tanpa bermaksud lancang, saya menebak, kemungkinan besar Dia akan menjawab sambil tertawa, “Mereka yang hatinya sesak, karena hidup dengan menikmati kesunyian!”

Facebook Comments