A password will be e-mailed to you.

Ia mengendarai motor kiriman ayahnya dari desa melewati jalanan Mampang yang macet sepulang kerja. Hujan telah selesai membasahi Jakarta, membuat petrikor mulai tercium dan setiap laki-laki ingin segera pulang dari kantor mereka di Menteng untuk memeluk istrinya sambil menikmati udara dingin yang mulai tercemar. Pemerintah kota tampaknya belum selesai menyelesaikan proyek pembangunan trotoar yang membuatnya sulit dilewati sehingga jalanan tampak begitu sepi dari pedestrian.

Dalam perjalanan dengan jarak yang dekat namun memakan waktu yang lama itu, hanya tersisa pemandangan beberapa warung kecil yang menyediakan kopi dan rokok bagi orang-orang yang sedang kelelahan dalam perjalanan, dengan pembeli yang sesekali keluar dari mobil sambil berjinjit karena menghindari jalanan yang becek. Doni menaiki motornya, memakai Walkman yang ia beli semasa kuliah yang masih cukup awet untuk ia pakai hingga sekarang. Kegiatan mendengarkan lagu semacam itu terasa cukup menghiburnya di tengah kesibukan dan kebosanan hidup di Jakarta.

“You and I have memories longer than the road that stretches out ahead…” ia menirukan suara John Lennon yang keluar dari Walkmannya ketika motornya mulai memberi sign hendak berbelok ke kanan di perempatan dekat Ragunan. Beberapa mikrolet dari arah Pasar Minggu terlihat masih mengangkuti penumpang yang membawa keranjang belanjaan dan mengajak anak-anak mereka.

Ketika ia mulai memarkirkan motornya saat tiba di depan kontrakannya di daerah Jagakarsa, lagu “Two of Us” milik The Beatles yang sedang didengarnya hampir saja selesai. “On our way back home…” lirik terakhir masih sempat ia dengar sebelum Walkman yang menancap di handphonenya ia cabut dan menjadi penyebab berhentinya suara John Lennon yang sedang bernyanyi.

Menyambut suaminya yang datang dari pekerjaan, Layla melirik ke arah Doni sambil tetap menyusui anaknya seperti malam-malam biasanya.

“Sabar ya, nanti gantian. Kamu mandi dulu, sana…” Rayunya.

Rayuan yang terlalu biasa hingga tak menyerupai rayuan semacam itu telah lebih dari cukup untuk menghidupkan hasrat seksual mereka. Semenjak hidup di Jakarta, dibanding dengan pasangan-pasangan muda yang lain, mereka berdua memang tergolong jarang bercinta. Karena menjalani pekerjaannya di Menteng, Doni sering pulang larut malam dan datang ketika istrinya sudah terbangun dari tidur hanya untuk kencing atau menyusui anaknya yang menangis, sementara Layla terlalu lelah untuk bercinta dan telah merasa cukup bahagia setelah seharian menunggu suaminya datang sambil menonton opera sabun di rumah tetangga.
Puncak kebahagiaan mereka rasakan ketika kedua orang tua mereka datang dari Jogja untuk mengajak anak mereka yang masih balita berjalan-jalan. Beberapa bulan sekali, orang tua mereka memang terbiasa datang jauh-jauh dari kampung menaiki kereta untuk menjenguk cucu kesayangan mereka. Di saat-saat seperti itu, Doni dan Layla punya kesempatan untuk pergi berdua menonton bioskop, menghampiri beberapa stasiun untuk mendengarkan suara gesekan antara roda peron dan rel, membeli jagung bakar, dan malamnya pulang larut, terlalu larut hingga menjelang pagi setelah sebelumnya bercinta dengan liar di hotel-hotel melati di daerah Ragunan.

Percintaan di Jakarta tampak begitu mahal dan asing dibanding di desanya di dekat pelabuhan Laut Selatan Pulau Jawa, ketika mereka berdua bertumpang-tindih di atas kasur yang telah berumur ditemani suara ombak, dara laut jelaga yang terbang rendah terlihat dari jendela, dan teriakan nelayan yang hendak berangkat mencari ikan. Setiap pulang ke kampung halaman, orang tua mereka selalu menjadi orang yang cukup berlebihan dan memaksakan diri dengan mempersiapkan kamar berkasur tua yang dihiasi taburan bunga dan dicat kurang rapi—setiap Doni dan Layla pulang, kamar itu selalu punya dinding dengan warna cat yang berbeda.
**

Azan subuh dengan suara yang sama-sekali sumbang menyeruak sehingga membangunkan Doni dan Layla yang telah selesai melakukan percintaan. Mereka harus bergegas untuk bergantian menggunakan kamar mandi, dan setelah pukul 5 nanti, Layla harus segera memandikan anak balitanya lalu mengajaknya berjalan-jalan untuk barangkali menemukan pagi di Jakarta.

Dari jalan-jalan pagi Layla yang singkat itu, terlihat sopir taksi yang mengendarai mobil dengan wajah murung, penjual bubur ayam yang mendorong gerobak dalam keadaan mengantuk, dan beberapa ibu sejenis dengannya yang memberhentikan tukang sayur. Sepanjang perjalanan, anaknya selalu merengek meminta hampir segala sesuatu yang ia temui di pinggir jalan; bubur ayam, es krim, tomat dan sawi, sopir taksi, hingga kereta api.

“Kita sudah cukup punya segalanya…” Tutur Layla menenangkan anaknya dengan bijak dan cenderung tolol mengingat orang di depannya yang sedang ia ajak bicara dengan bahasa semacam itu adalah anak berusia 4 tahun.

Berjalan semakin jauh, Layla bertemu dengan Doni yang sedang bersiap-siap untuk membantu ayah pergi melaut. Terlihat suaminya itu mengalungkan jaring ikan di bahu sebelah kanan, memakai sepatu karet khas nelayan berwarna hitam di kakinya, dan berjalan menuju selatan di antara bebatuan pantai untuk mendekati perahunya yang diparkirkan di pinggiran dermaga bersama ayah. Ombak dan angin pantai berdesis pelan layaknya bisikan orang yang mendekat ke telinga Layla. Tangisan anaknya menyatu dan bersetubuh dengan suara air yang masuk ke sela-sela karang, pijakan kaki para turis yang berlari-lari di sepanjang garis pantai, dan penyewa toilet yang sedang berteriak-teriak.
**

Ayah membangunkanku dengan wajah setengah sebal untuk salat subuh, meskipun ketika itu, semburat merah telah mulai muncul dari timur jendela kamar. Rambutnya terlihat basah, sementara di pagi buta—aku terbiasa bangun siang—semacam itu, ibu sudah terdengar menggoreng ikan di dapur untuk bekalku ke sekolah. Keluar dari rumah, aku memandang seorang wanita berjalan dengan perasaan yang terasing, melepaskan genggaman dari tangan anak balitanya yang butuh gandengan, dan menyeringai pada semua orang yang ia jumpai dengan cara yang kaku.

Udara pantai di pagi hari masih sejuk. Para turis dan warga lokal mendatangi warung-warung kecil dan duduk selonjoran sambil memesan kopi, ikan bakar, dan beberapa pula lobster. Ayah terdengar meneriaki kakakku yang berjalan dengan lambat karena memandangi wanita cantik yang sama-sama memandangnya dari pinggir pantai: pagi itu, ayah mengajak kakak untuk memancing. Burung dara jelaga terbang rendah, nelayan-nelayan berteriak, ombak belum mulai pasang, dan ibuku membersihkan toilet umum yang kami bangun untuk disewakan.
**

Seorang wanita terbangun di pagi hari karena mendengar anaknya yang sedang menangis. Layla, dengan wajah setengah malas membangunkan Doni yang masih telanjang dan merangkulkan tangan ke tubuhnya. Hujan mulai turun dan membasahi Jakarta. Di Minggu pagi yang dingin semacam itu, kebahagiaan datang karena suaminya tak perlu pulang larut malam dari pekerjaan. Hanya saja, ia harus berbesar hati untuk mengakhiri mimpi dan percintaan yang bahkan belum ia mulai.
***

Apa Ada Angin di Jakarta
Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

(Umbu Landu Paranggi)

Facebook Comments