A password will be e-mailed to you.

Akhir-akhir ini, kita semakin sibuk dengan berbagai kata dan istilah baru yang berseliweran di linimasa media sosial. Frasa seperti unicorn, industri 4.0, internet of things, milenial, generasi x, generasi z, dan lain sebagainya hanya semakin membingungkan kita yang memang sudah pembingung dari awal. Memahami semua istilah tersebut tidaklah sulit, sebenarnya: sekali klik tombol searching, kita akan segera mendapatkan makna dari kata apapun yang baru kita terima. Seiring dengan perkembangan teknologi, saya pikir, kita masih dan akan terus kebanjiran berbagai kata-kata dan istilah yang baru.

Distorsi Makna

“Kita ketemu jam 7 malam, ya.”

Sorry ya gue telat, tadi gue kira jam 7 malam itu waktu kita berangkat dari rumah masing-masing. Bukan waktu kumpulnya.”

Betapa sering kita menyaksikan kejadian serupa, atau bahkan kita sendiri memang salah satu pelakunya. Berjanji untuk bertemu jam 7 malam, berarti: kita harus bertatap muka dengan si-yang-kita-ajak-bicara jam 7 malam tepat. Beranggapan bahwa kalimat perjanjian tersebut membolehkan kita mulai memesan grab jam 7 dari rumah—dan masih ada waktu sekitar 15 menit untuk menunggu driver datang, lalu baru 1 jam kemudian bisa sampai di kafe tempat kita janjian—sebenarnya adalah kecerobohan, atau lebih tepatnya kebodohan. Lelucon yang mungkin terjadi sehari-hari ini menunjukkan bahwa kata, ternyata, bisa diartikan berbeda oleh lawan bicara.

Entropi dan Kebingungan

Menyambung bahasan sebelumnya, terjadinya distorsi makna dalam penggunaan kata semacam itu, menurut saya, disebabkan oleh “ramai”nya penggunaan kata dan istilah yang kita pakai dalam obrolan sehari-hari. Kondisi semacam ini, dalam bahasa akademis sering disebut dengan istilah entropi—istilah ini tidak berlebihan dan bisa saya sebut berada “di luar” keramaian yang saya maksud karena memang diperlukan untuk menjelaskan apa yang saya ingin saya tulis.

Entropi, para akademisi Ilmu Komunikasi menyebutnya begitu, adalah keadaan ketika seseorang justru menjadi bingung dalam menghadapi segala hal karena banyaknya informasi yang ia terima. Kebingungan ini bisa kita tempatkan dalam berbagai macam konteks. Saya sendiri, memilih menjadi apatis dan abstain dalam Pilpres esok hari karena—mungkin—terlalu banyak menonton TvOne dan Metro TV sepulang kuliah di bilangan Jalan Kaliurang. Anda, para pekerja yang sangat sibuk dan mengaku butuh hiburan, mungkin justru semakin bingung hendak mengajak keluarga pergi berlibur ke Thailand atau Malaysia ketika melihat linimasa Instagram penuh dengan promo paket wisata yang diberikan oleh banyak agen travel. Kita, di tengah informasi dan pengetahuan yang serba ada ini, justru semakin dibuat bingung dalam mencapai hal-hal yang sebenarnya kita butuhkan. Kalau mau sedikit romantis dan sinis laiknya Sukab dalam Sepontong Senja untuk Pacarku yang ditulis oleh Seno Gumira, katanya, dunia ini sudah kelebihan kata-kata yang—ternyata—tak mengubah apa-apa. Secara sembrono, “kata” yang dimaksud Sukab di sini bisa kita anggap sebagai metafor dari berbagai hal: pengetahuan, informasi, istilah, berita, hingga kata itu sendiri.

Kata beriman, misalnya, dalam KBBI berarti “mempunyai iman atau ketetapan hati”. Orang yang beriman adalah mereka yang mempunyai keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun saat ini, secara ceroboh beberapa orang menggunakan kata itu sebagai jargon suatu kota yang Bersih, Indah, Aman, dan Nyaman (BERIMAN). Kebingungan yang saya maksud ternyata tidak hanya mewujud dalam ketidakmampuan kita mengambil keputusan, menentukan pilihan, atau menyatakan pendirian kita terhadap berbagai permasalahan hidup: segala bentuk kecerobohan dan kesewenang-wenangan kita dalam menggubah makna kata dalam konteks yang tak sesuai, juga bisa disebut kebingungan. Kata, selain tak mengubah apa-apa seperti yang dikatakan Sukab kepada Alina, ternyata juga kehilangan makna dan jati diri karena kita sendiri yang merusaknya.

Mahapatih Gajah Mada pernah bersumpah dalam Sumpah Palapa yang tercatat dalam Pararaton. Dalam sumpah itu, ia berjanji tak akan menikmati palapa atau rempah-rempah (yang diartikan sebagai kenikmatan duniawi) sebelum berhasil menaklukkan Nusantara. Sumpah ini membuat Gajah Mada menjalani hidup menyerupai seorang wali. Baginya, waktu yang ia miliki dalam hidup pantas dan memang harus dihabiskan untuk berusaha menaklukkan Nusantara. Jika tak berhasil, ia rela menjalani sisa hidupnya dengan melakukan “puasa” yang begitu panjang dan menyiksa. Kekuatan semacam itulah yang dimiliki kata-kata pada jaman dahulu.

Jauh sebelum Sukab mengirim sepotong senja kepada Alina nun jauh di sana, kata-kata mempunyai hubungan yang begitu mengikat dengan manusia. Kata-katalah yang membuat Mahapatih Gajah Mada rela menjalani hidup dalam penderitaan. Sebaliknya, pada masa kontemporer seperti sekarang, kata-kata jugalah yang membuat Sukab memutuskan mengirim surat berisi senja di pantai dalam satu amplop yang tertutup rapat—lengkap dengan matahari terbenam, cahaya keemasan, batu yang berwarna-warni, dan pasir yang basah—lewat Federal Express kepada Alina karena menurutnya, kata-kata sudah terlalu banyak dan tak berguna dalam sejarah peradaban manusia.

Pada akhirnya, dalam gegap-gempita hidup dan penggunaan kata yang semakin membuat pusing, kita tak perlu menjadi terlalu idealis layaknya Mahapatih atau menjadi sendu dan sok surreal seperti Sukab. Mungkin, kita hanya perlu menyepi dan menarik diri sejenak dari keramaian, bercengkerama dengan diri sendiri, dan mempertanyakan kemampuan kita dalam mengungkapkan sesuatu—yang tak harus selalu disampaikan melalui kata-kata. Kita boleh saja menangis, marah, atau justru menertawakan orang-orang yang hidup dalam kebingungan. Kehidupan kadang terlalu bernilai untuk menyelamatkan orang-orang yang terlanjur menikmati kebingungan, banyak cakap, dan merasa pandai. Sementara mempelajari sejarah Kerajaan Majapahit dan membaca cerpen-cerpen lain yang ditulis Seno Gumira adalah pilihan yang saya rasa tepat…

Facebook Comments