A password will be e-mailed to you.

Tulisan ini merupakan rangkaian pemahaman parsial mengenai Kawuruh Jiwa, yakni psikologi indigenus yang ditawarkan oleh Ki Ageng Suryamentaram, (Al-Fatihah untuk beliau). Ada beragam pendekatan dan konsep yang ditawarkan, meskipun tidak semuanya diterima oleh disiplin ilmu psikologi. Hanya saja, rasanya konsep yang dibawa K.A. Suryomentaram ini lebih mudah diobrolkan sambil ngopi daripada dibahas sebagai disiplin ilmu. Mengingat, disiplin ilmu memiliki batas empirisme. Sementara ngopi batasnya cuma waktu.

Mari beri jeda sejenak untuk empirisme. Sebab sebuah fenomena bisa dikatakan empiris jika dapat ditangkap oleh indra, dapat direplikasi, dan seterusnya. Sementara yang dibahas oleh K.A Suryomentaram banyak menyangkut tentang rasa. Kita tahu bersama bahwa rasa bersifat pribadi dan sulit direplikasi meskipun cukup mudah untuk digeneralisasi. Hanya saja, beliau mampu menjelaskan mekanisme rasa yang dapat kita jadikan bahan rerasan.

Mudah-mudahan tulisan ini tidak menambah distorsi mengenai konsep Kawuruh Jiwa. Sebab saya sengaja mencampur-campur banyak konsep untuk memahami maksud beliau. Saya menyarankan untuk membaca buku-buku baku tentang Kawuruh Jiwa demi menjaga kemurniannya. Maka tulisan ini adalah kesenangan saja.

Asal Muasal Keinginan (Karep atau Will)

Keinginan atau kehendak sifatnya abadi. Konon, diri kita sendiri yang menginginkan untuk lahir di muka bumi. Setelah mati, keinginan masih tetap ada. Tentu berbeda bentuk keinginan kita ketika lahir dan diantara kelahiran. Bedanya adalah, saat lahir, kita banyak lupa sehingga bingung apa yang sebenarnya kita inginkan. Sementara ketika hidup diantara kelahiran, kita paham secara persis apa yang kita inginkan, karena ada keselarasan antara keinginan kita dan keinginan alam. Sampai disini mungkin banyak yang bertanya-tanya: benarkah re-inkarnasi ada? Ada atau tidak ada kan tidak masalah, wong ini cuma cerita.

Lanjut soal lahir dan diantara kelahiran tadi. Anehnya, orang-orang yang hidup diantara kelahiran mudah merasa bosan. Hidup dengan keselarasan dan tahu semua hal adalah hidup yang membosankan. Mereka ingin mengumpulkan pengalaman menjadi manusia yang berjasad, berjalan, berbicara, dan jatuh cinta.

Membuat kesalahan hanya dimungkinkan terjadi pada orang yang dilahirkan. Sialnya, kita semua menginginkannya. Maka kita dilahirkan. Hanya saja, seringkali justru tidak terima dengan kesalahan-kesalahan yang dibuat sendiri. Pendek kata, kita banyak menyesali apa yang paling kita ingini.

Keinginan Besar dan Kecil

Melalui asumsi lahir dan diantara kelahiran tadi, keinginan dibagi menjadi dua yakni keinginan besar dan keinginan kecil. Keinginan besar adalah keinginan yang selaras dengan alam. Barangkali orang-orang penempuh jalan sepiritual menyebutnya sebagai keinginan atau kehendak Tuhan. Keinginan besar ini sangat abstrak bagi kita, namun fenomenanya dapat kita tangkap sehari-hari. Adanya siang dan malam, gempa bumi, hujan, planet-planet, dan seterusnya adalah contoh fenomena keinginan besar. Fenomena lho, bukan keinginan itu sendiri sebab ada bedanya.

Sementara keinginan kecil adalah keinginan manusia ketika dilahirkan, ya keinginan kita-kita ini. Ingin punya mobil, posisi sosial yang oke, istri yang cantik, dan sederet list yang tak ada habis-habisnya adalah keinginan kecil. Namun ada keinginan kita saat lahir yang merupakan bagian dari keinginan besar yakni makan, minum, pipis, beol, tidur, dan bersenggama. Keinginan jenis ini kemudian disebut sebagai kebutuhan yang bermuara pada keinginan untuk bertahan hidup dan melangsungkan jenis.

Lalu saya menduga bahwa ajaran reliji apapun agar berpuasa adalah untuk menstimulasi kita supaya mempertebal irisan antara keinginan kecil dan keinginan besar. Biar tidak lupa-lupa amat sama keinginan besar. Dengan kata lain puasa mengajari kita mengenal keinginan besar dengan cara memberi jeda pada keinginan kecil penopang ketahanan hidup.

Saat puasa, kita dipaksa untuk menahan keinginan mendasar yakni makan, minum, dan bersenggama. Ini adalah kondisi ideal untuk mengambil jarak antara diri dengan keinginan, sehingga kita lebih mudah mengamatinya. Sampai pada momen ketika “oh, aku lagi merasa lapar” ketika sibuk kerja. Atau pas lagi browsing lihat iklan kondom yang ada cewek bohaynya
lalu kita tersadar “wah, aku lagi gerasa engas nih”. Pada momen tersebut ada jarak antara aku dan rasa. Jeda seperti inilah tempat bersatunya keinginan kecil dan besar.

Kembang-Kempis Keinginan

Kalau diteliti kembali, keinginan kita untuk makan berkembang. Dengan pemasukan dua juta per bulan, biasanya kita makan lauk ayam-tahu-telor setiap hari. Tapi dengan penghasilan sepuluh juta, rasanya lauk kita berkembang. Tak cukup ayam broiler tapi ayam kampung. Tak cukup tahu curah tapi tahu premium. Juga tak cukup telur ayam, tapi telur ikan salmon. Pokoknya keinginan jika dipenuhi tak berhenti berkembang.

Maka keinginan, disamping abadi, ia juga berkembang. Kalau hari ini punya penghasilan lima juta sebulan, kita pasti ingin penghasilan lebih. Banyak dalil yang kita gunakan. “Kan aku sama pasangan punya rencana nyicil rumah” dan serentetan dalil lainnya.

Tenang saja, hal itu normal. Tapi tunggu saja saat kita punya keinginan tapi tak sanggup memenuhinya. Keinginan lalu mengempis. Mengempisnya keinginan ini biasanya dibarengi dengan perasaan tidak enak, kecewa, dan seterusnya. Nah, jika kita mahir mengambil jeda antara diri, keinginan, dan yang diingini, rasanya tidak terlalu lama proses mengempisnya.

Tapi kalau perasaan tidak enak akibat tidak terpenuhinya keinginan tetap berlarut-larut, bukankah dulu sebelum lahir kita menginginkannya?

Facebook Comments