A password will be e-mailed to you.

Adegan Tak Senonoh

Terkadang inspirasi butuh dicari. Tapi tidak jarang inspirasi datang dengan sendirinya. Dan, bagi saya inspirasi adalah proses pergumulan diri dengan pemikiran kita. Proses pengintiman dengan batin kita. Proses dialog diri dengan diri kita sendiri.

Efeknya, dalam sekian detik saya bisa lupa diri. Saya mengasyiki pikiran saya sendiri. Pikiran saya ini manja dan sangat caper sekali. Selalu meminta diperhatikan bahkan dalam beberapa kesempatan merebut paksa diri saya untuk memperhatikannya.

Batin saya pun, rewel. Kadang mood, kadang bosan. Kadang PD abis, kadang inferior akut. Macam seperti ombak di lautan. Kadang naik, kadang turun.

Sampai tiba suatu pagi perut saya mulas. Ngapaiiinnya. Tak perlu saya ceritakan kejadian tak senonoh ini, yang jelas pagi itu saya berlama-lama di toilet. Kebetulan toilet di rumah saya ini didesain mepet dengan tembok belakang, sehingga pas “ritual” berlangsung saya bisa sembari sandaran.

Nah, di pagi itu, semacam ada ruang intim bagi pikiran dan batin saya. Saya sendiri tak perlu repot terlalu meladeninya. Pikiran saya sudah dengan sendirinya sangat mandiri untuk menari-nari. Semacam ekspresi anak kecil yang dibelikan mainan lalu teriak “horrreeee”. Batin saya pun tenang, kalem tidak neko-neko.

Sederhananya, di toilet itu semacam tercipta ruang produksi inspirasi. Ada kekhusyukan batin yang so deep sehingga memancing pikiran untuk menari-nari, bermandi inspirasi.
Kemudian pagi itu juga, saya renungi kejadian yang so exciting itu sembari beraktifitas seperti biasa, bergelut dengan rutinitas. Sampai saya kemudian tersadar. Toilet bukan sekedar toilet. Ada mercusuar ide-ide. Ada semacam spa dan massage bagi pikiran-pikiran saya. Ada kasur nyaman untuk beristirahat bagi batin saya.

Memetik Ispirasi

Konon, yang diperlukan oleh pikiran kita hanya kondisi batin yang rileks. Makin memburu inspirasi, maka inspirasi makin menjauh. Seperti lagunya Iwan Fals, “kucari engkau lari, kudiam kau hampiri, jinak burung dara justru itu kusuka”.

Tapi kalau terlampau rileks bukannya inspirasi yang didapatkan tapi malah terbobo manis kita.

Sebagaimana tidur, susah juga menyengaja tidur. Paling mentok yang dapat kita lakukan ya hanya berbaring, membuat kondisi nyaman bagi tubuh, sampai datanglah si tidur. Mirip-mirip seperti itulah.

Inspirasi tentu tidak akan jauh-jauh dari hal-hal yang selama ini kita tekuni. Melihat apel jatuh, saya akan segera memburu dan memakannya. Tapi bagi seorang Newton, melihat apel jatuh dapat membuatnya menemukan teori gravitasi. Itu karena memang Beliaunya sudah menekuni bidang keilmuan tersebut sebelumnya. Jadi datangnya inspirasi juga tidaklah serta-merta.

Di situ saya pikir letak pentingnya belajar dan berpengalaman. Tidak cuma baca buku tapi juga berbasah-basahan dengan realita sehari-hari.

Dan saat butuh inspirasi kita cukup serileks di toilet dan “cliiing” kemudian memetiknya.

Facebook Comments