A password will be e-mailed to you.

Setiap pulang, Sigit punya kebiasaan memagut bibir istrinya, kecuali malam ini. Mayang enggan menyambut suaminya. Sementara Sigit tak bertanya apa-apa tentang perubahan sikapnya. Mayang tak peduli. Bahkan kali ini ia tak menyadari suaminya punya kebiasaan itu.

Malam sebelumnya adalah satu malam dari beberapa kali seminggu. Bercinta. Seperti biasa, ia menusuk-nusuk, keluar-masuk, sambil mendesis seperti menahan pedas. Menyisakan ngilu untuk Mayang yang bercampur kesedapan. Lalu teoronggok lemas di sampingnya setelah kecup pungkasan.

“Sayang, sebaiknya mobil itu kita jual saja.” Kata Sigit sambil menatap langit-langit kamar. Mayang pergi begitu saja ke kamar anaknya. Tanpa kata.

Selain mengurus butik, arisan, dan belanja, yang dirasa penting oleh Mayang adalah Yanu, anak mereka yang berumur enam tahun. Telah sembilan tahun mereka menikah dan hari-hari dilalui seperti pasangan pada umumnya. Mayang punya kebiasaan membacakan cerita untuk anaknya menjelang tidur, kecuali malam ini. Yanu enggan bertanya kenapa malam ini mama tidak melakukannya.

“Ren, bokap gue nge-chat tadi siang. Katanya mau ke Jakarta besok. Gue bisa ngungsi ke tempat lo ga? Sekalian gue bawa Yanu.”

“Gila lo! Emang lo sama bokap lo kenapa May?” Sahut Reni melaui telepon.

“Ntar gue ceritain.”

“Ngapain dari dulu lo ga cerita kalo ada masalah?”

“Iya ntar gue cerita, bawel amat sih. Bisa kan?”

“Kapan?”

“Malem ini.”

“Anjrit. Yaudah gue siapin kamarnya.”

Menjelang pukul sembilan, Mayang bergegas memesan taksi daring dengan tujuan rumah Reni. Ia menenteng tas sport milik suaminya yang diisi barang keperluan Yanu dan keperluannya sendiri. Ia sempat menulis pada secarik kertas daftar belanja mingguan. Menaruhnya di atas kulkas yang digelari taplak berenda dengan pot bunga imitasi di tengahnya. Mayang juga sempat menulis pada bagian sebaliknya bahwa bapaknya akan datang esok pagi. Lengkap beserta jadwal kedatangan kereta dan stasiunnya.

Ia berlalu tanpa menoleh pada Sigit yang sedang dipamiti anaknya. Lalu berjalan ke gang depan rumah kontrakan mereka sembari menjawab telepon dari taksi daring. Yanu mengikutinya dari belakang dan tak tahu apa-apa. Sementara diacuhkan istri sungguh menyesakkan dada Sigit, meskipun dua malam sebelumnya mereka masih sempat bercinta. Sesampainya di rumah Reni, sahabatnya yang dibesarkan di ibukota, Mayang ditodong pertanyaan.

“Sebenernya ada apa sih lo May?”

Mayang memberi isyarat dengan menunjuk Yanu yang berdiri di depannya. Kemudian dua telapak tangan dikatupkan dan menaruhnya di samping pipi sambil memiringkan kepala. Dan Reni paham. Yanu meminta mamanya membacakan fabel. Dan ngobrol setelahnya.

“Lo tau kan gue ke sorum minggu lalu. Mobilnya kemarin lusa dateng.” Mayang memulai cerita.

“Terus apa masalahnya?”

“Suami gue ga setuju kalo beli mobil.”

“Bukannya lo sama suami punya duit yak. Gak masalah kan.”

“Duit sih ada. Tapi suami gue yang bermasalah.”

“Emang kenapa sih?”

“Tau ah, gue ga ngerti jalan pikirannya. Dia bilang kalo gue harus ngitung perputaran butik. Padahal kan duitnya ada. Gue mikirnya ini kan juga musim ujan, biar lebih fleksibel nganter jemput Yanu sekolah.”

“Gue kira apa masalanya, May. Lo lagi dapet ga? Beberapa kali lo gampang ngomel deh.”

“Jadi lo sama bokap ga ada masalah?” Reni meneruskan sebab Mayang cuma diam.

“Engga Ren.”

“Gila lo. Kenapa ngga nemuin bokap lo.”

“Gue ga enak hati.”

“Yaudah lo tidur aja May.” Sambung Reni setelah Mayang diam kali kedua.

Tentu Reni bingung, lalu mengiyakan saja kemauan sahabatnya.

*

Paginya, Sigit yang telah membaca daftar belanja segera ke supermarket. Dengan muka kesal dan bingung ia memilih-milih barang sesuai daftar. Lalu hapenya berdering karena ada panggilan dari bapak mertuanya yang sedang di setasiun Pasar Senin.

Sigit bergegas ke kasir tanpa menuntaskan daftar belanjaan. Sesampainya di kasir, Sigit menemukan tulisan Mayang di balik daftar belanja itu. Sialan, pikirnya. Kenapa tidak bilang langsung saja. Malah merepotkan orang tua. Pada ujung cerita, Sigit sampai ke setasiun sejam setelahnya. Ia mencium tangan bapak mertua penuh hormat. Tentu dengan terlebih dulu mengucap maaf.

“Lho, Mayang kok gak ikut?” tanya mertua Sigit heran pada mulanya.

“Sedang di rumah Reni, Pak, bareng Yanu.”

“Oalah, yowis. Pantas tidak bisa tak telpon.” Katanya sambil tersenyum.

Sebagaimana orang tua umumnya, bapak mertua Sigit paham bahwa mereka sedang punya masalah hanya dengan sedikit menerka lewat air muka menantunya. Pasalnya, ia lebih lama berpengalaman dalam urusan suami-istri. Tentu dengan itu, ia bisa menempatkan diri dengan sangat baik.

“Bapak lapar ini, ayo cari tempat makan Git.”

“Iya Pak, mau makan apa?”

“Sekali-kali ke tempat makan anak muda lah. Mumpung tidak ada Ibu.”

“Siap Pak.”

Sesampainya di tempat makan, mereka memilih makanan dan Sigit pamit pergi sebentar ke warung waralaba. Membelikan rokok Samsu kesukaan mertuanya.

“Wah, kamu kok tahu mauku Git.” Kata bapak mertuanya setelah Sigit memberikan rokok itu.

“Mumpung tidak ada Ibu ini. Sekarang udah tidak boleh merokok sama Ibu. Sekali-kali tidak apa-apa ya Git.” Ia meneruskan sementara Sigit hanya senyum-senyum saja.

Mertuanya certia panjang lebar tentang banyak hal. Sepertinya ia puas dengan menantunya ini. Sebab Sigit memang pendengar yang baik.

“Git, dulu, kakeknya Mayang itu pinter ndalang. Tapi juga bisa jadi pawang.”

“Pawang hujan Pak?”

“Bukan, pawang ular. Jadi bisa membantu tetangga yang rumahnya kemasukan ular.”

“Wah kemampuan langka Pak.”

“Iya, beliau bisa jadi pawang ular karena mengikuti arahan primbon. Konon, seorang kalau bisa menunggu ular kawin, lalu bisa menangkap betinanya, akan punya kepawangan.”

Setelah puas bercertia, mertuanya pamit. Sebab ia tahu, persoalan rumah tangga orang lain, meskipun anaknya, adalah wilayah yang berdaulat. Lebih baik membiarkan mereka menyelesaikan sendiri jika tidak dimintai tolong, pikirnya. Sementara tiket kembali ke Jogja sudah dibeli ketika menunggu Sigit tadi. Namun kali ini tiket pesawat. Sepertinya ia sudah bisa menggunakan banyak aplikasi hingga bisa memesan tiket lewat hape.

“Secepat ini Pak?”

“Iya Git. Sampaikan maafku pada Mayang karena belum bisa menemuinya.”

“Saya yang minta maaf, Pak.”

“Aku paham Git. Tenang saja. Lain kali kubawa ibu ke Jakarta juga.”

Bapak mertua Sigit minta diantar ke bandara Halim Perdanakusuma pada hari yang sudah menjelang sore. Sesampainya di bandara, Mayang menelpon bapaknya. Menangis dan minta maaf.

“Tidak apa-apa nduk. Yang penting kamu sekeluarga sehat. Iya. Jangan lupa ngebel ibumu. Tak usah ke sini to nduk.” Terdengar oleh Sigit percakapan mereka melalui telfon. Sebab, beberapa orang tua punya kebiasaan mengeraskan suara, baik suara hape maupun suaranya sendiri saat menelepon.

Waktu tunggu boarding tinggal sejam. Mayang berangkat ke bandara persis setelah menelpon bapaknya. Sementara Yanu dia titipkan pada Reni. Namun hampir dipastikan Mayang tak akan sampai ke bandara sebelum bapaknya berangkat.

“Git, aku tak budhal sik. Titip Mayang sama Yanu ya.” Kata bapak mertua Sigit sambil dicium tangannya.

“Oh ya, Mayang sebentar lagi sampai sini.” Pungkasnya.

Sesampainya di bandara, Mayang bertemu suaminya yang menunggu di area kedatangan. Persis di bawah logo perusahaan negara pengelola bandara. Sigit mencoba menyambutnya namun Mayang melempar muka ke arah lain. Tak mau bertemu pandang dengan suaminya. Namun pendaran mata itu mengisyaratkan hal yang penting. Seperti ketidakpedulian yang berangsur-angsur memerlukan perhatian. Sementara Sigit yang kebigungan hanya bisa mengepalakan tangan dengan sorot mata beku. Pejantan mana yang tak bingung betinanya marah.

“Bapak sudah pulang.” Hanya itu yang terucap dari mulut Sigit. Dan tentu Mayang tak menjawab.

Sudah puluhan kali kemarahan yang sama terjadi dan Sigit tak pernah punya solusi. Ia biasa menyerahkannya pada waktu seolah hanya waktu yang mampu mengurainya.

Lalu mereka memasuki mobil. Mayang diam, begitu pula suaminya. Sigit menyalakan mesin dan gesit melajukan mobil memasuki jalan tol. Ia membelokkan kemudi saat mendekati rest area yang sepi. Lalu memutar lagu Merintih Perih dari Sore, band kegemarannya. Mobil berhenti dengan mesin menyala.

“Apa maumu sekarang?” tanya Sigit.

Mayang tetap diam. Sesaat kemudian, sambil diam, Mayang memagut secara kasar bibir suaminya sembari menjambak rambut Sigit pada bagian belakang.

“Aku mencintaimu” Sigit menyempatkan bicara.

Air mata Mayang berlinang. Seperti binatang, mereka memuncakinya dengan senggama hebat sebagaimana puncak kemarahan yang sudah-sudah. Tapi kali ini di dalam mobil kreditan.

Facebook Comments