A password will be e-mailed to you.

Musim dingin masih menggelayut di langit kota Wina Maret itu, ketika penduduk kota menjadikan sungai Danube yang membelah kota sebagai pusat keramaian. Mereka biasa menghabiskan sore hari yang menyenangkan dengan bermain ski di atas sungai yang membeku sejak tiga bulan lalu, sekedar menuruti anak-anak kecil yang merengek meminta.

Novi Kusuma, seorang mahasiswa master asal Indonesia, hanya bermalas-malasan saja menikmati rehat kuliah yang ia dapat dari kampusnya. Dalam tiga puluh tahun terakhir, ini adalah kedua kalinya Danube membeku, dan hal ini menimbulkan reaksi bermacam-macam di kalangan penduduk kota. Para turis dan mahasiswa asing yang menyukai keramaian tentu saja bahagia, sedangkan para penduduk lokal yang konservatif agak awas, karena pihak kota memberikan pernyataan bahwa ketebalan es di Danube tersebut belumlah teruji dan bermain ski di atasnya bisa dibilang berbahaya.

Siang ini, Novi Kusuma baru saja berbelanja sayur, beras, dan buah-buahan persediaan sebulan ke Naschmarkt. Ia melewati Jembatan Aspernbrucke menaiki sepeda butut yang dibeli dari kakak tingkatnya yang sudah pulang dan bekerja menjadi pegawai negeri di daerah asalnya di Jawa Timur. Melihat keramaian di bawahnya, ia tersenyum kecut. Itu sedikit membuatnya teringat dengan kawasan Banjir Kanal Timur di Jakarta, dimana dulu ia dan pacarnya sering menghabiskan waktu bersama di malam minggu, dan membanggakan diri akan gaya pacaran mereka yang proletar.

Mengingat itu semua membuat fokusnya dalam mengendarai sepeda pancal agak terganggu. Ia segera mengalihkan pandangannya dari kumpulan manusia di sungai Danube yang membeku, dan kembali berfokus pada jalanan ramai di depannya, bersemangat ingin segera kembali ke apartemen dan meringkuk kembali di kasur dengan laptop kesayangannya.

***

Suatu Jumat sore di bulan Oktober yang masih saja kering dan panas, Sarwono mengemudikan motornya melewati kemacetan Mampang yang semakin tak keruan. Ia terburu-buru, menerobos jalur busway sejak dari underpass Rasuna Said hingga petugas yang menutup jalur busway di Mampang Prapatan IV-V memaksanya untuk ikut bermacet-macetan bersama pengendara lain. Sejak Pemilu 2024 dua tahun lalu, sang presiden baru memang menghentikan pembangunan di sana-sini yang marak pada rezim sebelumnya. Ironisnya, bantuan jor-joran untuk usaha kecil dan menengah membuat Jakarta menjadi semakin macet saja karena daya tariknya sebagai pusat bisnis.

Istrinya pulang cepat hari ini, dan Sarwono berniat mengajak istrinya makan malam di luar pada malam sabtu yang panas itu untuk memberikan kabar baik menyoal novel pertamanya yang akan segera terbit. Semoga Dik Novi senang dengan kabar baik ini. Perjuangan dan idealismeku akhirnya membuahkan hasil, batinnya dalam hati.

Pekerjaannya sebagai editor sebuah publisher online di bilangan Menteng memang membuat perjalanan pulang ke rumahnya yang berada di Kelapa Dua Depok memakan waktu lama. Ia menolak transportasi kereta dengan alasan romantisme; di jalan raya dengan Vespa 125 T5 kesayangannya, Sarwono merasa imajinasinya lebih bebas. Kalau ditanya, ia sebenarnya jenuh dengan pekerjaannya sebagai editor. Kesempatan bertemu dengan penulis dan seniman hebat yang terbuka lebar di tempat kerjanya itu menjadi satu-satunya alasan Sarwono untuk bertahan.

***

“Aku memang tidak bisa bekerja di perusahaan elit seperti orang-orang, tapi aku janji akan mengusahakannya secepat mungkin.”

“Enggak apa-apa Sar, aku nggak menuntut kamu untuk menjadi seperti orang-orang kok. Semua bisa diusahain bareng-bareng. Yang penting kan, kesungguhan. Mama Papa juga memberikan kebebasan. Tenang aja..”

Pipi Sarwono memerah, kolong matanya mulai sembab. Hujan deras dan tawa mahasiswa di kantin bonbin Fakultas Ilmu Budaya itu membuat percakapan serius mereka tidak menjadi fokus orang-orang. Ia memegang tangan kekasihnya, Novi Kusuma, sambil menahan matanya untuk tidak berkedip, agar air matanya tidak tumpah. Novi Kusuma baru saja menjadi sarjana ekonomi dua bulan lalu. Setelah mendapat titel itu, ia masih bolak-balik Surabaya-Jogja untuk mengurus permohonan beasiswa masternya ke Wina, dan tentu saja untuk bertemu Sarwono, pemuda yang menjadi tambatan hatinya.

Hari ini, Novi Kusuma dipastikan mendapat beasiswa yang ia idam-idamkan. Dengan keberangkatan di awal Agustus, pertemuan dengan Sarwono di pagi itu kemungkinan adalah yang terakhir di Jogja sebelum ia pindah ke Jakarta untuk mengikuti berbagai pelatihan yang harus ia ikuti sebelum bertolak ke Wina. Ketika Novi Kusuma sudah menolak berbagai tawaran perusahaan multinasional untuk mengejar impiannya menjadi dosen, Sarwono saat ini masih berkutat dengan skripsinya.

***

Jam dinding menunjukkan pukul 00:47. Sarwono menjadi satu-satunya yang masih duduk di meja ketika semua rekan sekantornya sudah pulang sejak isya tadi. Ia menyeruput kopi dan menggeser-geser kursornya di antara puluhan tab yang aktif di browser laptopnya. Telepon genggamnya berdering, ada notifikasi khusus yang hanya berbunyi jika ada pesan dari kekasihnya yang berada nun jauh di Austria sana. Dibukanya pesan itu dari WhatsApp Desktop yang terbuka di salah satu tabnya. Sar, cari namaku di Google! Alhamdulillah ya…, tulis pesan itu.

Sarwono urung membalas pesan pendek tersebut. Ia segera mengetik nama kekasihnya dan menemukan nama Novi Kusuma dimuat di berbagai kanal berita nasional. “Novi Kusuma, Calon Doktor Muda Penggagas Startup Penghubung Diaspora Indonesia di Eropa”, tulis salah satu media di headline-nya.

Alis Sarwono mengerut, kaget sekaligus bangga. Ia membalas pesan tersebut: Selamat Nov, hebat (y)(y)(y). Aku ikut Bangga. Judulnya alay banget tapi, hahaha. Nama kamu dijadiin headline tuh di publisher yang kerjaanya cari clickbait wkwkwk.. Sarwono tunggu lama, tak muncul juga balasan dari kekasihnya. Sarwono segera menutup laptop, membereskan barang-barang, dan bergegas pulang menuju komah kosnya. Novi mungkin sudah tidur karena kecapekan, pikirnya dalam hati.

***

“Nggak apa-apa Sar, novel kamu bagus kok. Masalah belum bisa terbit, mungkin karena penerbit jaman sekarang terlalu mengedepankan selera pasar. Biasa, anak jaman sekarang ‘kan susah menerima yang berat-berat begitu.”

Sarwono menyendok sup duriannya, mengulum es batu yang mulai mencair. Dia sudah menulis dua novel yang belum juga mendapat balasan dari belasan penerbit. Udara dingin dan mobil-motor yang berkelap-kelip di sebelah utara kanal menjadi pemandangan yang menyenangkan di Banjir Kanal Timur malam itu.

Di rehat semesternya kali ini, Novi Kusuma menyempatkan pulang ke Indonesia. Beasiswa yang diberikan pemerintah itu cukup untuk pulang setahun sekali, katanya. Bahkan, gaji Sarwono yang sekarang mulai bekerja sebagai wartawan lepas di sebuah media ekonomi jumlahnya cuma seperempat dari uang saku bulanan yang Novi Kusuma dapat dari beasiswa tersebut.

“Tau nggak Sar.. Kalau malam dan bareng kamu kayagini, BKT itu lebih indah dari sungai Danube.”

“Iya Nov, coba aja di sini ada orang aneh yang tiba-tiba membikinkan puisi untuk kita, pasti kita lebih keren daripada Jesse dan Celine di Before Sunrise.”

Novi Kusuma tersenyum simpul. Sarwono memang terlalu sinis dan melankolis.

***

Lalu lalang di Vienna International Airport bisa dibilang tak seramai biasanya. Seorang wanita dengan dua koper besar duduk di ruang tunggu penerbangan internasional. Sepatu ketsnya memberi kesan bahwa ia adalah orang yang simpel dan apa adanya, namun syal dan mantel kulit yang dikenakannya memberikan kesan bahwa ia adalah seorang wanita yang mahal dan berkelas.

Novi Kusuma, wanita itu, terlihat tenang namun berdebar-debar, mengingat sudah lebih dari satu tahun ia tidak pulang ke Indonesia. Karir menjulang dari berbagai perusahaan dan institusi pemerintah yang akan memperebutkan jasanya menunggunya di sana, tapi ia lebih tak sabar untuk kembali ke Yogyakarta, kota yang telah memberikan begitu banyak hal kepadanya.

***

EPILOG

Sarwono menggendong putri sulungnya yang berusia tiga tahun menuju parkiran mobil. Istrinya mengikuti di belakang sambil mendorong stroller yang dipenuhi oleh barang belanjaan. Malam itu, Sarwono baru saja memberi kejutan kepada istrinya, mengabarkan bahwa tiga naskah novel yang telah dikirimkannya kepada sebuah penerbit indie di Jogja akan diterbitkan secara bertahap mulai bulan depan.

Dari kejauhan, terlihat sosok yang tak asing bagi Sarwono. Seorang wanita berusia tiga puluhan dengan sepatu kets dan syal kuning yang melingkar di dadanya. Sarwono terkesiap, ulu hatinya mendadak dingin. Wanita itu berjalan dari parkiran mobil menuju ke arah Sarwono dan istrinya, begitupun Sarwono yang juga berjalan ke arah pintu basement walaupun dengan langkah yang lebih pelan. Persimpangan itu memang tak terhindarkan.

“Sar?”

“Eh, Novi. Hai.. Sedang apa di Jakarta, Nov?” Sarwono berujar pelan dengan suara yang bergetar.

“Ini Mbak Novi ya? Ya ampun, anakmu sudah besar, Sar..” wanita itu menjawab dengan suara tertahan, tak memedulikan pertanyaan Sarwono. Rasa pangling dan keterkejutan yang sulit dijelaskan bercampur aduk.

“I.. Iya Nov. Dik Novi, perkenalkan, ini Novi Kusuma, temanku semasa kuliah dulu di Fakultas Ekonomi UGM. Pasti kamu juga sudah tahu siapa Mbak Novi ini. Eh, nama kalian sama ya..” Sarwono mengenalkan wanita itu kepada istrinya dengan suara terbata-bata.

“Siapa yang nggak kenal sih mas sama Mbak Novi Kusuma. Saya sering lihat video-video perjalanan organisasi nirlaba yang Mbak Novi dirikan keliling Indonesia. Bahkan saya juga mengoleksi semua buku-buku Mbak Novi, lho. Menginspirasi banget. Kok nggak pernah bilang sih mas kalau ternyata kalian dulu satu kampus?” istri Sarwono, Novi, menjawab suaminya dengan polos dan menjabat tangan wanita itu.

Wanita itu tersenyum simpul. “Makasih banyak Mbak Novi. Oh ya, gimana kabar novel-novelmu Sar? Sepertinya akan segera terbit ya. Aku ikut senang,” jawabnya dengan nada dan raut muka yang seolah-olah mengesampingkan kehadiran Novi, istri Sarwono.

Seumur hidupnya, wanita itu adalah seorang yang sangat solid dan independen. Ini adalah pertama kalinya terdengar ketidakstabilan dari nada bicaranya.

Lhoh, tau darimana Nov?” jawab Sarwono dengan raut muka terkejut.

“Banyak infonya di internet, Sar. Masih pre order tetapi ya? Novel fantasi yang bersettting Vienna dan Jakarta, apa itu judulnya?” Novi Kusuma bertanya menyelidik.

Sarwono menghela nafas. “Puisi Danube, Nov,” jawabnya pendek, dengan muka agak tertunduk. Sementara Novi yang polos masih saja berbinar-binar penuh antusiasme.

Percakapan itu terpotong karena Novi mengeluarkan salah satu buku dari tas selempangnya, meminta tanda tangan Novi Kusuma, dan menyuruh Sarwono untuk mengambilkan foto dirinya dan Novi Kusuma. Kolong mata Sarwono sembab, ia menahan tetesan tangis dari kelopak matanya. Ia ingin memberikan ratusan pertanyaan dan ribuan apologi terhadap Novi Kusuma, tapi ia tahu itu tidak mungkin dilakukan dengan kehadiran Novi di antara mereka.

“Sampai ketemu lagi Nov, aku pamit duluan ya,” kata Sarwono yang berjalan pergi begitu saja, pelan dan gontai, menuju parkiran dengan menggendong putrinya.

Novi Kusuma tidak berkata sepatah kata pun, ia hanya tersenyum. Ia memeluk kencang Novi, tak kuasa menahan air mata.

Daydream delusion
Limousine Eyelash
Oh, baby with your pretty face
Drop a tear in my wineglass
Look at those big eyes
See what you mean to me
Sweet cakes and milkshakes
I am a delusion angel
I am a fantasy parade
I want you to know what I think
Don’t want you to guess anymore
You have no idea where I came from
We have no idea where we’re going
Lodged in life
Like two branches in a river
Flowing downstream
Caught in the current
I’ll carry you. You’ll carry me
That’s how it could be
Don’t you know me?
Don’t you know me by now?
(Before Sunrise, 1995)

****

Facebook Comments