A password will be e-mailed to you.

Tak ada yang tahu kalau aku menyimpan rahasia, bahkan istri dan anak-anakku. Bukan rahasia besar. Hanya kotak kecil peninggalan mantan pacarku tiga puluh delapan tahun silam. Hadiah darinya pada hari ulang tahunku yang ke tujuh belas. Kotak berbentuk kubus berlapis kain merah marun dengan jahitan pada sisi pengatupnya. Semacam kotak perhiasan yang pas untuk menyimpan liontin. Kutaruh rapi di dalam brangkas bersama surat-surat berharga atas nama istriku. Tentu dia tahu keberadaan kotak itu. Kudaku sebagai pemberian ibu yang tak boleh dibuka. Namun cerita tetap cerita. Kusimpan sebagai rahasia.

Sialnya, aku juga tak tahu apa isinya. Sebab mantan pacarku tiga puluh delapan tahun silam berpesan agar tak satupun orang boleh membukannya, termasuk aku.

“Gas, jaga ini baik-baik. Ini pemberian ayahku yang paling berharga.”

Kutanyakan kenapa ia memberikannya padaku. Dia bilang sangat percaya padaku. Maka tidak membukanya adalah bayaran setimpal untuk rasa percaya itu. Kupikir ia terlalu obsesif pada romansa dan segala keindahan yang meliputinya. Sementara ketika aku berpacaran dengannya, hal-hal romantik tidak begitu membuatku tertarik. Aku lebih berminat menjelajahi sentuhan-sentuhan. Mengenal batas-batas yang sering kandas oleh kenakalan. Kutahu apa yang kuperbuat. Dan itu normal, pikirku.

Kelakuanku itu sering membuatnya marah. Ia tidak suka tingkahku yang mirip ulat.  Mengenthung jika bersebelahan dengannya. Menjadi kupu-kupu, ah tidak, lebih mirip ngengat saat menyepi berdua. Aku punya kelihaian untuk mencari celah kapan menjadi ulat, kapan mengenthung, dan di mana bebas menjadi ngengat. Mulanya ia mau-mau saja, tapi kelamaan mulai enggan, dan marah. Aku sering merajuk dan mengembik. Membujuknya dengan kalimat-kalimat gombal murahan. Kubilang padanya kalau kami saling membutuhkan. Tapi ia teguh.

Setiap kali aku membuka brangkas, memegang kotak hadiah ulang tahunku, terlintas semua kenangan bersamanya dulu. Saat-saat aku menjadi ngengat tolol dan menyedihkan. Aku tahu siapa diriku; Bagas si ngengat.

Kini anakku yang kedua, perempuan, sedang menempuh studi sarjana tahun pertama di Malang. Kudengar dari ibunya kalau dia punya pacar. Sebagai ayah, aku tak mau anak perempuanku pacaran dengan orang sepertiku. Maksudku, bengal dikala muda. Meski begitu, aku tak sanggup mencegahnya. Terlebih, anak perempuanku begitu antusias dengan pacarnya. Mungkin dia kurang mendapat perhatianku. Tapi kuharap dia baik-baik saja dengan pacarnya. Kau tahu maksudku.

Istriku mengira aku melankolia karena sering membuka brangkas dan memegangi kotak kecil di dalamnya.

“Lagi kangen simbok ya?”

“He’eh,” kujawab sekenanya.

Memang aku sedang sering mengingat kenangan lama. Paling tidak, menatap kotak itu, aku mendapat pelajaran. Bahwa semua hal bisa datang dan pergi begitu saja. Aku ingat daun kering dan ngengat kawin. Pergi meninggalkan telur, menjadi ulat, kemudian mengenthung. Ngengat muda pergi tanpa permisi. Daun kering ditinggalkan. Semua hal yang digenggam, akan dilepaskan. Sudahlah, kata-kata bijak tak perlu kuhimpun hanya untuk mendewasakan jiwaku yang ternyata masih kanak-kanak.

Di Solo, tempat aku dan istriku membesarkan anak-anak kami, hidup begitu empuk. Istriku memberikan ketenangan yang lazimnya laki-laki impikan. Ia mempunyai kios batik di pasar Klewer. Sementara aku punya usaha mebel yang kurintis bersama temanku seorang keturunan Pakistan. Dari kawanku ini, aku belajar banyak hal. Melaluinya kami lebih relijius. Kupikir tak ada salahnya mencoba relijius.

Pada mulanya, menjadi relijius sering mengingatkanku pada mantan pacarku dulu. Terlebih istriku yang mulai tidak mau bersalaman dengan lawan jenis. Melihat itu, aku justru menemukan gairah. Istriku kagum dan memujiku.

“Mas sekarang berasa perjaka lagi.”

Di malam-malam puncak yang membuat istriku senang, aku malah menemukan kekosongan. Sepertinya aku bisa melihat diriku sendiri. Tak hanya tubuh, tapi secara jelas dapat kulihat apa yang aku rasakan. Bahkan beberapa kali, aku bisa melihat secara jelas pikiran-pikiranku sendiri yang datang dan pergi. Sepertinya, sebagai manusia, aku hanya menumpuk-numpuk ingatan.

***

Senang rasanya anak perempuanku menyempatkan pulang. Katanya, mendekati ujian semester ada minggu tenang. Sesampainya di rumah, seperti kebiasaannya, ia memeluk dan menciumku manja. Aku begitu suka senyuman anak perempuanku kali ini. Teramat purba. Seperti irama yang mengisi kesunyian di malam-malam puncak.

Sebagaimana anak perempuanku, istriku juga makin membuatku senang. Tak hanya soal pujiannya terhadap keremajaanku yang pulih. Lebih dari itu, kepolosannya dalam mengais-ngais surga membuatku sedikit geli bercampur girang. Tapi aku berharap kegemaran baru istriku tak lantas membuat nalarnya pincang. Kuharap ia mencintai jalannya beragama tanpa membenci cara orang lain mengolah sukma.

Lalu istri dan anak perempuanku sering berdebat. Istriku ingin anak kami mengenakan jilbab. Mereka berebut minta pembenaran padaku.

“Pak, aku kan belum siap berjilbab. ‘Kan tidak pas kalau berjilbab bukan karena keinginan sendiri.”

“Huss. Kamu ini bagaimana. Jilbab dan kesiapan itu tidak ada hubungannya. Agama kita memerintahkan perempuan menutup aurat, siap tidak siap.”

Aku diam saja mendengar pertengkaran kecil mereka.

“Udah, terusin aja debatnya sampai kalian puas. Wong keyakinan itu masing-masing. Bapak ke kamar dulu mau istirahat.” Kataku ketika mereka masih asyik perang kata.

Sesampainya di kamar, aku merebahkan diri di kasur. Aroma tubuh istriku tercium. Kucoba memejamkan mata. Malah bayangan mantan pacarku muncul begitu saja. Lalu aku membuka almari tempat brangkas itu tersimpan rapi. Hanya saja, kutemukan posisinya sedikit berbeda dari biasanya. Setelah kubuka, aku tak menmukan hadiah ulang tahunku yang ketujuh belas. 

“Siapa yang terakhir membuka brangkas?” Kutanyai mereka yang kukira masih bedebat tapi ternyata sudah akur.

“Aku tadi ngambil fotokopi legalisir ijazah Pak.” Jawab anakku.

“Kamu lihat kotak merah, sayang?”

“Tidak, Pak. Aku buka brangkas enggak lihat kotak apa-apa.”

Aku tahu anak perempuanku. Dia menyimpan rahasia. Dari matanya, kurasa dia tahu di mana hadiah ulang tahunku yang ke-tujuh belas. Pandangan mataku membeku dan hatiku terhempas.

***

Lelaki muda itu menjemput anak perempuanku, mereka akan naik bus menuju Malang. Mereka berpamitan. Anakku memeluk dan mencium ibunya. Memeluk dan menciumku juga. Batas kepemilikanku kandas.

“Bapak kok nangis? Kan bisa ketemu lagi.”

Aku cuma mengangguk. Pacarnya menyalamiku setelah menyalami istriku. Kusempatkan berbisik padanya kalimat yang diucapkan ayah mantan pacarku dua puluh delapan tahun silam.

“Nasib kita sama, nak.”

Ia hanya berlalu sambil cengar-cingir. Setelah mereka pergi, kukirim SMS pada anak pertamaku agar pulang segera. Lalu aku bergegas memeluk istriku. Ia kebingungan sebab aku menangis sejadi-jadinya. Meratapi segala hal yang telah, sedang, dan akan berlalu.

 

Muja Muju, 19 Januari 2019

 

***

Facebook Comments