A password will be e-mailed to you.

Jendela yang berukuran enam belas meter persegi itu menunjukkan kota ini dengan jelas, terlalu jelas malah. Dari kaca yang basah penuh titik-titik air itu terlihat mobil berlalu lalang, parkiran depan stasiun kereta yang ramai, dan tukang-tukang becak yang tertidur.

Aku berjalan ke arah kamar mandi, mengganti gaun tidurku dengan celana jeans belel dan baju flanel berkotak-kotak warna hijau milik suamiku yang tergantung di kastok. Walaupun hotel ini memiliki fasilitas air hangat, kupikir lebih baik aku tidak mandi sekarang. Kalau Patrick, suamiku, terbangun, ia pasti rewel minta menyusu lagi.

Patrick masih tertidur pulas sampai mengorok, yang sebenarnya dulu bukanlah kebiasannya. Kupandangi wajahnya yang tidur membelakangi jendela dan memeluk guling selayaknya anak kecil. Kupikir, mungkin ia terlalu lelah pulang seminggu sekali dari Jakarta. Sudah dua tahun dia melakukan kebiasaan ini, mengendarai kereta ekonomi setiap malam sabtu menuju Yogya dan pulang ke Jakarta setiap minggu sore.

Minggu ini adalah pengecualian. Dia bilang sejak hari senin bahwa ia merindukanku, makanya Patrick mengambil cuti hari jumat dan berangkat pagi-pagi kesini.

Setelah mengendap-endap mengambil rokok filter miliknya, aku menuju ke lobi. Hujan rintik-rintik awal November di Yogya begini sayang jika hanya dilewatkan untuk tidur, pikirku. Sebenarnya aku masih ingin bercinta, hanya tak enak membangunkan Patrick yang sedang pulas-pulasnya.

Pegawai hotel yang berada di lobi tersenyum sambil menganggukkan kepala kepadaku. Aku membalas senyumnya sambil menyalakan rokok dan beranjak menuju sofa di bagian teras yang langsung menghadap ke taman depan.

Aku merebahkan pantatku di sofa berwarna merah marun itu. Meja kecil di depan sofa sedikit basah oleh tampias air hujan. Aku menarik sedikit meja itu, dan menaruh rokok serta korek api.

Sambil menghisap rokok filter milik Patrick dalam-dalam, aku melihat jalanan kota yang sudah kutinggali selama tujuh tahun ini. Di pagi buta seperti ini, paduan antara rasa kantuk yang tak kunjung datang dan rintikan hujan memang kadang membuat pikiran kita melayang jauh.

Pernikahanku dengan Patrick sebenarnya tak buruk-buruk amat. Kami punya dua anak yang lucu dan pintar. Patrick juga sudah bekerja dengan gaji yang lebih dari cukup, sehingga aku tak perlu bekerja dan tinggal berfokus mengurusi anak-anak saja.

Kalau ditanya kenapa kami tak tinggal di Jakarta saja, tanyalah kepada Patrick. Dia beralasan kota ini lebih bagus untuk perkembangan anak-anak. Selain itu, menurutnya, hidup di Jakarta tidak manusiawi. Aku setuju-setuju saja, sebenarnya. Anak-anak, keluarga, teman-teman, tempat hiburan, semuanya bergantian mengisi kekosonganku sampai pelukan suamiku datang di akhir pekan.

Hujan turun semakin deras. Di depan stasiun kereta, belasan tukang becak masih tertidur pulas di becaknya masing-masing. Lampu-lampu jalan juga berpadu dengan klakson mobil yang lalu-lalang, menciptakan suatu orkestra yang familier namun agung. Ternyata menyenangkan juga merokok di pagi buta sambil menikmati suasana, pikirku dalam hati.

Aku masih belum mengantuk. Lebih baik aku menunggu Patrick bangun, mengajaknya bercinta sekali lagi, dan tidur sebentar barang satu-dua jam sebelum kami pulang menemui anak-anak.

Rokok filter milik Patrick tinggal puntungnya saja dalam beberapa isapan. Aku kemudian menyalakan batang kedua. Dari arah lobi, keluar sepasang muda-mudi. Dari perawakannya, mungkin umur mereka belasan tahun atau awal dua puluhan.

Mataku mengikuti mereka sambil tetap menjaga sikap untuk tidak terlihat memerhatikan. Si cowok memegang rokok sambil bahunya merangkul si cewek. Si cewek yang menggunakan celana legging bermotif loreng-loreng harimau dan jaket jeans tertawa-tawa genit.

“Aduh yang, aku lupa bawa korek,” Si cowok, yang sudah duduk di sofa lain di teras itu, mengangkat bahunya kepada si cewek.

Si cewek, yang masih berdiri, tiba-tiba melirik ke arahku. Aku tersenyum, mengerti maksudnya, menawarkan korek api cricket hijau yang tergeletak di meja.

“Makasih mbak,” Si cewek mengambil korek api dari uluran tanganku dan menyulut rokoknya sebelum mengulurkan korek itu kepada si cowok.

Melihat mereka berdua merokok sambil tertawa-tawa, aku jadi teringat larangan Patrick padaku untuk tidak merokok. Katanya, itu tidak baik untuk kesehatanku. Tapi aku tetap merokok beberapa hari sekali, bila tak di depan anak-anak tentu saja.

Patrick bukannya tak tahu menahu tentang ini. Bila kami sedang mengobrol lewat video call dan dia melihatku sedang mengeluarkan asap rokok dari mulutku, ia biasanya hanya garuk-garuk kepala sambil menunjukkan bibir monyongnya. Kamu kok jadi ahli hisap sih, sekarang. Mbok ya ngehisap punyaku sabtu besok aja lho. Biasanya dia bilang begitu, dan aku biasanya tersipu-sipu sambil tetap menghisap rokokku.

“Hujannya deras banget ya mbak, nggak berhenti-berhenti.” Si cewek tersenyum, mengembalikan korekku. Aku terkejut dari lamunanku.

“Dari jam sembilan tadi. Sudah hampir enam jam tidak reda-reda. Sedang liburan disini?” Aku membalas senyum si cewek. Dari logat mereka berbicara, aku mengira mereka bukan warga asli kota ini.

“Iya mbak, ada libur dari kampus. Daripada pulang ke kampung halaman masing-masing, kami pilih liburan kesini,” jawabnya.

Si cewek tersenyum genit kepada si cowok, yang membalasnya dengan berpindah satu sofa mendekat ke tempatku duduk. Dia menarik si cewek dan kemudian memangkunya. Kini sofa kami bersebelahan.

Mereka lalu bercerita bahwa si cowok berasal dari suatu kota kecil di Sumatera, sedangkan si cewek berasal dari sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Mereka kuliah di Jakarta. Dari cara mereka beradu pandang, aku menyimpulkan bahwa si cewek ini sama tergila-gilanya dengan si cowok terhadapnya.

“Sendirian disini, Mbak?” ujar si cowok, yang dari tadi diam.

“Enggak, aku sama suamiku. Dia ketiduran di atas. Daripada melongo di kamar nggak bisa tidur, mending kutinggal sebentar merokok di bawah, cari angin.”

“Kalau nanti suami mbak bangun, terus mendapati mbak nggak ada di ranjang, pasti dia marah-marah.” Si cewek, yang memang terlihat lebih berani dari si cowok, menimpali.

Aku terkekeh. Aku suka kejujuran dan keterbukaan mereka. Kurasa, tidak selayaknya aku membalasnya dengan menutup-nutupi apa yang sedang kulakukan dengan Patrick di hotel ini.

“Kalau nanti dia marah, tinggal dikasih susu, rewelnya akan hilang. Lelaki dimana-dimana seperti itu, tak ada bedanya dengan seorang bayi.” Aku menjawab dengan hembusan asap rokok yang panjang. Kulirik mereka berdua. “Kalau kalian berdua bagaimana? Ketika salah satu rewel, apa obatnya? Susu bukan? Atau ada yang lain?”

Mereka berdua terkikik. Si cewek kemudian memeluk si cowok, yang kemudian membalasnya dengan mengelus-elus kepala si cewek.

Mereka berciuman di depanku. Kupikir mereka sedikit mabuk, terutama si cewek. Selain karena bicaranya sangat ngaco, cara dia mencium si cowok menunjukkan kalau saat ini dia memang sedang high. Dasar anak muda, batinku.

“Mbak, caranya biar cinta bisa terus awet sampai kakek-nenek bagaimana?” Si cewek tiba-tiba bertanya.

“Mana kutahu, belum pernah jadi nenek-nenek.” jawabku sekenanya.

“Ya, paling tidak mbak lebih banyak pengalamannya dari kami soal cinta.”

“Rajin-rajinlah bercinta, seminggu tiga kali.” Jawabku lagi, menyulut rokok ketigaku.

“Sudah sebulan ini kami melakukannya tiga kali sehari.”

“Selain bercinta, kalian harus menerima kesalahan dan kekurangan masing-masing. Kelak, kukira, seiring berjalannya waktu, cinta tidak hanya seputar soal ranjang.” jawabku kali ini, teringat Patrick, yang masih tertidur pulas di atas.

Dalam diamnya, si cowok memerhatikan. Si cewek juga akhirnya diam, dia terlihat larut dalam suasana hujan rintik yang tak kunjung reda ini. Udara semakin dingin, tak terasa aku sudah menghisap empat batang rokok malam ini.

Si cowok memeluk si cewek, mereka terlihat menikmati pertunjukan agung berupa gerimis di subuh awal November lengkap dengan bunyi bel kereta pagi yang khas itu.

Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aku berpamitan kepada mereka berdua, berbasa-basi bilang kalau kantuk sudah mulai menyerangku. Mereka berdiri dan bersalaman. Sampai ketemu lagi, kata mereka. Besok pagi kita sarapan bareng. Aku akan mengajak suamiku, balasku.

Aku melangkah masuk, pegawai hotel yang tadi masih menyunggingkan senyum yang sama dengan anggukan yang masih tak menunjukkan rasa kantuk sedikitpun. Aku memencet tombol lift ke lantai lima, kamar dimana aku dan Patrick menginap. Melihat muda-mudi yang ganas tadi, mau tak mau kantukku jadi hilang sama sekali.

Kubuka pintu pelan. Patrick masih terlelap. Setelah mencuci tangan dan muka di wastafel, aku melepas jeans belel dan baju flanel yang kupakai. Aku naik ke atas kasur, memeluk Patrick dari belakang sambil menciumi lehernya. Kukira, bila gerimis ini berlanjut seharian tanpa henti, kami akan bercinta hebat sepanjang hari sampai sore. Minggu pagi kami baru akan menemui anak-anak.

***

 

Cerpen ini dipersembahkan penulis kepada rombongan paseduluran AB-AD PJKA (Pergi Jum’at Kembali Ahad), yang selalu mempermudah kepulangan penulis ke Jogja yang seringnya tak direncanakan.

Facebook Comments