A password will be e-mailed to you.

Muhammad Ainun Nadjib atau lebih familiar disebut Emha Ainun Nadjib lahir di Menturo, Sumobito, Jombang, 27 Mei 1953. Dikenal sebagai sosok, bahkan fenomena multi-kreatif. Hal ini setidaknya terlihat dari banyaknya predikat yang disandangkan masyarakat pada diri Emha. Emha atau akrab disapa Cak Nun tidak saja dikenal sebagai sastrawan, budayawan, cendekiawan, pekerja sosial, kolomnis, seminaris, tapi juga kiai, artis, humoris, serta banyak sebutan lainnya. Meskipun demikian, Emha menyanggah semua predikat itu dengan menyebut dirinya, “Aku dudu sopo-sopo”.

Dalam menempa proses kreatif, Emha pernah lima tahun hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara tahun 1970-1975 tatkala belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan Emha. Mungkin karena pilihan itu pula, Emha lantas meninggalkan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada yang baru dijalani selama empat bulan. Dalam keterangan lain, menurut cerita seorang kawan seangkatan Emha (sekarang menjadi dosen di fakultas tersebut), kala itu Emha berujar, “Dalanku ora neng kene”.

Selepas belajar bersama Umbu di Persada Studi Klub (PSK) Malioboro, Emha terus mengasah dan mengembangkan bakat sastranya. Tercatat berbagai festival dan lokakarya sastra pernah diikuti Emha, di antaranya Festival Puisi di Jakarta (1975); Festival Puisi Asean (1978); Lokakarya Teater di Filipina (1980); International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984); dan Festival Horizonte III di Berlin, Jerman Barat (1985).

Sebagai pengarang Emha termasuk sangat produktif. Aneka karya telah dihasilkannya, mulai dari puisi, cerpen, novel, esai, drama, kritik drama, lagu, hingga naskah film. Tak heran bila kemudian kritikus seperti M. Arief Hakim (1994) menyatakan Emha merupakan penulis paling produktif dan hampir semua bukunya diserbu pembeli. “Bak kacang goreng yang laris manis,” begitu kata Arief Hakim. Sepadan rasanya jika kita melihat tulisan-tulisan Emha yang sangat tajam dan peka menyampaikan persoalan, serta menggugah alam pikiran pembacanya.

Di samping kegiatan kepenulisan, Emha juga rajin terjun langsung di masyarakat. Dia melakukan multi-aktivitas yang memadupadankan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, dan sinergi kebudayaan untuk memacu pertumbuhan potensi masyarakat. Bersama kelompok kesenian Kiai Kanjeng, secara rutin Emha menyambangi desa-desa, dari satu kota ke kota yang lain dan berbagi kegembiraan kepada masyarakat. Dalam perjumpaan-perjumpaan itu pula dia mengupayakan dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metode perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi problem masyarakat. Semuanya dilakukan Emha dengan penuh cinta dan kemesraan.

Konsistensi, ketekunan, dan keuletan Emha mengelola energi kebaikan dan keberkahan, tidak saja membuat Emha mampu bertahan di tengah realitas kehidupan yang begitu dinamis, tetapi juga menyikapinya secara arif dan kreatif. Emha adalah sosok yang alamiah, dia belajar langsung dari proses kehidupan itu sendiri, mengambil hikmah pengertian darinya, menginternalisasinya, dan mengeluarkannya sebagai keindahan. Sosok yang begitu otentik.

Buku Emha yang sudah terbit di antaranya: (1) “M” Frustasi dan Sajak-Sajak Cinta (kumpulan puisi, 1975); (2) Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (kumpulan puisi, 1978) memenangi Hadiah Sayembara Penulisan Puisi Majalah Tifa Sastra 1977; (3) Nyanyian Gelandangan (kumpulan puisi, 1982); (4) Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (kumpulan esai, 1980); (5) 99 untuk Tuhan (kumpulan puisi, 1980); (6) Syair Lautan Jilbab (kumpulan puisi, 1989); (7) Suluk Pesisiran (kumpulan puisi, 1989, Bandung: Mizan); (8) Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan (kumpulan esai, 1985); (9) Sastra yang Membebaskan (kumpulan esai, 1984); (10) Cahaya Maha Cahaya (kumpulan puisi, 1991); (11) Yang Terhormat Nama Saya (kumpulan cerpen, 1992); (12) Slilit Sang Kiai (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1991); (13) Markesot Bertutur (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1993, Bandung: Mizan); (14) Secangkir Kopi Pahit (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1991); (15) Markesot Bertutur Lagi (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1994, Bandung: Mizan); (16) Arus Bawah (novel, 1995); (17) Sesobek Buku Harian Indonesia (kumpulan puisi, 1993); (18) Seribu Masjid Satu Jumlahnya: Tahajud Cinta Seorang Hamba (kumpulan puisi, 1990, Bandung: Mizan); (19) Secangkir Kopi Jon Parkir (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1992, Bandung: Mizan); (20) Nasionalisme Muhammad: Islam Menyongsong Masa Depan (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1995); (21) Surat kepada Kanjeng Nabi (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1996); (22) Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1994); (23) Tuhan pun “Berpuasa” (kumpulan esai sosial kemasyarakatan, 1997), dan Demokrasi La Raiba Fih (kumpulan esai, Kompas, 2010).

Melihat begitu banyaknya karya Emha alias Cak Nun, hal tersebut tentu tidak lepas dari dedikasi dan kerja terus menerusnya (yang seolah tanpa kenal lelah) selama ini. Sesuatu yang patut kita teladani.

Selamat ulang tahun, Cak Nun.

 

Kabut

Selalu kaupanggil-panggil namaku
Aku mengangguk dan tersenyum kepadamu
Tapi sebenarnya kabutlah
Yang kaupanggil itu

Kauseret tubuhku, kaubawa ke perjalanan
Kau perkenalkan kepada setiap orang
Kabut pun menebal, diriku tersembunyikan

Tak kauingatkan sudah berapa topeng
Yang kautempelkan di wajahku?
Jadi engkau sendirilah ini, bukan aku

Tetangga, politik, dan persangkaan
Nafsu, idolatri, dan kepentingan
Mengepulkan debu, mengabuti sejatiku

Kita semua adalah Tuhan yang menyamar
Menyiksa diri dengan sejarah yang samar-samar
Kalau tak juga kautanggalkan topeng-topeng ini
Kepalsuan kita panggul sampai mati

*Diambil dari Sesobek Buku Harian Indonesia (1993).

 

Akan Ke Manakah Angin

Akan ke manakah angin
turun melayang
Tatkala turun senja nan muram
Kepada siapa lagu kuangankan
Kelam dalam kalbu rindu tertahan

Datanglah engkau berbaring di sisiku
Turun dan berbisik tepat di sampingku
Belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
Kuingin menjerit dalam pelukanmu

Sampai di manakah berarak awan
Bagi siapa mata kupejamkan
Pecah bulan dalam ombak lautan
Dahan dahan di hati bergetaran

1973.

Facebook Comments