A password will be e-mailed to you.

“Hembus angin lembut tiba-tiba datang mengusap wajah. Melewati sela-sela jemari tangan yang bergerak mengikuti tariannya. Serta menerpa ubun-ubun, dalam penutup kepala yang tengah terbuka. Bersama dengannya, pasir putih, debur ombak, laut dan langit biru, dan pandangan mata kita. Menjadi altar yang sempurna. Tidak peduli keramaian pantai dan bagaimana orang-orang di sana. Semua ada untuk dinikmati sendiri.”

***

Aku terkejut saat Naya ngomong ingin pergi ke Bali untuk menikmati suasana Pantai Kuta. Sesuatu yang tidak biasanya. Bukan karena celoteh Naya. Sebab perihal celoteh, sudah sering aku mendengar. Bahkan mungkin terlalu sering, dia bercerita ingin pergi ke tempat-tempat yang menurutnya asyik. Hanya saja cahaya menakjubkan muncul dari pancaran matanya kali ini. Entah cahaya apa gerangan. Pancaran teduh terpendar di kedua mata indah itu.

Pergi ke pantai, menghirup wewangi kembang, dan yang paling penting, lepas dari hiruk pikuk rutinitas. Meruangkan jeda dari penat, baik pekerjaan maupun studi magister yang sedang ditempuh. Serta menanggalkan keresahan-keresahan yang mengendap di pikiran. Sesuatu yang memang dibutuhkan Naya.

Untuk hal ini, Bali adalah pilihan yang tepat. Setidaknya dengan pergi ke Bali waktu jeda Naya lebih berwarna. Tidak melulu dia hanya menjalankan hobinya. Tidur di kamar. Atau kalau sudah bosan. Membuka laptop, lalu menonton koleksi drama Koreanya sampai jenuh.

“Rekreasi kok cuma ndekem di kamar. Monoton.” Begitu kata teman-teman Naya perihal aktivitasnya. Tapi peduli setan. Naya tidak pernah menggubris. Dia menikmatinya. Bagi Naya kenikmatan memang tidak perlu terlihat muluk dan harus dipahami oleh orang lain.

Tetapi beda cerita soal Naya ingin pergi ke Bali. Jenis kenikmatan ini agak spesial. Jika jadi pergi ke Bali. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya. Bukan rahasia Naya selalu menikmati setiap pengalaman pertamanya. Rasa gugup, deg-deg-an, dan pikiran yang lebih agresif selalu menjadi kenikmatan tersendiri.

***

Demi Naya, tiket pesawat yang sudah dibelinya tidak kubiarkan hangus. Tidak seperti rencana awal tahun ini. Di mana dia mengajakku pergi ke Padang. Menikmati lika-liku Ngarai Sianok. Napak tilas di bekas rumah Tan Malaka. Mampir ke Bukit Tinggi. Lalu mengabadikan kenangan di putaran jarum, Jam Gadang.

Saat itu aku luput memperhatikan pancaran mata Naya. Aku asyik dengan angan-anganku sendiri. Pikirku, beberapa hari menemani Naya jalan-jalan adalah kesempatan langka. Kesempatan untuk intensif menggoda dia. Membuatnya manyun sambil merengek. Atau dengan suatu kekonyolan spontan yang melintas. Aku akan bisa membuat dia tertawa terbahak-bahak. Pasti seru!

Bahkan, tidak cuma itu. Aku bayangkan juga hal romantis. Aku ajak dia menikmati keindahan jembatan Kelok Sembilan dari ketinggian. Dan setelah beberapa saat di sana aku minta dia memejamkan mata. Lalu kulancarkan ‘preambule’ mimpiku. Membisikkan kata-kata lembut di telinganya.

“Waktu selalu menebal dan yang paling menyebalkan darinya adalah menahan rindu….” Begitu bunyi bagian awal kata-kata itu. Dan di bagian akhirnya “….Kita tidak perlu lagi saling menahan rindu. Sebab jika kita selalu bersama, kita akan selalu bisa merayakannya.”

Kemudian aku menyodorkan sebuah cincin sambil berlutut di hadapannya. Mirip adegan di film-film drama percintaan. “Maukah kamu menikah denganku, Nay?”

***

Waktu seolah sedang mempersilahkan aku dan Naya duduk di tepi pantai. Membiarkan kami memandang debur ombak dengan perasaan aneh. Membiarkan kami memandang laut dan langit biru di ujungnya. Dan membiarkan kami meraba-raba batas di antara mereka. Dimensi yang samar pada laut dan langit biru. Serta, membiarkan kami saling memandang dalam dimensi itu. Dan menikmatinya.

“Tanpa pasir putih, debur ombak, laut dan langit biru, dan pandangan mata kita. Pantai ini tidak akan pernah ada. Dan kita tidak akan pernah bisa menikmati keindahannya. Apakah kamu juga merasakannya, Nay?”

Tak selang berapa lama debur ombak di Pantai Kuta tiba-tiba memecah keheningan. Angin lembut berhembus mengusap wajahku. “Angin apa ini, dinginnya melebihi rindu?” tanyaku dalam batin, keheranan.

Seiring terlewatinya sore hari. Warna keemasan perlahan muncul. Dari tepi pantai terbentang warna merah di ufuk barat. Lembayung-lembayung senja pun menyemburat. Malaikat seperti sedang mengepakkan sayap-sayapnya di sana.

“Ini adalah pancaran cahaya di mata Naya!” teriakku.

***

Seperti senja yang aku lihat di matamu.

Selalu saja, ia mengingatkan kepada

keraguan antara kehadiran atau kemusnahan.

Perpisahan yang sedang kita ulur-ulur.

****

Facebook Comments