A password will be e-mailed to you.

Di akhir bulan Agustus 2018, Hanung Bramantyo kembali merilis film terbarunya dengan konsep drama kolosal ke layar lebar. Film tersebut berkisah tentang kehidupan Sultan Agung di tahun 1628 ketika ia menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk mempertemukan nilai-nilai kebudayaan Jawa dengan Islam, melawan kejahatan VOC, dan—secara patriotik—mengorbankan banyak kepentingan pribadinya demi kelangsungan hidup Kerajaan Mataram. Sebagai antitesis terhadap anggapan bahwa Sultan Agung adalah raja yang kejam dan bengis dalam banyak literatur Belanda, dalam film ini, Hanung menggambarkan Sultan Agung sebagai sosok raja yang begitu sempurna, pemberani, dan rela mengorbankan banyak hal.

 

Bagi banyak orang yang mendambakan kesempurnaan dan menjunjung tinggi keluhuran hidup, film ini akan tampak begitu menarik. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta adalah asupan yang sangat pas bagi mereka yang ingin menjalani hidup secara ideal. Akan tetapi, bagi saya yang beranggapan bahwa kesempurnaan dan kebenaran fatalistik dalam hidup tak jauh berbeda dari harapan suatu saat bisa melihat seekor kucing terbang di langit menyerupai sinterklas—yang artinya tidak mungkin, film terbaru Hanung ini hanya tampak sebagai film yang ambisius, menawarkan utopia, dan—mungkin—dalam beberapa hal “kekanak-kanakan”.

 

Terlepas dari teknik sinematografi film yang dapat dikatakan cukup baik, cara Hanung bercerita dalam film tentang sosok Sultan Agung (diperankan Aryo Bayu) sebagai raja yang memikul beban begitu berat sepeninggal ayahnya, begitu berapi-api mengibarkan Perang Batavia yang berhasil meruntuhkan benteng VOC, hingga dengan lapang dada mengorbankan rasa cintanya kepada Lembayung (Putri Marino) karena terpaksa menikahi seorang perempuan ningrat, bagaimanapun, adalah gaya bertutur yang sangat membosankan bagi saya. Cerita-cerita semacam itu tampak terlalu biasa karena bahkan bisa kita temui di literatur-literatur yang kita gunakan sewaktu berada di sekolah menengah. Dalam film, Sultan Agung digambarkan sebagai manusia yang terlalu final dan sempurna, sementara pembelajaran dan pemahaman akan hidup justru seringkali datang dari ketidaksempurnaan dan—bahkan—kesalahan-kesalahan.

 

Walaupun tidak dapat digunakan sebagai rujukan sejarah, Hanung terhitung sangat ambisius untuk mengangkat hampir seluruh sisi kehidupan pribadi Sultan Agung: masalah keluarga, perjuangannya melawan penjajah, hingga kisah cintanya yang dibalut dalam lanskap kehidupan seorang protagonis yang begitu utuh. Cara bercerita semacam ini, alih-alih membangun kepekaan penonton terhadap keindahan peristiwa sejarah, justru berpotensi membuat mereka memuja, bahkan “mengkultusan” sosok pribadi Sultan Agung.

 

Di saat Hanung begitu ambisius mengambarkan Sultan Agung sebagai pahlawan yang begitu sempurna, kesalahan fatal yang berkaitan dengan wardrobe terjadi dalam film. Kesalahan ini terjadi ketika Sultan Agung sebagai Raja Kerajaan Mataram menggunakan jarik parang dengan motif berukuran kecil berwarna biru. Hal ini, konon, melanggar pakem cara berpakaian yang berlaku di Kraton Yogyakarta. Raja sebagai penguasa seharusnya menggunakan jarik dengan motif parang berukuran besar dan berwarna gelap karena melambangkan karisma dan status sosial. Kesalahan semacam ini menunjukkan bahwa selain ambisius, film sejarah Hanung Bramantyo ini dibuat tanpa melalui riset yang mendalam.

 

Ambisi untuk mengangkat sisi kehidupan tokoh utama secara terlalu luas maupun penggambaran kepribadian yang terlampau sempurna memang sering terjadi dalam film-film Indonesia, terutama film-film bertema sejarah maupun biografi. Film-film semacam ini, selain tampak tendensius, justru kecil kemungkinan memunculkan diskursus fenomena masa lampau yang mungkin tidak dapat ditemukan sebelumnya dalam literatur dan teks-teks sejarah.

Istirahatlah Kata-Kata dan Yosep Anggi Noen

Karena itu, dengan penuh ketadhiman, saya mengangkat topi setinggi-tingginya untuk Yosep Anggi Noen yang telah berhasil menawarkan gaya bertutur film biografi dengan cara yang wajar dan tidak ambisius. Dalam Istirahatlah Kata-Kata (Solo, Solitude) yang ia rilis pada 2016, Anggi tak terlalu serampangan menampakkan keberanian dan sifat pemberontak Wiji Thukul (diperankan oleh Gunawan Maryanto) dalam satu setengah jam durasinya. Istirihatlah Kata-Kata bukanlah sebuah biografi patriotik seorang Wiji Thukul dalam melawan rezim yang gemar menyuapinya penindasan dan kehinaan. Dalam film, ia hanya digambarkan sebagai pemuda surreal yang doyan merenung sambil membaca puisi di emperan pertokoan Cina yang kumuh.

 

Meskipun Wiji Thukul adalah sosok yang dekat dengan jiwa perlawanan laiknya Tan Malaka, dalam film, Anggi tetap menggambarkannya sebagai lelaki paruh baya biasa yang doyan meminum tuak di pinggiran sungai, dan justru menampakkan kengerian yang subtil ketika pada satu kesempatan bertemu seorang tentara yang menanyainya kalimat semacam: “Selamat malam. Siapa namamu? Ada KTP?”. Dengan gaya penceritaan semacam itu, Istirahatlah Kata-Kata sama sekali tidak terkesan ambisius. Perjalanan alurnya akan terlihat sebagaimana kita melihat kehidupan kita sendiri yang penuh dengan lubang-lubang kewajaran.

 

Gaya bertutur yang dimiliki oleh Anggi semacam ini harus ada di tengah ekosistem perfilman Indonesia yang—saat ini—penuh dengan narasi-narasi komersial yang ambisius. Penggambaran Wiji Thukul sebagai lelaki biasa yang doyan minum tuak dan menumpuk puluhan bungkus Surya 12 di kamar kontrakannya yang remang akan berkelindan dengan kesadaran psikologis kita yang gerowong: bahwa hidup memang tak seterusnya sempurna dan ideal, dan karenanya, kita harus mafhum terhadap segala kekurangan—sekaligus menganggapnya sebagai suatu kewajaran hidup.

Facebook Comments