A password will be e-mailed to you.

Di masa kecilnya, ketika masih bercita-cita menjadi astronot, Alfonso Cuaron hidup dengan sederhana bersama keluarganya di kawasan metropolitan Distrito Federal, Mexico City. Meskipun begitu, saat itu ia berpikir bahwa cita-cita menjadi astronot mengharuskannya masuk ke sekolah militer. Cuaron kecil—mungkin—adalah anak nakal yang mendambakan kebebasan, dan karena itu ia membenci tentara dan segala hal terkait kemiliteran. Kebencian itu membuatnya mengurungkan niat untuk pergi ke bulan dan menjadi astronot.

Sebagai ganti atas angan-angan masa kecil yang tak kesampaian, Cuaron lalu berhasil menemukan hobi baru: membohongi ibunya. Ia sering berpamitan untuk pergi bermain ke rumah seorang teman, sementara yang ia lakukan sebenarnya adalah mendatangi bioskop di dekat rumah dan menonton film. Studios Churubusco dan Studios 212 di Coyoacán adalah dua studio tua milik pemerintah di bilangan Mexico City yang menjadi saksi kebohongan itu dan kemudian menjadi awal ketertarikan Cuaron terhadap sinema.

Gravity, film space thriller yang ia sutradarai pada tahun 2013 dan bercerita tentang terjebaknya dua orang astronot di sebuah pesawat luar angkasa adalah salah satu usaha Cuaron mengenang—sekaligus mengejek—ambisi kekanak-kanakannya. Saya menyimpulkan dengan sedikit ngawur bahwa dalam hal ini, Gravity lahir dari gabungan antara kegagalan Cuaron kecil dan keangkuhannya di masa tua. Terjebaknya Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Matt Kowalski (George Clooney) dalam film adalah bentuk metafor terhadap ambisinya sendiri semasa kecil: sebuah visualisasi mimpi untuk terbang ke luar angkasa dan menjadi astronot yang—sayangnya—gagal ia raih sendiri.

Dalam hal ini, Cuaron tampak menjadi seorang lelaki egois. Ia tak mau terjebak dalam angan-angan masa kecil yang mungkin akan membuatnya celaka layaknya Dr. Ryan dan Matt ketika besar nanti. Keselamatan hidupnya sendiri dari keterjebakan itulah yang secara satir ia pamerkan dan olok-olok dalam Gravity. Sampai di sini, lagi-lagi dengan ngawur dan tanpa ketakziman sebagai pemuda nggunung yang tertarik dengan dunia perfilman, saya menyimpulkan bahwa sutradara yang masuk dalam The Three Amigos of Cinema ini adalah seorang laki-laki yang agak megalomania.

 

Roma, Cerita Lain
Kalau Gravity adalah kenangan dan wujud cermin kepribadian Alfonso Cuaron yang egois dan ambisius, Roma punya cerita lain. Film peraih Golden Lion Winner di Venice Film Festival 2018 ini adalah sebuah lanskap kehidupan personal Cuaron yang sangat intim, sentimental, dan penuh cinta kasih. Oleh banyak kritikus film, film ini ditafsirkan sebagai surat cinta yang diberikan oleh Cuaron kepada pengasuhnya semasa kecil, Liboria “Libo” Rodriguez.
Surat cinta itu, diberikan oleh Cuaron sebagai rasa terimakasihnya kepada Libo yang telah mendampingi masa kecilnya, menemaninya pergi ke Studios Churubusco dan Studios 212 untuk melihat dua sampai tiga film sekaligus, dan—mungkin—pada suatu ketika melihatnya tumbuh menjadi seorang laki-laki megalomania, namun pada saat yang sama tetap penuh dengan kasih sayang dan empati.

Sifat megalomania itu, pada kenyataannya tetap ada dalam proses pembuatan Roma yang kemudian justru muncul menjadi sebuah film yang penuh keindahan dan nilai kemanusiaan. Dalam sebuah wawancara singkat oleh Majalah Variety di New York, Cuaron menjelaskan bahwa dalam penulisan cerita Roma, secara sengaja ia sama sekali tak berniat untuk meminta masukan dari Guillermo del Toro dan Alejandro G. Inarritu seperti film-filmnya yang lalu.

“I wanted this to be about trusting these moments, whatever was going to come out. I didn’t want to be thinking about narrative, and this is the first project where I didn’t want to have any references.” katanya mbagusi.

Libo Punya Kehidupan Sendiri
Menyambung bahasan sebelumnya, Libo datang sebagai seorang pekerja imigran dari Tepelmeme, sebuah desa sederhana di kawasan Oaxaca, Mexico yang terkenal dengan bangunan-bangunannya yang terbuat dari bebatuan vulkanik. Ia datang saat Cuaron masih berumur 9 bulan pada sekitar tahun 1970: latar waktu yang juga digunakan dalam Roma dan karena itulah film dibuat dalam nuansa klasik bergambar hitam-putih. Dalam film, peran Libo digantikan oleh seorang wanita bernama Cleo (diperankan aktris pendatang baru, Yalitza Aparicio yang juga berasal dari Oaxaca).

Selain mencucikan pakaian kotor Cuaron kecil dan saudara-saudaranya, membuatkan mereka teh hangat sebagai teman menonton televisi, sampai membersihkan kotoran anjing yang mengotori garasi rumah, Libo juga menyentuh kepekaan hati Cuaron semasa kecil dengan cerita-cerita khas kehidupan pedesaan tempat ia tinggal.

Dalam kesehariannya di rumah majikan dulu, Libo kerap bercerita pada Cuaron tentang kesulitan hidup yang ia alami sebagai gadis desa semasa kecil, udara pegunungan Oaxaca yang kerap membuatnya kedinginan, hingga seorang dukun yang bertugas mengobati setiap orang sakit di Tepelmeme. Cerita-cerita humanis semacam itu telah membuat Cuaron tumbuh menjadi lelaki dewasa yang sentimental dan mau menempatkan diri pada posisi orang lain. Sebagai anak kecil yang tumbuh dari keluarga kelas menengah, cerita-cerita Libo seperti berhasil mengajak Cuaron terlibat dalam sebuah dongeng petualangan yang asing namun tetap manusiawi.

Karena tak mau menggunakan referensi apapun—seperti yang ia katakan tadi, seluruh ide cerita Roma diperoleh Cuaron dengan mendatangi Libo di Oaxaca dan menyuruhnya menceritakan segala hal tentang kehidupan mereka di masa lalu. Kedatangan Cuaron adalah hal yang membuat Libo bahagia tapi juga memunculkan kegamangan: bagi wanita tua berumur 74 tahun seperti Libo, seharusnya ia tinggal menikmati hidup dengan minum teh sambil merasakan udara dingin pegunungan Oaxaca, tanpa perlu repot-repot menggali kembali masa lalunya.

Cinta yang Berjarak
Jika Jorge Luis Borges membahasakan kenangan sebagai sebuah kaca buram yang pecah, Cuaron mengartikannya sebagai dinding-dinding tua yang retak. Baginya, Roma adalah salah satu usaha untuk menutupi keretakan itu yang—lagi-lagi—gagal ia lakukan. Kegagalan itu disebabkan pada kenyataan bahwa Roma, bagaimanapun memang berhasil membuat hati Libo merasa haru dan bahagia, namun di saat yang sama menempatkannya pada rasa sakit dan kesedihan yang menggantung.

Rasa sakit dan kesedihan itu, muncul akibat hubungan Libo dan keluarga Cuaron yang begitu misterius, asing, dan tak mampu diterjemahkan secara pendek dalam kata-kata. Hal semacam ini—lagi-lagi—secara agak ngawur dan seenaknya saya bahasakan dengan istilah: cinta yang berjarak.

Dalam Roma, Cleo tampak sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh yang sangat disayangi oleh anak-anak (salah satu dari mereka digambarkan sebagai Cuaron), namun pada kesempatan tertentu dibentak habis-habisan oleh Sofia (majikan wanita Cleo, diperankan Marina de Tavira) karena terlambat membersihkan kotoran anjing yang berserakan di garasi rumah. Tempat tidur Cleo adalah sebuah kamar sempit di lantai dua yang terpisah dengan bangunan rumah utama, dimana Sofia juga melarangnya menghidupkan lampu di malam hari dan Cleo hanya boleh mendapatkan penerangan dengan menghidupkan lilin.

Di beberapa kesempatan, Cuaron dan keluarganya tampak begitu dekat dan menyayangi Cleo dengan mengajaknya berjalan-jalan bersama menuju pantai di Tuxpan, negara bagian Veracruz, Meksiko. Sepanjang perjalanan, Sofia dan anak-anaknya berteriak bahwa mereka sangat mencintai Cleo karena merasa kesepian semenjak Antonio (Fernando Grediaga) pergi meninggalkan rumah, berselingkuh dengan wanita lain dan tak akan pernah kembali ke rumah mereka di Distrito Federal.

Meskipun begitu, ungkapan kasih sayang itu hanya tampak seperti bualan ketika mereka sampai di hotel dan Cleo kembali menjalankan pekerjaan untuk melayani Sofia dan anak-anaknya makan, menyiapkan tempat untuk mereka tidur, dan membawakan pakaian kotor mereka ke laundry: segalanya kembali pada hubungan transaksional.

Dalam hal ini, hubungan cinta kasih yang dirasakan Cleo dalam keluarga Sofia tampak seperti dibatasi oleh “dinding” kepentingan ekonomi antara majikan dan pekerja. Dinding itulah yang mengalami keretakan dan—kemudian—berusaha ditambal atau ditutupi oleh Cuaron melalui Roma. Meskipun dinding yang retak terlalu besar untuk ditutup dengan sepucuk surat cinta, paling tidak, Cuaron telah berhasil membuat Libo menangis dengan melihat gambaran masa lalunya di Distrito Federal yang begitu indah, monokrom, dan menyesakkan.

 

***

Facebook Comments