A password will be e-mailed to you.

Surat Untuk Abram Yang Manis

Untuk Abram,

Kekasih yang masih aku sayangi.

 

Bram yang kucintai,

Barangkali ini satu-satunya caraku berbicara. Semoga kabarmu baik senantiasa.

Kuawali surat ini dengan sedikit cerita tentang nenekku yang berharga sewaktu masih hidup. Saat remaja, aku diajarinya menjadi wanita yang tak terlalu memuja seorang lelaki, meski aku memang adanya begitu. Katanya, yang ada nanti aku bakal ditinggal. Laki-laki itu suka tantangan. Maka, wanita harus senantiasa menjelma sebagai sesuatu yang sukar. Kalau tidak, mereka—para lelaki—bisa bosan dan lari.

“Tapi sesekali bolehlah kau biarkan lelaki merasa menang,” begitu kata Nenek mengujungi.

Tapi kau tahulah, tak pernah petuah itu berlaku padaku. Ku cintai kau secara utuh dan kuberi seluruh, Bram.

Bram yang kukasihi,

Saban hari kurindui kau. Beberapa kali dirimu muncul di waktu-waktu yang barangkali absurd dan tak lazim, kutambahi: tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.

Kuberi contoh: Di suatu siang yang terik, pernah kulihat seorang pegawai negeri yang merokok sehabis makan siang. Dihembuskannya asap tembakau, dan meliuk-liuklah asap itu. Langsung aku teringat kau, pada rambutmu yang ikal itu, yang tak kau kuncir, yang meliuk saat kau banyak tingkah; berjingkrak-jingkrak entah sebab apa. Bram, kubilang untuk kesekian kali, aku suka sekali saat rambutmu yang ikal, gondrong, dan berkilau itu kau urai. Cantik sekali, Bram. Tapi kau lebih suka mengikatnya serupa ekor kuda. Tapi tak apa, ekor kuda pun manis.

Bram yang manis,

Belakangan ini pula kurindui nenekku itu. Tapi, barangkali pun aku pantas disebut cucu durhaka, menginginkan neneknya yang mati untuk hidup kembali hanya untuk diajak berdiskusi bagaimana harus menyikapi nasib terkutuk ini. Setelah dapat solusi, tak akan kucegah dia mati kembali. Tapi kau tahulah itu mustahil.

Ibu? Jangan tanya. Kepalanya sudah pening memikirkan hidup yang sengsara. Tak ingin kutambah-tambahi lagi. Pernah sekali kucoba, tapi begitu kusebut sekata kekasih, aku pun dimaki:

“Kau ini! Kau taruh di mana otakmu? Sempat kau pikir perihal sia-sia semacam itu, sedang aku susah payah banting tulang untuk perutmu dan empat adikmu yang kecil-kecil itu? Kalau kau mau bantu aku, belajar kau betul-betul, atau kerja saja kau lebih baik. Atau carikan aku Bapakmu yang kabur ke mana entah!”

Lalu di tengah malam dia ke kamarku. Dibujuknya aku dengan sesenggukan, sambil mengelus kepalaku yang menghadap ke dinding:

“Anakku sayang, tiada maksud Ibu begitu. Kau pun tahu hidup kita sebegini susah semenjak Bapakmu pergi. Dulu, tak dibiarkan oleh kakek nenekmu Ibu berlama sampai tamat di sekolah tinggi. Menghabiskan uang saja, kata mereka, sedang ujungnya hanya mengurus rumah. Jadilah sekolah Ibu tak pernah sudah, menikah dan bergantung pada Bapakmu semata. Sekarang saat Bapakmu pergi, tak banyak yang dapat Ibu buat. Siapa yang mau menerima lulusan sekolah menengah dan tiada pula punya pengalaman kerja? Maka itu anakku, sekarang, tolong kau urusi dulu dirimu dengan benar. Jangan kau kelak menyesal seperti Ibumu yang sial ini. Jangan kau mau bergantung pada seorang pun manusia. Hiduplah di atas kakimu sendiri.”

Begitu katanya, Bram. Lalu, bisa apa seorang aku ini, Bram? Aku pun tak mau lagi bergantung pada semanusiapun. Tapi, saat ini aku benar-benar butuh ditemani. Konsep hidup di atas kaki sendiri-nya Ibu sulit sekali. Tak bisa kuterapkan di kondisi begini.

Bram yang masih kusayangi,

Sudah hampir tiga bulan, Bram. Buncit perutku ini tak bisa kusembunyikan lebih lama lagi. Kau pulanglah secepat mungkin. Tak perlu kau takut harus nikahi aku, tak akan kupaksakan kau. Cukup kau temani saja aku ke dukun itu. Tiada berani aku ke sana tanpa bertemankan seorang. Nyaliku terlalu ringkih. Setelah keluar isi perut ini, pergilah kau ke mana maumu. Jadilah kita asing kembali. Lalu, akan kuturuti setiap kata dari mulut Ibuku yang malang itu. Kutitip surat ini pada teman baikmu. Jangan kau marah padanya.

 

Segera, Bram

Sekar

Surat Terakhir Untuk Sekar

Untuk Sekar, perempuan yang selalu kukasihi

Sekar, suratmu sampai padaku dalam keadaan utuh. Kabarku sebagaimana kabarmu, tidak baik-baik saja tentu. Justru terkutuklah aku jika merasa baik-baik saja.

Beribu maaf, Sekar, tepat di empat bulan pelarianku baru bisa kutulis surat ini untukmu. Maaf, tiada bisa kau hubungi aku selama ini. Tiada pernah sampai hatiku menemuimu setelah kuporak-porandakan hidupmu yang memang sudah porak-poranda itu. Tiada berani kubuka handphoneku sejak mendapat telpon darimu yang terisak di tengah malam itu.

Sekar, jujur, aku tak mau anak itu lahir di dunia yang terkutuk ini, di mana nasib buruk selalu mengintai di setiap persimpangan. Pun juga, tak sampai hatiku mengantarnya kembali ke asalnya, setelah nafsuku sendiri yang mengundangnya.

Sekar, kekasih hatiku satu-satunya. Tiada pernah sampai pikirku, aku sendirilah yang menjadi perantara nasib buruk lain untuk menemuimu, dan makhluk rapuh di perutmu. Maaf, Sekar, maaf. Aku benar-benar minta maaf. Tentu aku tahu maafku ini bagaimanapun juga tidak pantas dimaafkan, dan kau pun tidak boleh memberi maaf padaku. Buntu, Sekar, buntu. Tak ada jalan keluar baik yang dapat aku ambil. Sudah sungguh tersesat aku di labirin raksasa yang kita sebut dunia ini. Sesak sekali rasanya.

Selama empat bulan terakhir, setiap tempat yang kupijaki, tak pernah ada nyaman kurasai. Gelisah mendiami setiap tarikan nafasku. Terbayang padaku wajahmu yang teduh, matamu yang sendu, juga lenganmu yang mampu memeluk seluruh jagatku. Ingin betul aku rehat abadi di sana, kalau bisa.

Seminggu belakangan ini aku menetap di pesisir. Setiap hari aku duduk di bibir pantai, menatap garis lurus yang membentang lebar di ujung sana, menjelma dua buah lengan yang menyatu, seolah ingin memelukku. Ombak pun tak kalah menggodanya, menyentuh ujung-ujung jari kakiku, berusaha menarik aku.

Sekar, ingatkah kau, kita pernah bercita-cita untuk mati tua dan abu kita disebar di laut? Abu kita akan menempel di kapal busuk nelayan, atau masuk ke perut ikan, atau malah sempurna lebur dan menjadi buih yang tak berumur panjang. Tidak soal. Pokoknya sempat menapak di laut saja sudah cukup. Terlalu muak kita pada daratan sialan.

Tapi sepertinya tak akan dapat begitu. Di hidupku yang ini, aku betul-betul ingin kisah kita berakhir persis seperti film kesukaanmu, tentang kapal mahsyur yang tenggelam disobek gunung es yang mungil. Aku akan mati, sedang kau selamat dan hidup untuk waktu yang lama, juga berbahagia senantiasa, meski sulit untuk melupa. Oh, sebaiknya yang terakhir itu diubah saja: kau betul-betul lupa akan aku di sepanjang hidupmu. Biarlah kita kembali asing seperti keinginanmu di suratmu itu, aku setuju. Lagipula, tidak ada gunanya, Sekar.

Terima kasih (lagi), untuk pujianmu atas rambutku. Satu-satunya jejak Bunda pada diriku, sekaligus hal yang paling dibenci Ayah, setelah sifat cengengku yang katanya persis seperti Bunda. Aku pun betul-betul menghamba pada matamu yang sendu. Mata yang merawat ingatanku pada bunda yang kurindu. Ah, Bunda, kuharap Bunda berbahagia dengan suami barunya yang (barangkali) pengasih dan penyayang. Aduh, maaf, lagi-lagi ratapan itu-itu juga yang kubicarakan.

Surat ini tak usah kau balas. Tiada lain kali dapat kutulis lagi. Selamat tinggal, Sekar. Aku berharap kelak kita tidak bertemu di dunia yang lain (kalau ada). Sebab pasti aku akan ditempatkan pada seburuk-buruknya tempat. Maka kau jangan.

 

Hiduplah dengan bahagia, Sekar

Abram

Surat Terakhir Untuk Bram

Teruntuk Bram, yang masih juga kukasihi

Bram, semoga kabarmu baik-baik saja.  Kutulis surat ini tepat pada hari ketiga kepulanganku dari rumah seorang dukun. Tepat pula empat bulan kepergianmu.

Bram, tak disengaja Ibu terpegang perut buncitku yang keras ini. Sontak Ibu tahu, hampir gila ia hari itu. Besoknya, segera diajaknya aku ke dukun. Aku menolak dan kubilang nanti dulu. Ku katakan aku juga berniat mengeluarkan isi perut ini. Waktu itu, aku masih menunggumu, Bram.

“Sebentar lagi Bram datang,” yakinku pada Ibu sekaligus pada diriku sendiri.

Namun, Ibuku yang keras kepala itu tak percaya. Katanya tak ada harapan kau akan kembali. Jabang bayi ini harus segera dikeluarkan sebelum bandel dan susah meski dipaksa.

Terseok-seok aku kesana. Berat betul, Bram. Jauh di dalam hatiku, kuinginkan juga hidupnya bayi ini. Tapi, bayanganku tentang masa depan begitu suram. Takut aku dia menyecap kehidupan kelam seperti Bapak Ibunya. Kita tahu kita tidak siap untuk menjadi orang tua, salah-salah malah berujung seperti kedua orangtua kita. Kasihan betul anak itu nanti.

Oh, Bram, lagi-lagi aku bernasib sial. Sepertinya malaikat maut menumpang pendarahan dan infeksi untuk sampai padaku. Kau tahu, Bram, begini ternyata rasanya menunggu dijemput ajal. Mengerikan, terlalu, sungguh.

Dan, Bram, kau tahu? Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku kembali berdoa pada Tuhan, dan langsung dikabulkan. Di ujung hidup yang sial ini, aku meminta hanya diingatkan pada hal-hal indah saja. Pada ingatan yang baik-baik saja. Lalu teringat padaku saat pertama kali kita bertemu. Kau serupa anak kecil yang terjebak di tubuh seorang dewasa yang berselimut duka belaka. Muncul dalam diriku perasaan iba sekaligus ingin mencinta.

Juga, kuingat dirimu yang manja. Kau yang suka minta tidur siang di pahaku, sambil minta dielus kening kecilmu, juga dua pasang alis rimbun di sana. Tidak butuh waktu lama kau akan tertidur, disusul aku. Rasanya, aku ingin mati seperti itu saja. Tapi, barangkali itu benar-benar doa yang tamak, kan?

Aduh, darah yang mengucur deras ini menghisap tenagaku, memaksa aku untuk berhenti meracau pada surat terakhir ini.

Bram, sebetulnya aku takut kalau-kalau membebanimu dengan kalimat ini. Maafkan aku seandainya akan membuatmu begitu.

Surat ini, Bram, tidak usah dan tidak perlu dibalas lagi. Aku harap hidupmu serupa Dexter yang ditinggal mati Emma secara tiba-tiba di film favoritmu, atau Fredricksen yang ditinggal mati Ellie di film kartun favorit kita. Kau tetap akan baik-baik saja tanpa aku. Benar-benar baik-baik-baik saja. Harus kau usahakan. Itu pintaku, dan juga barangkali pinta Kai. Oh iya, aku lupa. Aku berinisiatif menamai jabang bayi kita Kai, bahasa Hawai yang artinya laut. Tak perlu kiranya aku jelaskan, karena sudah tentu kau paham mengapa.

 

Baik-baiklah hidupmu, Bram

Sekar

***

Sudah aku tulis kisah kita dalam cerpen yang bentuknya menyerupai surat-menyurat itu, Bram. Persis seperti perintahmu. Aku tentu bukan penulis yang mahir. Tapi, kau cukup membantuku lewat kisah yang pernah kau bacakan tentang Alina yang mendapat hadiah sepotong senja dari kekasih tololnya itu—aku pikir kau mirip dengannya. Dari kisah-kisah surreal semacam itu, aku terpikir untuk membuat cerpen dengan alur cerita yang begitu lengkap dan utuh. Dan tentu, tak perlu lagi kau tanya aku. Sampai kalimat dan tanda baca terakhir cerpen itu, aku menuliskannya di atas gundukan pasir yang kita gunakan untuk bercinta sambil membayangkan wajahmu.

 

Facebook Comments