A password will be e-mailed to you.

Setiap malam, Permana memuji dan mendoakan hal terbaik untuk kekasihnya. Seorang gadis yang telah merasuki seluruh kesadarannya. Ia gadis berparas biasa. Tidak ada hal istimewa pada jasadnya melalui ukuran orang kebanyakan. Namun saat memikirkannya, ada perasaan nyaman dan sesak yang bercampur hingga sulit diurai. Perasaan ini baru mereda saat ia menemui gadis itu dalam imaji sembari meliputinya dengan doa yang tak bisa ia lipat dalam kata-kata.

“Kamu tahu kan, aku tidak bisa menemuimu. Bahkan sekedar melihatmu aku tak kuat. Aku ngerasa bebas berada di sini sama kamu. Bebas dari ketakutanku sendiri untuk menyapamu.”

“Pengecut!”

“Lalu bagaimana bisa menemuimu? Di dunia nyata, aku hanya sesekali berani melihatmu. Itu pun dari kejauhan.”

“Tetap saja, itu pengecut namanya!”

“Biar. Aku terima itu. Tapi aku takut rasa ini hilang kalau menemuimu. Cukuplah kita bertemu di sini, ruang kerinduanku padamu.”

“Huh! Kamu terlalu ngefans sama band Jogja itu! Seleramu payah!”

“Iya deh yang selera musiknya tinggi melangit sampai lupa menginjak bumi.”

Tentu percakapan itu hanya terjadi dalam angan Permana. Sebab nyalinya menciut setiap kali hendak mememberanikan diri menemui gadis yang bahkan tak ia tahu namanya. Bagi Permana, menemui kekasih melalui imaji lebih nyaman daripada apa yang orang anggap sebagai dunia nyata. Juga, kenyataan dan imaji bukanlah hal yang dikotomis. Tapi sesekali, ia memberanikan diri menulis surat.

Untuk Sayangku
Yang tak kukenal tapi berada di hati.

Aku harap surat ini sampai kepadamu dengan baik-baik saja. Lebih baik dari kresek hitam dan isinya yang biasa kamu buang pada keranjang sampah depan rumah.

Benar lho. Meskipun takut, aku sering melihatmu membuang sampah di depan rumah. Waktu aku lewat, jarak kita antara 50 meter. Karena lebih dari itu aku pasti mati tak kuasa menahan gemuruh dalam dada. Jarak segitu cukup buatku. Sebab kau tahu kan sayang, bagi cinta, ruang dan waktu bukanlah soal. Bahkan, cintalah yang menciptakan ruang dan waktu, bukan sebaliknya. Lain kali aku akan menceritakan ini lebih detail sayang. Kuharap kamu tak akan bosan membacanya.

Tapi begini, bersama surat ini aku mau sampaikan padamu, sayangku yang berambut ikal. Bahwa aku bukanlah pengecut. Aku hanya tak ingin kesucian cinta ini dinodai dengan remah sepah nafsu dunia. Karena ialah yang menuntun manusia menuju kehancurannya sendiri. Kamu boleh kok tidak sepakat dengan ini.

Maka aku tak ingin menaruh perasaan ini di bawah kaki nafsu yang telah membuat kekacauan sepanjang manusia ada. Tapi yang perlu kamu ingat sayang, aku bukan pengecut. Boleh kamu anggap aku egois karena memendam ini sendirian dan rentetan tulisan ini cuma alasan yang mengada-ada untuk meneguhkan kepengecutan. Tak apa. Jika itu pendapatmu aku menerimanya.

Ngomong-ngomong sayang, aku tak tahu secara pasti hidup ini, maka muncul pertanyaan seperti: apakah di dunia ini yang sedang kucari? Apa yang perlu aku lakukan? Untuk apa aku dilahirkan? Dan sederet pertanyaan sejenis yang tak habis-habis.

Orang mungkin bilang kalau itu pertanyaan sepirituil yang dapat membawa kita ke hal-hal subtil. Tapi bagiku, persetan! Aku lihat orang yang mendaku sebagai penempuh jalan itu menjarah hak orang lain. Menggunakan agama dan klaim sepiritualitas untuk memuaskan nafsu rendahan. Bangsat mereka itu!

Aku tak ingin seperti mereka. Kamu juga menginginkan aku berprinsip seperti ini kan sayang? Kuharap begitu. Sebab benar-benar aku tak rela mereka berada di bumi yang sama dengan bumi tempat kaki indahmu itu berpijak.

Di luar bualanku ini, sayang, aku merasa tentram mengingatmu. Kuharap kamu sehat lahir dan batin, juga keluargamu. Agar sempurna kebahagiaanmu dengan itu. Jangan risaukan aku disini.

Salam cinta seutuhnya
Dari: Permana

Surat itu ia tulis pada kertas berwarna cokelat muda. Ia melipatnya, dimasukkan dalam amplop warna senada yang pinggirannya ada pola gerigi biru dan merah. Lalu ia letakkan pada posisi berdiri dalam laci meja kecil di kamarnya. Bersanding dengan beberapa coretan muntahan rasa yang telah ditulis sebelumnya.

Berbulan-bulan ia menikmati perasaannya pada gadis itu. Selama itu pula ia sering bercakap-cakap dan memadu kasih melalui imaji. Hingga pada suatu hari ia merasa ada dorongan batinnya yang tak seperti biasa. Dorongan untuk mengirimkan surat itu pada tujuannya.

Kali ini Permana benar-benar berani. Awalnya ia berpikir untuk mengirimkan surat itu melalui kurir. Lalu ia mengubah rencana. Meskipun ia tahu betul bahwa mengirimkan melalui apa saja adalah ketololan. Tapi ia nekat.

Suatu sore, Permana datang pada jam-jam saat biasa ia melihat kekasihnya. Hampir mati ia mendekati rumah si gadis pujaan. Lalu ia mengetuk pintu pagar kayu yang besi pengapitnya sudah berkarat di sana-sini.

Seorang perempuan tua gemuk membukakan pintu.

“Ada apa ya Mas?”

“Oh, ini Bu, ada titipan surat untuk mbak-mbak yang rumahnya di sini.”

Oalah, untuk Nok Silvi ya? Dari siapa?” tanya ibu tua yang tidak diketahui apa perannya di rumah itu.

“Dari saya, Permana.”

Dalam hati ia mengumpat. Ketololan macam apa yang membuatnya seberani ini.

“Hayo, surat cinta ya? Itu Nok Silvi di dalam. Apa saya panggilkan saja?”

“Saya pamit Bu, terimakasih.”

“Lho?!”

Berbunga-bunga hati Permana mengetahui nama gadis pujaannya. Tapi buru-buru meninggalkan rumah itu karena tak sanggup menahan diri. Silvi menerima surat melalui simbok. Sementara Permana sudah terbirit lari dan bersembunyi di balik tembok pertigaan kompleks yang jaraknya limapuluh meter. Hatinya mekar cinta dan terbakar malu bersamaan.

Silvi membaca surat itu sejenak. Lalu ia memasukkannya dalam kresek berwarna hitam di hadapan simbok dan bergegas keluar pagar. Menaruhnya dalam keranjang sampah. Permana menyaksikan gadis pujaan hatinya dari kejauhan. Silvi kembali masuk pagar, lalu menutupnya.

“Kok dibuang Nok?”

“Buat apa Mbok. Wong dia pengecut kok.”

Facebook Comments