A password will be e-mailed to you.

Birdman mengguncang perfilman hollywood pada tahun 2015 dengan menyabet gelar Best Picture, Best Original Screenplay, Best Director, dan Best Cinematography (Emmanuel Lubezki) sekaligus di ajang Oscar.

Kelebihan drama besutan sineas Meksiko, Alejandro González Iñárritu ini adalah take panjang yang gila-gilaan (hampir 30 menit sekali ambil) dan pemilihan aktor-aktrisnya yang merepresentasikan dunia nyata.

Riggan Thomson (Michael Keaton) adalah aktor hebat yang melegendaris karena perannya di trilogi superhero Birdman di tahun 1990-an. Merasa karirnya menukik tajam semenjak itu, dia memutuskan untuk menulis, menyutradarai, sekaligus bermain di drama Broadway yang merupakan adaptasi dari salah satu cerita pendek karya Raymond Carver, What We Talk About When We Talk About Love.

Salah satu aktor yang ikut bermain di drama itu adalah Mike Shiner (Edward Norton), seorang aktor metodis brilian yang sangat selektif dalam memilih peran.

Di kehidupan nyata, Michael Keaton adalah aktor yang membintangi film Batman perdana yang tayang di tahun 1989. Semenjak itu, karirnya dipenuhi oleh peran-peran tidak signifikan di berbagai drama komedi sampai akhirnya tampil menggila sebagai Riggan Thomson di Birdman. Edward Norton, di sisi lain, juga merupakan aktor yang sangat selektif dalam memilih peran. Film besar terakhirnya yang kita kenal adalah Fight Club, dan mungkin The Incredible Hulk yang buruk itu.

 

Davin Ezra Pradipta dan A Poem We Need to Talk About

Dalam A Poem We Need to Talk About; film pendek perdana JEDA Films, Davin Ezra Pradipta memerankan Davin, seorang remaja yang menjalani hari-hari normal bersama ibunya di Yogyakarta.

Baru saja ditinggalkan oleh ayahanda dan kekasihnya, Davin mengisi kesepian temporer di hidupnya dengan menulis puisi, bermain gitar, dan membaca karya sastra.

Selain nama yang identik, di dunia nyata ternyata Davin Ezra Pradipta adalah pemuda yang juga gemar berpuisi untuk menyampaikan buah pikirannya seperti Davin di film A Poem We Need to Talk About.

Berikut empat puisi Davin yang merupakan kiriman pertamanya untuk jemaat-jemaat Jedakarta. Silakan…

(mhk)

***

 

Eloi, Eloi! Lama Sabachtani?

Kubayangkan berdiri di situ ketika wanita-wanita menyerukan nama Allah

Aku: salah seorang yang dilirik sepasang mata

Di balik darah sambil mendengarku menahan jerit

Apa lagi yang kau lihat selain luka

Menghabisimu seraya turun dari Golgota

***

 

Golek(i a)ku

 

Tubuhmu pohon mangga

Pikirmu aku angin dan kamu bermain dalam pelukku

Dengar, akulah yang berlarian dengan teduh

Dalam kepalamu yang sepi:

Sepi pamrih meski sering lupa terima kasih

Sepi nafsu meski banyak ini itu, ke sini ke situ

Dan sepi sedih sekalipun sedikit sedikit kamu menangis

Pohon mangga yang sepi

Dengan buah buah yang kelak manis

Pikirmu angin berlalu

Dan kamu menangis karena takut rindu

Padahal ketika sepi itu hilang

Yang tidak lagi ada adalah rongga untuk angin berlarian

Bermain dengan teduh dalam pelukmu

***

 

Lelaki dan Doa

Di sebelah langit pagi

Seorang lelaki seperempat usia shalat

 

Setelah mendengarkan kesedihan seorang sahabat

Setelah dia mengkritik mimpi-mimpinya sendiri

Dan mengingat kata-kata ayahnya

Dan mengharapkan sebuah cinta dibalas

 

Dia hanya seorang anak

Dia hanya seorang lelaki

 

Beberapa nama yang dia ingat dalam sujudnya

Dia diam-diam rindu menatap matanya

Tanpa merasa apa apa selain kenikmatan

***

 

 

Kita Tetap Berada Bersama

 

Kumohon keberadaanmu kali terakhir

Jadilah paling di sini

Mari bergurau lewat puisi ini

Kalau aku tanya “apa warna matahari?”

Kamu jawab “merpati dan terang”

Sebab alam berteman dengan binatang

Lantas cahaya diperlukan untuk melihat

Siapa yang turut serta dalam kehidupan

***

Jedakarta, 2019

Facebook Comments