A password will be e-mailed to you.

“Mas ini nggak usah beli mobil dulu, mending uangnya ditabung buat beli rumah. Mobil bisa beli yang second, karena nilainya pasti menyusut, sedangkan rumah nilainya naik terus. Kalau rumah udah lunas, jual lagi. Uang hasil penjualan dipakai untuk DP rumah yang lebih besar, seiring dengan gaji bulanan yang sudah naik. Begitu seterusnya.”

Tante Ratna –sebut saja begitu– bukanlah seorang penasihat finansial atau seorang sales properti. Ia adalah kenalan istri saya yang agaknya terlalu mencintai keluarga kami, sehingga setiap beberapa hari sekali ia selalu menelepon saya maupun istri saya dan memberikan petuah-petuah penting mengenai karir dan keuangan.

Di depan tante-tante perhatian seperti tante Ratna ini, jika saya diam saja dan tidak menanggapi atau sambung dengan apa yang dia bicarakan, saya akan dianggap tak tahu balas budi. Lebih jauh lagi, saya akan dikira rendah diri.

 

Pendekatan Hidup dan Cara Berpikir Manusia Modern

Di masa seperti sekarang ini, ketika urbanisasi dan industrialisasi menjadi orientasi mayoritas, pada jangka panjang orang-orang saya prediksi akan berpola pikir dan bertingkah-laku seperti tante Ratna, yang tentu saja tidak buruk, sebenarnya (selanjutnya kita akan menyebut tante Ratna “Bu Ratna”, karena saya lebih nyaman memanggilnya seperti itu).

Kita, pada zaman dengan era teknologi seperti saat ini, mampu mengakses segala informasi dengan cepat. Dengan data-data dan informasi yang dapat diakses dengan mudah melalui jagad maya, upgrade perangkat akal menjadi lebih mudah. Segala pengetahuan berbagai bidang juga dapat dipelajari di internet, dari cara memasak mie instan sampai cara instan menuju surga.

Saya kira, bu Ratna saya ini adalah orang sepuh yang melek teknologi juga. Dalam perkenalan kami, saya selalu kagum dengan segala komentarnya mengenai isu tentang segala hal. Dari politik, kesehatan, sampai budaya. Saya yang berasal dari desa, pemalas, dan jarang mandi ini cuma plonga-plongo setiap lunch bersama yang pada akhirnya selalu dibayari olehnya.

Setelah cukup lama berhubungan dengan bu Ratna, saya menyadari bahwa tema dan pola komunikasi yang diterapkan oleh bu Ratna ini kepada anaknya, mbak Sarumpaet –sebut saja begitu– hampir sama dengan pola dan tema yang bu Ratna terapkan terhadap saya dan istri saya. Bu Ratna ini sangat menyayangi mbak Sarumpaet¬†(sesungguhnya semua orang tua juga begitu), sehingga dari kecil hingga saat ini, beliau memberikan curahan waktu dan sumber daya total kepadanya. Saat ini, putrinya tersebut dan suaminya hidup dengan mengurus salah satu bisnis yang lagi-lagi juga dianugerahkan oleh bu Ratna.

Mbak Sarumpaet, dari kecil, kata istri saya, adalah anak yang sangat manja dengan orang tuanya. Sejak kecil ia diikutkan seminar-seminar motivasi, pelatihan-pelatihan menjadi wirausahawati sukses, dan kelas-kelas sejenisnya. Mbak Sarumpaet, seperti ibunya, juga sangat percaya diri dan berwawasan luas. Ketika saya bertemu dengannya, ia juga membicarakan hal-hal yang saya pusing benar dibuatnya. Dari nilai tukar dolar yang menurutnya tak akan memengaruhi daya beli masyarakat menengah, bitcoin yang menurutnya hanya investasi bodong, sampai pentingnya menyekolahkan anak di sekolah internasional demi daya saing masa depan. Mendengar pandangan mbak Sarumpaet mengenai segala hal, saya justru menyimpulkan sepasang orang tua-anak Ratna dan Sarumpaet ini sok tau, malah mungkin sedikit kemajon.

 

Rendah Diri?

Pendekatan parenting tersebut saya sadari sangat berkebalikan dengan apa yang diterapkan ayah ibu saya terhadap anak-anaknya. Ayah ibu saya selalu mengajarkan saya untuk membumi, sederhana, dan merasa cukup. “Le, nek soal standar wong ndesa, uripmu kui wes turah-turah dibanding tangga-tanggamu. Misal kowe saiki prihatin sithik, ngontrak, mangan endhog, yo kui lakonono. Jenenge kui lakumu ben mbesuk isa dadi uwong,” kira-kira begitulah wejangan-wejangan membosankan khas bapak saya.

Pernah suatu ketika saya mengajak makan bapak ibu saya di suatu pusat perbelanjaan besar di Jakarta. Mereka terlihat canggung dan tidak nyaman. Melihat menu-menu masakan oriental dan berbahasa inggris, bapak saya menutup buku menu yang saya sodorkan kepadanya. “Bapak pesen koyo le dipangan wong meja samping kae,” tukas beliau ringan.

Saya pesankan beliau chicken cordon bleu atau apalah namanya, yang akhirnya hanya beliau dhahar setengah porsi saja. Buset, ancene ilat wong ndesa, pikir saya dalam hati.

“Kowe ki wong ndesa, mbok nek mangan ki sing biasa-biasa wae. Lagi rong tahun neng kutha ilatmu wes malih po?” ujar beliau kemudian. Saya hanya merengut, malas menjawab.

 

Hidup Tanpa Jeda

Beberapa hari yang lalu, istri saya menceritakan sebuah rahasia kecil kepada saya. Agaknya, istri saya ini mulai gerah melihat saya yang sudah mulai mengeluh terus-terusan karena bu Ratna hampir selalu mengajak saya dan istri saya lunch di luar setiap akhir pekan. Sebenarnya, saya sih senang-senang saja mendengarkan ocehan bu Ratna tentang berbagai hal, terutama mengenai hal-hal teknis (baca: finansial) bagi keluarga muda seperti keluarga kami. Tapi ‘kan, kadang saya butuh jeda juga.

“Mas, bu Ratna tuh sebenarnya mau nawarin kita rumah. Beliau punya banyak property di Tangerang dan Depok,” ujarnya pada suatu malam saat kami berdua ngeloni Rendra, anak kami.

“Heh??” saya kaget, seketika saya alihkan perhatian dari scrolling-scrolling timeline instagram saya.

“Iya, jadi tuh tiap weekend kita dikasih wejangan soal finansial, soal harga rumah yang makin tinggi dari tahun ke tahun, itu biar kita ngambil salah satu rumahnya.”

“Kok kamu nggak bilang daridulu sih??” saya bersungut-sungut.

“Hihi, aku ngisengin kamu aja. Itung-itung dibayarin makan gratis tiap minggu,” katanya jahil.

“Hahahahahaha,” saya bangun dari kasur, mengambil rokok dan menuju gang depan, meninggalkan istri saya dengan raut muka kebingungan. Biasanya saya marah diisengin begitu.

 

Tak Selamanya Rendah Diri itu Buruk

Kali ini, saya jadi paham satu hal lagi. Bahwa terkadang kerendahdirian itu justru diperlukan di saat-saat seperti ini, ketika laju zaman menggilas segala norma, adat, dan kepolosan. Saya baru sadar bahwa orang tua saya adalah rem utama saya dalam menghadapi godaan untuk menjadi pribadi yang industrialis dan pragmatis. Dalam asap rokok yang saya hembuskan, tiba-tiba saya rindu dengan petuah-petuah bapak yang sarat akan kerendahdirian.

Saya tersenyum kecut mengingat bu Ratna. Sial, saya sudah ge-er dengan segala perhatiannya. Untung saja selama ini saya memasang muka polos dan tak mendebat ataupun menanggapi dengan antusiasme berlebihan segala perhatian dan nasihatnya. Bu Ratna, hidupmu memang kurang njeda, Bu!

***

Facebook Comments