A password will be e-mailed to you.

Lelaki kurus itu terhisap keheningan batinnya sendiri di tengah lalu lalang pedestrian. Angin pojok Kota Jakarta menyapu air matanya yang jatuh tanpa disuruh. Dari kejauhan ia melihat seorang perempuan sekira empatpuluhan tahun berjalan ke arahnya menggendong ransel merah muda.

Perempuan itu langkahnya megal-megol. Mendandakan bahwa ia punya pantat yang besar dan pinggul yang gemuk. Gincunya merah menyala, kulitnya cokelat, tubuhnya pendek, rambutnya dikuncir kuda. Tangan kirinya menenteng jaket berwarna krim, sementara tangan kanannya membawa sepotong roti yang telah digigit sebagian.

Setengah teriak, Tohar memanggil perempuan itu.

“Mbak Upik!”

Upik menatap Tohar penuh tanya. Beberapa saat setelah itu, perasaan haru meledak. Upik berlari menuju Tohar sambil menangis sejadi-jadinya. Ia memeluk Tohar sangat erat dan memukul-mukul punggung kurus itu. Orang-orang yang berjalan di sekitar menoleh sebentar ke arah mereka, lalu kembali melanjutkan langkah khas perkotaan yang tergesa-gesa.

“Oalah. Tohar.”

Hanya itu kata yang terlontar dari bibir tebalnya Upik. Ia masih menahan haru atas perjumpaan yang tidak disangkanya.

“Ayo duduk di sana dulu Har.”

Upik menunjuk sebuah kursi di seberang trotoar. Mereka berjalan dalam diam. Tohar melangkah di belakang sembari merasakan betapa sesak dadanya dipenuhi ragam peristiwa.

“Gimana kabarmu cah bagus? Sehat to?”

Tohar masih diam.

***

Sabtu pagi, duabelas tahun silam, bumi yang ia pijak goncang selama satu menit. Ia menyaksikan seluruh rumah di dusunnya hancur serata tanah. Dusun tempat lahirnya itu terletak di pedalaman Gantiwarno, sebuah kecamatan di Klaten. Jarak antar dusun di daerahnya cukup jauh, dibatasi bentangan sawah yang selalu ditanami padi. Sejak masa itu, Tohar tak bisa lagi menikmati selokan dusun yang dialiri air bening sebab selalu dibanjiri kesedihan.

Sebelum gempa setelah subuh, ada seorang pria paruh baya bertamu ke rumahnya. Ibunya Tohar yang mempersilahkan lalu pamit untuk memasak di rumah belakang. Hari itu Ibunya harus memasak untuk tetangga yang gotong-royong memanen padi di sawah peninggalan suaminya. Tohar yang masih tidur segera dibangunkan Ibunya agar menemui tamu tak dikenal itu. Tohar langsung menemuinya tanpa cuci muka.

“Wah, malah merepotkan Masnya. Monggo subuhan dulu saja.”

“Oh iya Pak. Saya tinggal sebentar.”

Rasanya tamu ini tidak asing sama sekali bagi Tohar sampai-sampai ia mengiyakan perkatannya begitu saja. Tamu yang menyuruh tuan rumah adalah hal janggal pada kebudayaan daerahnya, sejanggal udara pagi itu.

Seusai menunaikan ibadah pagi yang tak khidmat, Tohar menjumpai bapak itu tidak lagi di ruang tamu melainkan di teras.

“Saya sedang tergesa-gesa Mas. Begini, anak saya besok pagi menikah. Saya butuh janur kuning dan kelapa muda yang harus dari dusun ini.”

“Sepagi ini Pak? Kan nikahnya baru besok.”

“Sebaiknya pagi ini Mas. Rumah saya jauh. Sesuai isyarat yang datang semalam, saya harus mengambil janur dan kelapa muda itu sekarang. Dan harus dari dusun ini.”

“Kenapa tidak mencari warga lain saja Pak?”

“Pokoknya begitu Mas. Saya bayar berapapun yang Masnya minta. Tapi di kantong saya baru ada satu juta”.

“Ya sudah. Kebun almarhum Bapak saya ada di pertigaan pertama setelah jalan masuk dusun ini. Bapak kesana dulu saja, saya ganti baju dulu.”

Toha merasa tamu ini makin tidak sopan karena memaksakan kehendak. Namun ia menuruti. Entah karena nominal yang disebutkan atau karena tidak enak menolak. Ia menyusul tamunya yang sedang melihat-lihat pohon kelapa.

“Pohonnya hanya lima Pak. Silahkan dipilih sesuka Njenengan.”

“Lima-limanya saya petik janurnya Mas.”

Belum sempat ia menanggapi, goncangan hebat terjadi. Tohar berlari ke jalan dusun disertai kepanikan bersamaan dengan suara gemuruh. Terlalu banyak debu yang mengepul ke udara dari arah deretan rumah warga. Setelah goncangan mereda, ia mengamati sekitar. Tidak ia dapati keberadaan tamu yang bahkan tak sempat ia tanyai namannya.

Ia berjalan gontai ke arah rumah, mencari keberadaan Ibunya. Ia berteriak memanggil ibunya. Tak ada jawaban apa-apa. Lalu mata dan telinga Tohar gotong-royong untuk panen raya kepedihan di hatinya. Hidung peseknya ikut menyokong sesak sebab mencium bau masakan itu. Ia menyaksikan rumahnya dan semua rumah lain hancur serata tanah.

***

Dalam posisi duduk, ia hanya kuat menatap sepatu birunya. Terbayang dalam batinnya kejadian duabelas tahun silam. Upik adalah kerabatnya yang tersisa. Ia ikut suaminya merantau ke Jakarta. Seluruh warga dusunnya meninggal serempak, kecuali mereka.

Untuk menghilangkan sedih yang sering menghardik kesepian, Tohar menjual tanah keluarganya. Ia pindah ke ibu kota berbekal ijazah SMA. Bahkan ia enggan menemui siapapun yang berkemungkinan mengingatkannya pada masa kelabu itu, termasuk Upik, sepupu tua dari garis bapaknya.

“Bagaimana kabarmu Mbak?” Tohar mulai menguasai dirinya.

“Apik Har. Sekarang tinggalmu di mana?”

“Ciputat Mbak, dekat tempat kerja. Mbak kerja apa sekarang?” Tohar heran dengan penampilan Upik yang sangat berbeda dari yang biasa ia kenal.

“Kerja serabutan Har. Pokoknya agar anak-anak dapat sekolah. Sini mana nomor WA-mu.”

Upik tinggal di apartemen daerah Tamrin. Beberapa tahun setelah suaminya meninggal, ia memilih profesi yang dianggap hina oleh masyarakat, menjadi pelacur. Pengahasilannya lumayan banyak karena biasa melayani para ekspatriat yang doyan menyantap sebongkah daging berkulit cokelat.

“Har. Mbok kamu pulang. Dusun kita kan sekarang sudah tidak sesepi dulu waktu kamu pergi. Sawah Pakdhemu yang nganggur itu mbok diurus. Kan juga ada rumah kosong bantuan gempa bisa kamu tempati.” Upik mendorong Tohar agar kembali ke dusun. Ia bahkan menawarkan modal kalau-kalau Tohar punya rencana buka usaha.

Tohar yang kesepian memikirkan tawaran itu dalam-dalam. Sehari kemudian, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya di percetakan yang gajinya tak seberapa. Mungkin ini saatnya untuk menghadapi apa ia paling takuti; memori. Sebab selama ini, kenangan memilukan itu ditolaknnya mati-matian. Ia anggap itu bukan bagian dari dirinya, bukan pula bagian dari perjalanan hidupnnya. Tekatnya bulat untuk pulang. Memulai dari awal semuanya dan menatap masa depan.

Setelah dua bulan berada di dusun, perputaran warung kelontong yang ia buka mulai naik. Sementara padi yang ia tanam patungan dengan tetangga tumbuh dengan baik. Ia mulai betah tinggal di rumah yang berdiri di tanah Pakdhenya. Sesekali ia melihat bekas rumahnya yang belum dibangun oleh si pembeli. Halaman belakang rumahnya kali ini ia pandangi tanpa kesedihan yang mengiris hati.

Suatu pagi, sehabis subuh, Tohar sedang menyapkan teh. Ada pesan melalui WA dari Upik.

“Har, ada bapak-bapak datang ke tempatku. Katanya mau nyari tenda buat nikahan anaknya. Kamu ada teman yang bisa tak sambungkan?”

Facebook Comments