A password will be e-mailed to you.

“You know; sometimes things I see in you, me, and even grandad, remind me of a wild pear tree. We’re all misfits, solitary, misshapen.”

Dalam tiga jam durasinya, The Wild Pear Tree mengikuti langkah kaki Sinan Karasu menziarahi masa lalunya — dan mungkin, seluruh hidupnya.

Karya terbaru sineas terdepan Turki; Nuri Bilge Ceylan, The Wild Pear Tree adalah potret tentang Turki kontemporer yang dilihat melalui fase hidup seorang penulis yang disajikan secara reverse. Bila biografi penulis populer yang memotivasi umumnya mengisahkan kepergiannya dari kampung halaman sebagai sebuah momen kunci dalam semesta kepenulisannya, perjalanan Sinan Karasu (diperankan dengan sangat baik oleh Dogus Demirkol) adalah antitesisnya.

Baru saja menamatkan kuliah literatur dan berada di persimpangan jalan antara mengambil tes keguruan dan menunggu wajib militer di depan mata, Sinan berharap bisa menerbitkan buku memoar mengenai kota kelahirannya yang berjudul sama dengan judul film ini; The Wild Pear Tree, yang dia deskripsikan sebagai sebuah “metanovel fiksi-nonfiksi yang berbeda”.

Sinan bergerilya di kota kelahirannya; Çanakkale –sebuah kota pelabuhan di sebelah utara Turki, yang juga merupakan lokasi kota arkaik Troy – mencari sponsor untuk novel pertamanya. Dia mendatangi walikota setempat yang pada akhirnya cuma menyarankannya untuk meminta dukungan seorang pengusaha konstruksi lokal yang diklaim sang pejabat adalah pecinta literatur. Sisanya, penonton dibawa mengikuti langkah kaki Sinan mengurai pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan mengenai keluarga, cinta, agama, pekerjaan, dan ambisi – lengkap dengan lanskap kota kecil Can yang indah, dan kadang surreal.

Sinan berjalan, menyaruk tanah, dengan raut muka yang menyiratkan bahwa ia mencium kegagalan dan kekecewaan hidup — baik orang-orang di sekitarnya, dan mungkin juga di dalam dirinya sendiri. Keluarga Sinan, terutama ayahnya, adalah tokoh sentral yang muncul lebih dari sekali dalam suatu scene simultan dalam film ini. Tokoh-tokoh lain hanya muncul sekali dan berbincang panjang lebar dengan Sinan, lalu menghilang sampai akhir film.

Melalui mereka, penonton disuguhi perbincangan panjang tentang banyak hal yang tak pernah membosankan. Dengan kata-kata itu pula, kita bisa mengenal Sinan Karasu seperti kita mengenal diri kita sendiri.

 

Aspirasi Hidup dalam Bingkai Alienisasi Sosial

“Aku benci orang-orang,” ungkap Sinan dengan senyum getir ketika memberikan kopi buku perdananya kepada Ibunya, Asuman (Bennu Yildirimlar), seorang wanita yang harus menerima nasib getir di masa tua karena kebiasaan berjudi suaminya. Hubungan Sinan dengan keluarganya menjadi simbol ironi yang terjadi antara Sinan dan kampung halamannya, — beserta orang-orang di dalamnya.

Dalam sebuah konfrontasi dengan Süleyman (Serkan Keskin), seorang penulis populer yang ia temukan di sebuah toko buku, kita akan merasakan simpati, rasa sebal, sekaligus belas kasih kepada Sinan. Ketika ia berjalan canggung menuju kursi dimana Süleyman yang dengan angkuh mengetik –dengan latar belakang poster monokrom Gabriel García Márquez–, penonton tidak akan menyangka bahwa Sinan akan berani mengungkapkan kejujurannya tentang kepalsuan dan kekosongan idealisme dalam dunia literasi.

Sinan adalah protagonis yang sangat manusiawi. Ia cukup realistis dalam mengetahui bahwa menulis novel tidak akan membuatnya kaya dan mampu menyelamatkan nama baik keluarganya yang rusak gara-gara ayahnya yang ketagihan bermain judi, namun ia juga cukup idealis untuk tidak menjadi penulis yang terlalu kompromis seperti Süleyman.

The Wild Pear Tree, buku memoar yang juga menjadi judul film ini, adalah pohon endemik yang hanya tumbuh di wilayah tersebut. Tanaman yang disebut Idris (Murat Cemcir), ayah Sinan, sebagai pohon yang aneh, terpencil, dan cacat. Ketika mengungkapkan semua itu kepada Sinan di bawah guyuran salju di sebuah gubuk tua di pinggiran Çanakkale, Idris seperti bicara tentang dirinya sendiri.

Di sebuah sekuens yang konyol, Idris, Sinan, dan ayah Idris (kakek Sinan) bersama-sama menarik sebuah batu besar dari sumur yang berada di sebuah tanah milik Idris. Idris percaya bahwa sumur itu, kelak, akan menghasilkan sumber air yang akan memberikan harta tak disangka kepada keluarga mereka. Desas-desus dari lingkungan sekitar tidak menghentikan Idris untuk terus menggali sumur tersebut setiap akhir pekan.

Dengan semua kekurangan dan rasa malunya, kenyataan bahwa Idris menjadi satu-satunya orang yang membaca buku The Wild Pear Tree milik Sinan yang pada akhirnya benar-benar terbit adalah fakta yang menyesakkan namun memberi kedamaian batin kepada Sinan. Hal itu, dan adanya dua ending yang bisa dipilih oleh penonton, memberikan konklusi cerita yang menyesakkan namun memuaskan dalam film ini.

 

Film Personal Nuri Bilge Ceylan

The Wild Pear Tree, sebagai sebuah film, adalah film paling personal bagi seorang Nuri Bilge Ceylan. Ia juga tumbuh di Çanakkale, dan mungkin ia juga mengalami momen-momen sulit dalam perjalanannya menjadi seorang filmmaker, seperti kesulitan yang dialami Sinan Karasu dalam film ini.

Dalam film-film sebelumnya, dia lebih sering mengangkat konflik dan penyesalan seorang pria paruh baya khas film-film arthouse eropa sebagai pusat cerita – dan The Wild Pear Tree adalah kontradiksinya. Belakangan, dalam sebuah wawancara di Cannes Film Festival tahun lalu, ia mengakui bahwa ia melakukan sebuah perubahan radikal dalam proses membuat film ini; yakni mengganti tokoh sentral film, dari yang tadinya seorang pensiunan guru menjadi seorang pemuda yang baru lulus kuliah.

Tokoh utama yang seorang pensiunan guru ini, boleh jadi, tadinya adalah Idris, ayah Sinan, seorang guru sekolah dasar yang keranjingan bermain judi. Idris adalah simbol; manifestasi hubungan Sinan dengan Çanakkale, yang berbentuk absurditas antara kebutuhan dan keengganan. Kampung halamannya adalah inspirasi dan katalis utama Sinan dalam menulis The Wild Pear Tree, buku pertamanya – yang menariknya, didorong oleh rasa ketaksukaan dan kritiknya terhadap tempat kelahirannya.

Seperti Sinan, Ceylan muda juga mengalami kegamangan di usia duapuluhan. Mengambil sekolah teknik, ia belakangan menyadari bahwa ia tidak ingin bekerja di bidang itu. Ia pergi ke London, Himalaya, dan Nepal, bekerja paruh waktu untuk menyambung hidup dan berharap menemukan jawaban tentang hidupnya sendiri. Baik Nuri Bilge Ceylan maupun Sinan Karasu juga mengikuti wajib militer sebelum memutuskan menjadi seorang filmmaker dan penulis penuh waktu. Lalu, apakah Sinan Karasu adalah deskripsi perjudian pilihan hidup yang diambil oleh Ceylan di masa muda?

“Ketika aku bekerja di London, suatu hari aku pergi ke sebuah toko buku,” ungkapnya, “disana, aku membaca sebuah buku mengenai negara Nepal. Aku berpikir, jika aku pergi kesana, mungkin aku bisa menemukan tujuan hidupku. Karena hidup tanpa tujuan itu sangat mengerikan.”

Ceylan memang tidak memutuskan pilihan hidupnya di Nepal. Alih-alih, dia justru memutuskan kembali ke Turki dan menjalani wajib militernya. “Saat berada di kamp militer, aku menghabiskan waktu dengan membaca banyak sekali buku. Kulihat mosaik negaraku sendiri dalam bentuk ribuan tentara yang berasal dari berbagai wilayah di Turki. Pada saat itulah aku memutuskan untuk membuat film.”

Karya-karya terbaru Ceylan adalah film-film dengan durasi lebih dari 180 menit yang berisi dialog-dialog filosofis panjang antar tokohnya mengenai aspirasi hidup, konflik personal, dan permasalahan sehari-hari yang memiliki signifikansi secara langsung dengan orang-orang awam dalam diri penonton.

The Wild Pear Tree, sebagai sebuah film, bukanlah kisah klise tentang perjalanan hidup seorang protagonis yang dibuat secara megalomaniak dan ditujukan untuk memotivasi penontonnya untuk mengejar mimpi. Lebih dari itu, kisah-kisah yang Ceylan bingkai dan ceritakan adalah realitas yang sangat dekat dengan diri kita, dan potongan hidup Sinan Karasu adalah narasi indah nan menggetarkan tentang perjudian nasib di masa muda di tengah kekecewaan dan ketidakidealan hidup.

***

Facebook Comments