A password will be e-mailed to you.

Pagi yang dingin bukan waktu yang tepat untuk merias wajah dengan kosmetik. Berjaket murah dengan kainnya yang tipis dan agak sesak sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas, Layla melangkahkan kaki ke kedai langganannya di pasar. Ia mencomot dua lembar uang sepuluh ribuan dan tiga butir lima ratusan sebagai ganti untuk memperoleh satu botol arak murah, tiga bungkus mie instan yang akan ia bagi dua dengan ayahnya, dan satu ikat sawi. Ia juga sempat mengecer sebatang rokok putih walaupun ayahnya telah berkali-kali melarangnya merokok.

Tampak malang dan dengan sikap yang patut dikasihani adalah cara ayah Layla menjalani hidup. Ia sering terlihat kesepian berbaring di kasur karena tak pernah lagi menggunakan burungnya untuk meniduri perempuan sepeninggal istrinya dua tahun lalu. Kau tahu? Tak ada yang lebih menyedihkan dari kehidupan orang tua yang hanya bisa menghabiskan waktu untuk makan dan buang air sambil merindukan seseorang yang sudah tiada. Meskipun begitu, jika sedang berbahagia ayahnya masih mau bersemangat menimba air dari sumur, menggotong pakan ternak yang ia curi dari kebun milik tetangga di belakang rumah, atau memanjat pohon mangga ketika sedang musimnya. Tetapi, bagaimanapun ia hanyalah lelaki malang yang kesepian dan tak tahu harus melakukan apa dalam hidup.

“Kau jangan pernah merokok. Jangan pula terlalu banyak makan mie instan. Belilah makanan lain. Aku mau kau sehat.” Pesan ayahnya suatu hari pada Layla dengan rasa sayang yang tak dibuat-buat.

“Aku bisa mengukur kehidupanku sendiri.” Jawab Layla dengan ketidakpedulian yang tak kalah alaminya.

Bagi ayahnya, cinta kepada Layla tetaplah yang utama. Ia tak mau anak semata wayangnya jatuh sakit atau cepat mati hanya karena sering merokok dan makan mie instan. Beberapa kali dengan polosnya ia membaca tulisan “MEROKOK MEMBUNUHMU” di bungkus rokok bekas yang ia lihat di tempat sampah stasiun. Pernah pula suatu ketika ia membaca artikel di koran daerah yang menyatakan bahwa mie instan membutuhkan waktu seminggu untuk bisa dicerna oleh tubuh. Lagipula, kalau Layla jatuh sakit, tak ada yang bisa mencarikan uang dan memasak makanan untuknya. Ia tahu persis, memastikan anaknya sehat dan mengelilinginya dengan dinding-dinding larangan adalah salah satu bentuk kasih sayang dan egoisme di saat yang bersamaan: hanya Layla yang bisa mengurusi hidupnya yang malang sekaligus—dengan melihat wajahnya—membuatnya terkenang akan adegan percintaan yang sunyi dan pedih dengan istrinya ketika masih hidup.

***

Menawarkan pelukan dan cinta untuk orang lain adalah cara Layla menghabiskan malam-malamnya. Biasanya selepas azan magrib, ia meletakkan mukenahnya dan mulai bersolek menggunakan bedak dan gincu dengan warna yang tidak terlalu merah. Dandanan pun sebenarnya tak terlalu mempengaruhi seberapa tertarik para lelaki kepadanya. Kecantikan tak terlalu jadi pertimbangan karena sudah menjadi kebiasaan bagi para perempuan malam menggunakan topeng saat menawarkan diri. Topeng akan dibuka ketika mereka dan pelanggannya sudah berhadap-hadapan dan hendak memulai pekerjaan. Topeng itu seringkali terbuat dari sobekan kardus yang sengaja dicat hitam, diberi rumbai di beberapa sisi, dengan butir emas imitasi di bagian pipi, dan lubang yang sengaja dibuat untuk mulut karena barangkali masih ada ruang bagi tumbuhnya cinta antara pelacur dan pelangannya dengan berciuman.

Para lelaki biasa datang dalam keadaan mabuk dan mendekati para perempuan dengan beberapa kancing baju yang terbuka. Bagi para lelaki, mabuk hingga kalap sudah menjadi kebahagiaan yang lengkap asal diakhiri dengan bercinta. Jika sedang tidak terlalu mabuk, para lelaki hanya akan menilai wanita lewat lenggak-lenggok jalan mereka, rambut panjang mereka yang tak terlalu kumal, atau bau mulut yang cukup dibilang tak menjijikkan. Para lelaki ini seringkali hanyalah satpam malam, porter, dan sesekali kepala stasiun sehingga tak perlulah para wanita bersolek terlalu tebal karena hanya mereka-mereka saja yang datang meminta layanan.

Biasanya, ketika Layla berangkat masih sayup terdengar suara ayahnya yang tidak terlalu lancar sedang mengaji. Layla akan pulang mendirikan salat isya selepas berjalan menendangi kerikil-kerikil di pinggir rel kalau malam tak terlalu melelahkan atau terpaksa melakukannya menjelang subuh selepas keramas di toilet umum stasiun karena banyaknya pekerjaan. Pernah suatu kali ia menerima laki-laki yang secara tulus membayarnya semalaman bukan untuk melacur. Lelaki itu datang untuk mengajarinya membaca kitab suci yang terpaksa ia terima dengan kemalasan yang begitu ia tampakkan. Pikiran lalu tumbuh bersamaan dengan perasaan dendam di hati Layla, Berengsek! Apa kau pikir ayahku tak pernah mengajariku mengaji sewaktu kecil? batinnya pada saat itu.

***

Suatu malam dengan udara yang cukup dingin dan gonggonggan anjing seperti biasa, tampak sebagai waktu tepat bagi para lelaki yang butuh kehangatan mencari perempuan untuk bercinta. Si ayah tak terdengar sedang mengaji. Jika suara tartilnya tidak terdengar, saat hendak berangkat bekerja Layla kadang menyempatkan diri berpamitan pada ayahnya yang biasa terlihat sedang berselimut lurik dengan gambar-gambar kecil menyerupai kirik, berbaring di kasur. Tetapi, malam itu Layla langsung mengenakan sepatu hak tingginya, menenteng tas yang di dalamnya berisi gincu, sisir, sebotol arak, dan sebatang rokok dan berangkat bekerja tanpa terlebih dulu berpamitan pada ayahnya. Ia mulai menyusuri lorong-lorong stasiun dan menuju pinggiran rel kereta. Seharian, perutnya hanya terisi oleh mie instan yang telah ia buat paginya jam delapan secara sembunyi-sembunyi dari ayahnya.

Tak ada yang terasa lebih perlu dilakukan Layla selain berdiri di trotoar pinggiran rel kereta api untuk menunggu pria yang barangkali membutuhkannya sebagai teman untuk menghabiskan malam di losmen murah dekat stasiun. Ia menunggu pelanggan sambil meminum arak yang ia beli sehari sebelumnya di pasar. Meminum arak kualitas rendah yang baunya tak lebih mengenakkan dari campuran antara bau kencing dan keringat pelanggannya setelah persetubuhan, pandangan matanya berhasil membuat segala objek yang ia lihat mengganda; bulan tampak seperti dua lampu neon besar yang menggantung di atas langit, tiang listrik lebih terlihat menyerupai batang-batang pohon di hutan pada malam hari, dan jari tangan kanannya terlihat berlipat ganda menjadi sepuluh. Pandangan matanya mulai mengosong dan kesadarannya nyaris hilang.

Meskipun begitu, kesadaran Layla masih tersisa untuk sekadar mampu berdiri dalam keadaan mabuk walaupun tak lagi bisa membedakan satpam, porter, atau mungkin kepala stasiun jika saja mereka datang dan akan membayarnya malam itu. Penglihatan dan pendengarannya kabur. Telinganya pun sebatas mampu menafsir setiap suara yang ia dengar sebagai perkataan manusia yang mengajaknya mengobrol atau lolong anjing kesepian yang tak dapat pasangan untuk kawin di malam hari. Ia hanya tinggal bisa membedakan setiap orang yang berjalan di depannya sebagai pria atau perempuan. Dan baginya, setiap pria yang datang padanya malam itu tak perlu dibeda-bedakan: mereka hanyalah pria yang butuh tidur dengan pelacur sepertinya.

Alunan Poem’s Prayers & Promises milik John Denver yang keluar dari telepon seluler yang ia beli dengan uang hasil melacur beberapa bulan lalu menemaninya menikmati malam dengan bulan yang sedang bersinar. Suara anjing menggonggong setiap kali deru mesin kereta api yang masih melaju beberapa ratus meter dari tempat si anjing berada mulai terdengar. Terlihat pula pemandangan beberapa orang sedang menunggu angkutan karena hendak berangkat berjualan sayur dan rokok dan mungkin beberapa pula arak ke pasar saat pagi buta. Layla menamatkan malam hanya dengan memandang bulan sambil minum arak dan merokok hingga menjelang pagi. Suara gesekan roda peron dengan rel dan klakson kereta api yang sesekali lewat memenuhi suasana malam yang sunyi, sebelum pada akhirnya seorang laki-laki berumur sekitar lima puluh berjalan dari arah toilet stasiun mendekatinya.

Sambil berjalan dan belum selesai menutup resleting, laki-laki yang terlihat tak terlalu bahagia menjalani kehidupan itu menghampirinya. Ia tampak sempoyongan, melangkahkan kakinya ke kiri dan ke kanan dan tak pernah bisa tampak sejajar. Lelaki itu terlihat kalap karena mabuk sebagaimana yang sering dilakukan orang-orang di sekitar stasiun untuk menikmati hidup.

“Kemarilah,” Kata si lelaki. Ia yang masih dalam keadaan mabuk berjalan mendekat sambil memanggil Layla.

“Kau yang ke sini.”

“Temani aku. Kau mau berapa, Anak Muda?”

“Cukup untuk membeli enam mie instan, dua ikat sawi, dan sebungkus rokok.”

Dalam perasaan jiwa yang seakan sedang terbang, mabuk membuat mereka berdua malas berjalan menuju losmen. Si lelaki dan Layla lalu berjalan menuju toilet stasiun kosong yang lama tak digunakan. Lelaki itu tampak berjalan penuh dengan berahi. Sesekali sambil menikmati masa mabuk dan karena saking berahinya, ia merangkulkan tangannya ke pundak Layla walaupun langsung dikibaskan karena ia bahkan belum melakukan pembayaran.

Sesampainya di dalam toilet, Layla mematikan lampu tua yang memang sudah tak cukup terang untuk ukuran toilet yang tertutup dan pengap itu. Lelaki yang bersama dengannya itu berbaring di atas kloset keramik yang tampak begitu kotor, dengan beberapa titik berwarna cokelat sisa tahi pengunjung stasiun yang mungkin telah menempel selama bertahun-tahun. Ia menyandarkan kepalanya di tembok dan mencoba menikmati semua tanpa terlihat peduli dengan keadaan toilet yang bahkan tak hanya akan membuat semua orang waras kehilangan nafsu untuk bercinta, tetapi mungkin muntah sambil memaki-maki dan membanting pintu lalu pergi begitu saja jika saja sebelumnya mereka ingin buang air. Ia mulai membuka kancing bajunya dan melambaikan tangan kepada Layla untuk mendekat. Dengan topeng masih bertengger di wajahnya, Layla mendekati wajah lelaki itu. Si lelaki mulai mengelus rambut Layla yang kini berada di hadapannya.

Hal yang menyakitkan bagi si lelaki pada saat itu adalah mengingat wajah istrinya. Diingatnya malam di rumah mertua sewaktu ia mengelus rambut istrinya ketika hendak bercinta untuk pertama kali setelah siangnya mengucapkan akad nikah. Kenangan tentang kehidupan pernikahannya yang indah begitu berbenturan dengan percintaan yang kini ia beli dengan seorang pelacur. Baginya, pernikahan tak hanya mengajarinya tentang becinta dengan perempuan. Tidur dengan istri hanyalah dampak kecil dari rasa cinta yang meluap-luap. Masih banyak sisa luapan yang tertinggal ketika ia mengingat istrinya dengan kurang sopan kentut di depannya, memarahinya karena terlambat salat subuh setelah malamnya ia minum kopi terlalu larut, atau menyuruhnya menyapu halaman rumah yang kotor karena daun pohon ketapang di depan rumahnya yang kering berjatuhan di pagi hari. Itulah sebenar-benar cinta, pikir lelaki itu. Dan sekarang, percintaan hanya ia artikan sebagai permainan dengan memberi uang seorang perempuan, memuntahkan isi kemaluannya, lalu pergi begitu saja. Ia bayangkan di saat yang sama mungkin teman-temannya sedang bercinta dengan istri mereka di rumah masing-masing dengan kenikmatan yang begitu alami dan membahagiakan tanpa harus membuat mereka kerepotan megeluarkan uang. Kesedihan justru datang melengkapi percintaan yang bahkan belum sempat ia mulai.

Bagaimanapun, tubuhnya sudah terlanjur dikuasai berahi. Keterlanjuran itu membuatnya memutuskan untuk mencoba menikmati apa yang sudah ada di hadapannya.

“Mendekatlah, Perempuan…” Pinta si lelaki.

“Aku minta bayaranku dulu,”

“Nanti akan aku bayar setelah kita selesai.”

“Kalau begitu, aku minta rokokmu.”

“Aku tak mau mencium wanita dengan bau tembakau keluar dari mulutnya.” Kata lelaki itu. Bau ciu dan aroma tembakau terbang dari rongga mulutnya yang dengan liar mendekat ke wajah Layla.

Ketika kepala si lelaki mulai mendekati bibir Layla yang tipis dan merekah, tak kalah cepat dengan niatnya membuka topeng yang sedari tadi menutupi wajah perempuan itu, Layla memuntahkan isi perutnya, bercampur dengan cairan arak yang tak mampu lagi ditampung tubuhnya ke wajah si lelaki. Azan subuh terdengar menyeruak dari musola stasiun dan salat isya belum sempat Layla dirikan. Terlihat mie instan yang masih memiliki bentuk sebagaimana biasa karena belum selesai dicerna, muncrat dan keluar melalui lubang di bagian mulut pada topeng Layla sebelum ia sanggup mabuk sambil bercinta lebih jauh dengan ayahnya.

Facebook Comments