A password will be e-mailed to you.

Trainspotting dengan cepat dianggap sebagai fenomena budaya, sesaat setelah dirilis pada Februari 1996 di Britania Raya. Di sini, kita akan melihat Ewan McGregor yang masih terkesan kekanak-kanakan, Ewen Bremner yang tampil begitu tolol dan teatrikal, serta Kelly Macdonald remaja yang buah dadanya belum ranum dan merah, bercinta dengan desahan beraksen Skotlandia.

Seorang lelaki dan dua teman pecandunya berlari-lari setelah dikejar polisi karena merampok supermarket di bilangan Edinburgh. Meskipun berbuat kriminal, ia tetap cerewet dan mengolok-olok orang-orang yang biasa mengejar kebahagiaan hidup secara tipikal: bekerja, bercinta-kasih dengan keluarga, menonton sebuah televisi berukuran besar, menggunakan mesin cuci dan menyetel compact disc, bermain golf, memakan junk food, dan membeli pakaian renang.

Mark Renton (lelaki itu)—diperankan dengan ikonik oleh Ewan McGregor, dengan nafas yang sama sekali tak terengah-engah meskipun sedang berlari, menyebut kegiatan-kegiatan hidup semacam itu sebagai “pilihan”. Dan tentu, merampok supermarket dengan kedua temannya yang sama-sama tolol bukanlah salah satunya. Mereka terpaksa merampok, tapi setidaknya bahagia dan menyeringai sewaktu melakukannya.

Trainspotting dibuka dengan sekuens tolol semacam itu. Danny Boyle, sang sutradara, agaknya adalah seorang bajingan tengik tua berumur 64 tahun dengan selera humor yang kacau (atau tak bermoral, tapi apa salahnya tak bermoral bagi seorang seniman?) dan pribadi yang humanis. Ia cukup humanis karena mampu menerjemahkan budaya populisme para kapitalis di game show terkenal di dunia itu, Who Wants to Be a Millionaire lewat film Slumdog Millionaire (2008) yang berhasil memenangkan 8 piala Oscar sekaligus. Di sisi lain, ia juga cukup kacau dalam menertawakan manusia lewat kehidupan Renton dan teman-temannya yang digambarkan begitu berengsek dan mengisyaratkan pesan khas kaum distopia: bahwa hidup ke depan memang tak menjanjikan apa-apa, dan karenanya tak bermasalah jika dirusak. Mereka—Renton dan teman-temannya—menghirup heroin, merampok supermarket, merekam hubungan seks dengan pacar mereka sendiri, sampai melempari botol bir ke kepala seorang wanita yang sedang asyik-asyiknya mabuk sambil berjoget di dalam pub.

Mengadaptasi naskah dari novel cult karya Irvin Welsh—seorang sastrawan botak asal Skotlandia—dengan judul yang sama, Boyle berhasil membuat film berhumor gelap yang tragis dan merangsang rasa iba. Trainspotting tak hanya menceritakan usaha Renton untuk bangkit dari kehidupan pecandunya yang alkoholik dan amburadul. Ia, secara disadari maupun tidak, adalah bentuk kritik sosial Boyle terhadap kemapanan hidup yang menjadi panganan sehari-hari kaum upper class.

Ketika bertamasya dengan teman-temannya ke Corrour Station yang berbukit-bukit, dengan sandangan gembel—baju dan celana—yang warnanya tak harmonis sama sekali, Renton berteriak keras sambil duduk dan meminum wiski: “It’s shite being Scottish!”. Ia menerjemahkan posisi orang-orang Skotlandia, dalam satu kalimat panjang yang diucapkan sekali napas, sebagai “sampah peradaban paling sial, rendah, dan menyedihkan yang pernah ada di muka bumi.” Baginya, Inggris tak perlu dibenci para Scot (sebutan untuk orang Skotlandia) hanya karena mereka hina. Sebaliknya, ia dan teman-temannyalah yang harus malu karena telah dijajah dan ditindas oleh kehinaan.

Meskipun mengandung kritik sosial, bagi para moralis yang jiwa dan pikirannya tak cukup sensitif untuk paham bahwa keindahan hidup justru kadang ditemukan melalui kekonyolan-ketololan, Trainspotting hanyalah sebuah film yang menggambarkan kehidupan anak muda yang barbar dan—mungkin dalam beberap titik—mengampanyekan nihilisme. Padahal, Renton tentu bukan seorang nihilis. Meskipun pecandu narkoba dan pelaku seks bebas, ia dan teman-temannya tetap duduk tenang di dalam gereja sewaktu melepas kepergian temannya, Tommy (Kevin McKidd) yang mati menderita toxoplasma: penyakit mirip stroke yang disebabkan oleh virus protozoa dari bulu kucing.

Lagipula, penonton juga tak akan menemukan kampanye literasi sedikit pun dalam Trainspotting. Jalinan plot dan adegan film berkelindan dalam satu setengah jam durasinya, tanpa adanya scene ketika, misal, Renton bersembunyi di balik rak-rak Perpustakaan Kota Edinburgh setelah merampok supermarket sambil secara tak sengaja membaca buku-buku Nietzsche. Jika sekalipun secara praktis Renton ternyata memang seorang nihilis, Boyle tak menunjukkan bahwa Renton mampu melafalkan pengertian ideologis nihilisme dalam sekali napas atau kenal siapa itu Nietzsche.

Sebagai sebuah film bertemakan narkoba, Trainspotting juga tampak tak melarikan diri dari tanggung jawab sosialnya secara moral, terma yang sebenarnya agak berlebihan jika kita sedang membicarakan karya seni. Ketika dalam sebuah adegan komikal, Renton rela masuk ke dalam kloset duduk penuh bercak tahi milik The Worst Toilet in Scottland demi mengambil sebutir ekstasi, kita akan sadar bahwa kegilaan semacam itu tak perlu dilakukan dalam hidup. Ketololan Renton dan teman-temannya yang rela menjadi gembel di tempat Swanney (Peter Mullan) demi bisa terus membeli ekstasi juga berhasil membuat kita menjadi pengutuk narkoba secara tiba-tiba.

Karena kesan yang muncul semacam itu, seorang penonton yang sok tahu berani menerjemahkan Trainspotting sebagai “A Hillarious, Imaginative, and Very Anti-drugs Film” dengan menuliskan reviewnya di kolom komentar IMDb. Penerjemahan film semacam ini tentu baik dan tidak salah, meskipun agak berlebihan. Pengambilan kesimpulan secara tendensius bahwa sebuah film telah berhasil membawa tanggung jawab moral tertentu, menurut saya, justru merupakan budaya penikmatan karya seni yang kurang apresiatif.

Kampanye gerakan anti-narkoba tentu tak perlu susah-susah dilakukan Boyle dengan membuat sebuah film yang menghabiskan 1,5 juta Euro, yang 21 tahun setelah rilisnya, ia tetap menjadi bajingan tengik dengan membuat sekuelnya: T2 Trainspotting. Kampanye semacam itu cukup menjadi tugas para siswa SMA di Edinburgh, bekerja sama dengan Scottish Drugs Forum, atau apapun siapapun, berteriak-teriak di jalanan menggunakan ToA dan menulis poster-poster berisikan pesan bahwa narkoba bisa merusak hidup mereka.

Trainspotting sangat cukup dinikmati sebagai sebuah film komikal yang menghibur. Lagipula, Boyle tak akan pernah peduli dengan sanjungan para moralis yang merasa terbantu oleh keberadaan Trainspotting dalam menjalankan peran sosial mereka untuk melarang penyalahgunaan narkoba.

Dalam hal apresiasi karya seni, wejangan Gilles Deleuze (salah satu dari sedikit Filsuf Perancis yang menghubungkan relasi filsafat dan sinema) saya rasa tak selalu bisa dijadikan patokan. Dalam bukunya Cinema 1 dan Cinema 2, ia menyatakan bahwa pembahasan (pembahasan, bukan apresiasi) terhadap sebuah film punya tingkat yang sama berharganya dengan sidang-sidang terbuka yang membahas skripsi dan jurnal keilmuan secara akademis. Sutradara, sebagai pekerja seni, ia anggap tak hanya sama derajatnya dengan pelukis, sastrawan, pemain teater, atau tukang pegang mic sambil bernyanyi. Dalam bukunya, Deleuze justru menempatkan sutradara—dan orang yang terlibat dalam proses pembuatan film secara umum—sejajar dengan doktor, akademisi, bahkan filsuf sekalipun.

Agak berlebihan, memang. Melihat Trainspotting, saya tak merasa perlu membayangkan kengerian hidup teman-teman yang doyan meminum ciu dan menyimpan beberapa linting tembakau gorilla dalam celana jeans mereka yang sempit. Tanggung jawab semacam itu terlalu berat bagi saya, dan cukup menjadi tugas orang-orang pandai di BNN jika mereka memang benar-benar bekerja.

Saya cukup menikmati Trainspotting sebagai olok-olok dan perlawanan Boyle terhadap rasa haus akan kenyamanan dan kemapanan hidup, yang menurut Hawksley (2014) dalam reviewnya di The Telegraph, Trainspotting sudah mirip dengan t-shirt bergambar Che Guevara yang datang mewakili pemberontakan kaum muda yang begitu ideal dan mudah diakses. Lagipula, kegilaan dan keberengsekan Renton ketika diusir sambil melepaskan kondom dari kamar Diane (Kelly Macdonald)—yang buah dadanya belum terlalu tumbuh—sudah cukup membuat saya terhibur sambil memegang rambut dan mengernyitkan dahi. Kegiatan Renton dan teman-temannya yang penuh dengan kebusukan, ketololan, dan pengabaian nilai-nilai moral justru membuat saya paham bahwa hidup memang akan selalu mengecewakan, meskipun dalam beberapa hal sarat dengan keindahan.

Setelah Trainspotting dianggap sebagai fenomena budaya, kehidupan telah berputar selama 21 tahun ketika sekuelnya dengan imbuhan T2 pada bagian awal judul dirilis. Boyle masih menjadi lelaki tua yang kacau dengan menggunakan pemain-pemain yang sama. Pada T2 Trainspotting, Ewan McGregor pastilah telah menjadi lelaki dewasa yang beruban, dan Kelly Macdonald telah menjadi ibu-ibu dengan buah dada yang ranum dan—mungkin—kendor dan hitam. Saya belum menontonnya sampai sekarang. Tampaknya, akan menjadi ide yang tak terlalu buruk untuk menontonnya lima atau sepuluh tahun lagi ketika sadar bahwa saya juga semakin menua, tetap menulis ulasan film dengan bahasa-bahasa yang kotor, sambil menciumi bibir kekasih saya yang merah dan lipatannya sederhana.

Facebook Comments