A password will be e-mailed to you.

Bagi yang menderita ruhani dan akalnya, tertindas haknya, yang kesulitan dalam memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup, yang hanya memiliki hal-hal kecil yang bahkan orang menilainya sebagai standar terendah kebahagiaan, aku tegaskan bahwa aku pun bagian dari mereka. Tuhan telah mengajak mereka melewati lorong-lorong kegelapan yang sunyi sebagai cara efektif untuk menikmati hakikat kehidupan, sama halnya seperti bagaimana caraNya mengajakku berkeliling melihat kehidupan dari sudut pandang kesedihan dan ketidakberdayaan tanpa Tuhan. Di dunia mereka ditempa untuk menjadi pribadi yang kuat dan kebal terhadap ketertindasan, tetapi sejatinya mereka sedang dilatih Tuhan untuk “berpuasa” agar nantinya dapat menikmati kebahagiaan sejati saat sudah sampai di halaman rumahNya.

“Hidup itu hanya sebatas mempertahankan hidup, makan ketika lapar, minum supaya tidak kehausan, sesekali pergi ke konser musik atau pertunjukan wayang mencari hiburan, serta menunggu giliran, atau bahkan berlomba-lomba untuk sampai di halaman rumah Tuhan.”, kata mereka. Juara perlombaan akan mendapat hadiahnya masing-masing. Ada yang menatap Dzat-Nya, ada yang mendapat kesempatan untuk memeluk kekasihNya, ada yang dihinakan dihadapanNya, ada yang mendapat surga, ada yang neraka, atau ada yang masih membuat Tuhan bingung tentang hadiah apa yang cocok diberikan untuknya, sehingga dibiarkanNya untuk sekedar main-main di halaman rumah Tuhan sembari menunggu keputusanNya.

Sungguh Tuhan telah menjamu kita dengan jamuan yang luar biasa. Katanya, dunia itu rumahNya, dan kita adalah tamu di dalamnya. Loh, kok? Bukankah di dunia kita sedang berlomba-lomba untuk~malahan~mencapai halaman rumahNya dengan selamat? Belumkah kita sampai kesitu karena kita pun sekarang sudah berada di rumahNya yang disebut dengan dunia? Ataukah kita masuk ke rumahNya tanpa terlebih dahulu menginjakkan kaki di halamannya? Atau bagaimana? Ya, mungkin singkatnya bisa begitu. Atau kemungkinan lain, halaman rumah yang kita sedang berlomba untuk mencapainya adalah halaman di rumahNya dengan konstruksi bangunan yang lebih bagus, dinding-dinding dengan warna cat yang sama sekali berbeda dengan seluruh spektrum warna yang ada di dunia, jendela dengan material yang lebih unik, pintu yang lebih luas, dan mungkin~atau malah pasti~dengan dimensi ruang dan waktu yang sama sekali tidak sama dengan rumahNya dimana kita bertempat tinggal sekarang.

Betapa sejatinya kita lupa untuk mempunyai kerinduan dan memupuk kecintaan kepada Tuhan. Betapa kita malah sibuk untuk merasakan jamuan Tuhan yang tidak ada habisnya. Betapa Tuhan memanjakan dan ngelulu kita, sampai-sampai kita lupa kalau bahkan kita belum sampai di halaman rumahNya yang sejati. Dan pada akhirnya, tiba-tiba kita sudah sampai di sana dalam keadaan kenyang dengan jamuan di rumah sebelumnya, bahkan tanpa menyisakan sedikitpun untuk Tuhan. Padahal, sepertinya, diam-diam Tuhan mengharap oleh-oleh dari kita, bahkan hanya sisa jamuan dari rumahNya sendiri.

Facebook Comments