A password will be e-mailed to you.

Minggu lalu, sepulang dari rutinitas menjalani kuliah, ngopi, dan tentu saja mengobrol dengan teman-teman, saya merenungi kembali keinginan untuk tidak menikah. Alasan mengapa saya sering merenungkan itu adalah karena sekalipun tidak ingin menikah, saya ingin memiliki seorang puteri dan mendidik dia dengan baik. Saya ingin ia paham bahwa intensi pribadi lebih penting daripada intensi umum: indikator-indikator membosankan yang sering dijadikan kurikulum resmi di sekolah, kuliah, dan tempat kerja. Kurikulum yang sering ditangkap sebagai pencapaian-pencapaian wajib: apa itu hidup yang baik: nilai baik, punya banyak relasi dan uang, menjaga kesucian-kesucian tertentu, dan lain-lain.

Akhirnya saya bicarakan hal ini pada Tuhan, bahwa punya anak atau tidak, saya berterima kasih atas keluarga yang saya miliki sekarang, yang bagaimanapun menjadi semangat menjalani rutinitas di perantauan.

Saya bilang pada Tuhan bahwa dalam kemiskinan hidup, ayah, ibu, dan adik saya adalah “kenikmatan” yang sangat saya cintai. Nikmat itu seperti hidup dalam istana: makan enak, bercanda, berebut PlayStation, dan menonton TV sambil membantu ibu memetiki daun kangkung. Ditambah kemewahan memiliki adik sepupu yang cantik, Tong Ci dan Cendil. Mereka semua adalah “rejeki,” “kekayaan,” atau “harta” yang tidak mungkin saya capai tanpa Tuhan dan karenanya tidak bisa saya sombongkan.

Mungkin pernyataan ini hanya dimengerti orang miskin, saya rasa salah satunya Bunda Maria. Dalam Injil, Tuhan memberikan Yesus secara cuma-cuma dan Maria menerimanya sebagai anak yang sangat ia kasihi. Berikutnya sampai Yesus pergi mengajar di berbagai kota, Maria terus hidup sebagai perempuan jelata Yerusalem dan tidak bisa menyombongkan apa-apa. Kita sama sepertinya: dikaruniai ayah, ibu, dan kakak-adik. Bedanya, beberapa dari kita tidak terima terus hidup miskin.

Apa yang Dilakukan Nikmat Lainnya?

Kenikmatan lain, sebaliknya, saya anggap sebagai bentuk ketidakpuasan manusia terhadap satu kekayaan saja—keluarga. Dan nikmat itu bisa dicapai tanpa melibatkan Tuhan, tapi dengan kerja keras manusia untuk lepas dari kemiskinan, untuk memperoleh apa yang tadi saya sebut pencapaian “wajib”. Saya yakin kalau yang menikahi Bunda Maria bukan Yusuf, tukang kayu dari Nazareth, melainkan gubernur Roma di Yerusalem atau Galilea, atau pemungut cukai di kota-kota Israel, Kisah Sengsara Yesus Kristus mungkin akan lebih sedikit ditemani Bunda Maria karena adanya kenikmatan harta hasil pencapaian suaminya.

Ya, saya percaya ada kenikmatan yang bisa dicapai manusia tanpa melibatkan Tuhan dan karenanya ia pantas disombongkan. Bukan bermaksud meremehkan Tuhan. Dalam benak saya, pencapaian mereka semata-mata adalah hasil dari faktor pendidikan, pasar, cuaca politik, dan kondisi duniawi yang bisa dijelaskan oleh ahli ekonomi atau sosiologi. Investor handal akan kaya, seorang haji pasti bakal dihormati, sepasang pakaian berkelas sudah barang tentu dipuji, dan sutradara berbakat yang memenangkan Palme d’Or di Cannes mungkin akan dianggap setara dengan nabi.

Kalau ada teman mengaku tidak melibatkan Tuhan dalam persiapan masuk universitas dulu, saya percaya. Sebab lembar jawab diisi menggunakan pensil, kisi-kisi ada di Wangsit dan Zenius, belajar bisa jauh-jauh hari, otak konsentrasi dengan air, jawaban benar bernilai empat skor, dan, voila! Dia lolos ujian dan sekarang sekelas dengan saya, yang sebelum ujian dulu menangis menghadap Tuhan karena tidak ada uang untuk mengikuti ujian lainnya.

Dan jangan-jangan, banyak orang yang, sama dengan saya, percaya bahwa Tuhan memang tidak membantu usaha mereka mencapai kenikmatan itu. Jika ya, maka pantas saja pencapaian mereka berujung pada “Saya berhasil!”, “Saya hebat!”, atau, “Not even God himself could sink this ship! (re: Titanic)

Lantas, sebenarnya, konsekuensi kesombongan ini tidak relevan. Jika percaya pada ketidakikutsertaan Tuhan atas pencapaian mereka, maka dapat dikatakan bahwa kegagalan mereka yang tidak melibatkan Tuhan juga merupakan hasil dari kondisi duniawi tadi. Dan ketika mereka benar-benar percaya dengan sesuatu yang juga saya yakini ini, maka ketika mereka gagal solusinya adalah “Don’t give up!”

Kemewahan Kopi, Rokok, Sepupu

Apapun risiko kesombongan itu, saya bersyukur memiliki nikmat keluarga kandung dan adik sepupu sebagai harta, rejeki, kekayaan saya, yang tidak perlu susah-susah saya sombongkan. Saya tidak mau berada di antara mereka yang capek-capek bekerja pagi sampai lembur, mengikuti kepanitiaan sana-sini, berfoto untuk diunggah ke media sosial, dan hal remeh-temeh lain demi kenikmatan dan pencapaian “wajib” tadi.

Saya lebih suka menyikapi pencapaian kenikmatan seperti yang dilakukan Donal Bebek dalam The Three Caballeros Ride Again (2000). Ketika ditanya apa yang akan ia lakukan dengan harta karun 24 kwintal logam perak yang ia temukan bersama José Carioca dan Panchito, Donal menjawab: “Aku akan menggunakannya untuk biaya kuliah keponakan-keponakanku”. Bebek miskin yang sering sial dan diperlakukan kasar oleh Gober Bebek, pamannya yang dijuluki “Bebek Terkaya di Dunia,” itu pasti terlalu minder kalau diminta menyombongkan delapan kwintal logam perak.

Setelah uang habis untuk membiayai kuliah keponakan, membayar pajak rumah ibu, atau iuran biaya pemakaman pakdhe, saya akan suka punya waktu untuk kopi, rokok, ngisis siang-siang, atau mengamati gadis-gadis cantik yang lewat di depan rumah. Di tengah kemiskinan, saya rasa tidak ada keperluan untuk sombong dan pamer, yang lagipula tidak nikmat. Dan di akhir hari, saya masih bisa ngudang putri saya atau menelepon dan menanyai kabar sepupu yang kelak pasti bertambah cantik, Tong Ci dan Cendil.

Facebook Comments