A password will be e-mailed to you.

Borjuasi sebagai konflik dalam film ini digambarkan dengan hidupnya seorang borjuis pemilik hotel, tanah, dan banyak bangunan bernama Aydin yang menyewakan rumahnya kepada seorang pengangguran mantan narapidana bernama Ismail di Kapadokia, sebuah desa bersalju di Anatolia, Turki. Sementara, isu tentang kesetaraan gender dapat diangkat melalui usaha Nihal (istri Aydin) lepas dari pengekangan dan ketergantungan suaminya yang begitu angkuh—tetapi secara paradoksal begitu mencintainya.

Aydin yang menjadi tokoh utama dalam film ini, adalah seorang lelaki tua yang menikah dengan wanita muda bernama Nihal (Melisa Sozen). Selisih usia keduanya yang cukup jauh membuat Aydin dan Nihal tampil di dalam film sebagai sepasang suami istri yang berhubungan secara transaksional. Mereka bukanlah sepasang suami istri yang sering menyempatkan diri bertemu dan berbicara tentang banyak hal, tetapi hanya sempat berbincang pada kesempatan makan malam keluarga atau acara-acara besar yang diselenggarakan di hotel mereka yang terbuat dari pahatan batu.

Isu borjuasi yang identik dengan penguasaan kapital dan ketertindasan kaum cilik juga menjadi sorotan dalam film ini. Sebagai film beraliran realisme, Nuri Bilge Ceylan tidak menggambarkan isu-isu sosial yang terdapat dalam film secara simbolis. Borjuasi, secara sederhana hanya digambarkan melalui ketidakmampuan Ismail membayar sewa rumah sederhana milik Aydin yang ia tempati bersama keluarganya. Ketidakmampuan Ismail untuk membayar sewa ini kemudian melibatkan adik laki-lakinya bernama Hamdi (Serhat Mustafa). Dalam konflik pembayaran sewa yang tertunda ini, Hamdi menempati peran sebagai peredam konflik antara militansi kaum marginal (Ismail) dengan keangkuhan kaum borjuis (Aydin).

Adapun isu kesetaraan gender dalam film ini tidak diartikan secara materialis sebagai kondisi ketika laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan, mendapatkan, dan memperoleh sesuatu. Kesetaraan yang hendak diangkat dalam film ini hanya diwakilkan oleh keinginan Nihal untuk mempunyai kebebasan dalam melakukan hal yang ia sukai (dalam film ini ia selalu berusaha mengadakan pengumpulan donasi) tanpa campur tangan Aydin sebagai suaminya. Akan tetapi, ironisnya Nihal tidak merasa mempunyai justifikasi untuk itu karena segala kenyamanan, pemenuhan kebutuhan, dan biaya hidupnya diurus oleh Aydin. Hal inilah yang kemudian membuat Nihal dan Aydin sama-sama muncul sebagai orang dengan self-esteem yang tinggi sehingga memunculkan perselisihan-perselisihan kecil sepanjang film namun justru membuat cerita terlihat kompleks.

Berbeda dengan jalan cerita film pada umumya di mana konflik inti selalu mengalami fase klimaks dan antiklimaks, Winter Sleep menyuguhkan konflik-konflik kecil sepanjang film melalui perdebatan dan dialog antartokoh yang tampak remeh namun bernilai; idealisme, pandangan tentang arti kebahagiaan hidup, ambisi, dan kedekatan manusia dengan Tuhan. Dengan gaya realis khas film-film festival yang berbeda dengan film drama pada umumnya, kehidupan keluarga Aydin dan Nihal tidak digambarkan sebagai kehidupan suami-istri yang dipenuhi adegan percintaan yang dramatis, akan tetapi justru tampak menarik karena penuh dengan pertikaian dan perdebatan yang dilandasi oleh kepedulian dan rasa cinta.

Aydin adalah seorang pria tua yang berambisi untuk mengembangkan bisnis propertinya dan menulis buku tentang sejarah Teater Turki yang selain karena merupakan ambisi pribadinya, ia melakukannya atas nama kepentingan keluarga. Sementara istrinya, Nihal adalah seorang wanita yang sudah cukup merasa bahagia dalam hidupnya yang begitu membosankan sehingga muncul keinginan mulia untuk membantu Ismail, orang yang menyewa tanah dan rumahnya untuk bertempat tinggal. Pandangan hidup dan ambisi yang kian lama kian membesar—tetapi saling bertolak belakang—antara Aydin dan Nihal inilah yang berhasil dikemas Nuri Bilge Ceylan menjadi sebuah film drama realis yang sederhana namun tetap berkelas karena tidak diliputi oleh konflik yang terkesan memaksa dan terlalu menggebu-gebu.

Di dalam dunia seni aliran realisme, hal yang justru penting adalah menghadirkan ketidaksempurnaan hidup melalui seni. Winter Sleep sebagai produk kesenian berupa film telah berhasil menempati peran ini, dibuktikan dengan diberikannya penghargaan Palme d’Or—penghargaan paling bergengsi di Festival Film Cannes—kepada film ini. Sebagai sebuah film, Winter Sleep dengan sengaja sangat meminimalisir adanya backsound yang mendukung nuansa penceritaan dan setting film. Seperti karya-karya Nuri Bilge Ceylan yang lain, Winter Sleep merupakan sebuah film drama realis yang sederhana, dipenuhi konflik-konflik kecil yang bertebaran sepanjang film, dan memiliki sinematografi yang sangat baik. Nuri Bilge yang memang seringkali sengaja membuat film untuk diikutkan dalam festival-festival film internasional membuat filmnya tidak selalu sesuai dengan market preference. Film-film festival memang seringkali hanya menyasar sebagian kecil pasar dan tidak dibuat untuk memperoleh keuntungan komersial. Hal ini ditunjukkan dengan fakta bahwa untuk ukuran film yang telah mendapat penghargaan tertinggi di Cannes, Winter Sleep tergolong film yang sangat kurang jika dilihat dari segi popularitas. Hal ini, mungkin pula dilatarbelakangi oleh durasi film yang begitu panjang sehingga membuat penonton yang tidak biasa menikmati film sejenis ini merasa bosan. Meskipun begitu, film-film festival sejenis dengan Winter Sleep seperti ini telah berhasil mendobrak kejumudan selera konsumen yang tipikal di tengah industri perfilman yang penuh dengan film-film komersial.

Facebook Comments